DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

 

                                    

ABSTRAK    i

ABSTRACT    ii

KATA PENGANTAR    iii

DAFTAR ISI    vi

DAFTAR TABEL    ix

DAFTAR GAMBAR    xii

DAFTAR LAMPIRAN    xiii

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Penelitian    1                                
  2. Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah    9        
  3. Tujuan Penelitian    10
  4. Kegunaan Penelitian    10

BAB II KAJIAN PUSTAKA,KERANGKA PEMIKIRAN,DAN HIPOTESIS

  1. Kajian Pustaka    12

2.1.1    Perilaku Konsumen    12

2.1.1.1 Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pembelian Konsumen    13

2.1.1.2 Proses Keputusan Pembelian Konsumen    15

  1. Pengetahuan Konsumen Terkait Dengan Perbankan Syariah    17

    2.1.2.1 Pengertian Pengetahuan Konsumen    17

    2.1.2.2 Jenis Pengetahuan Konsumen    18

    2.1.2.3 Pengertian Bank Syariah    27

    2.1.2.4 Prinsip Bank Syariah    27

    2.1.2.5 Pengelolaan Bank Syariah dan Bank Konvensional    28

    2.1.2.6 Prinsip Dasar Produk Bank Syariah    29

2.2 Kerangka Pemikiran    32

2.3 Hipotesis    41        

BAB III METODE PENELITIAN                            

3.1 Metode yang Digunakan    42            

3.2 Operasionalisasi Variabel    43

3.3 Sumber dan Cara Penentuan Data    46

  1. Jenis dan Sumber Data    46
  2. Cara Penentuan Data    47

3.4 Teknik Pengumpulan Data    49

3.5 Rancangan Analisis dan Pengujian Hipotesis    50

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Gambaran Umum (Profil) Bank Syariah Mandiri    65
    1.     Kronologis Perkembangan Bank Syariah Mandiri    65
    2. Visi, Misi, dan Budaya Perusahaan    68
    3. Tujuan dan Strategi Bank Syariah Mandiri    71
    4. Struktur Organisasi Bank Syariah Mandiri    72
    5. Produk dan Jasa Bank Syariah Mandiri    72
  2. Karakteristik Nasabah    75
  3. Pengetahuan Konsumen (Consumer Knowledge) Mengenai Perbankan Syariah dan Keputusannya Menjadi Nasabah pada PT Bank Syariah Mandiri Tbk Cabang Bandung Jl. Ir. H. Djuanda No.74    82
  4. Pengaruh Pengetahuan Konsumen (Consumer Knowledge) Mengenai Perbankan Syariah Terhadap Keputusan Menjadi Nasabah    106
  5. Jenis Pengetahuan Konsumen yang Paling Menentukan Untuk Menjadi Nasabah    111

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

    5.1     Kesimpulan    114

    5.2     Saran    116

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN


 

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR GAMBAR

 

 

                                     Halaman

Gambar 2.1    Faktor yang mempengaruhi perilaku pembelian konsumen    15

Gambar 2.2    Model Pengambilan Keputusan Pembelian Konsumen    36

Gambar 2.3    A Means-End Chain of Consumers’ Product Knowledge    37

Gambar 2.4    Lima Tahap Proses Pembelian Konsumen    39

Gambar 2.5    Paradigma Penelitian    40

Gambar 4.1    Struktur Perusahaan Bank Syariah Mandiri Bandung    72


 

Pengetahuan Konsumen

 

ABSTRAK

Fenty Rismayanti, B1C01114. “Pengetahuan Konsumen Mengenai Perbankan Syariah dan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Menjadi Nasabah padaPT Bank Syariah Mandiri Tbk Cabang Bandung”. Skripsi FE UNPAD 2005. Dibimbing oleh Prof. Dr.Hj.Dwi Kartini,SE.,Spec.Lic dan Rita Komaladewi,SP.,MM

Pengetahuan Konsumen adalah semua informasi yang dimiliki konsumen mengenai berbagai macam produk/jasa yang meliputi pengetahuan atribut, manfaat, dan nilai kepuasan produk. Pengetahuan konsumen juga merupakan salah satu faktor dalam unsur psikologis yang mempengaruhi keputusan konsumen.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah dan keputusan menjadi nasabah, untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pengetahuan konsumen terhadap keputusan menjadi nasabah, dan untuk mengetahui jenis pengetahuan konsumen yang paling menentukan keputusan menjadi nasabah. Ditinjau dari tujuannya, penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dan verifikatif. Metode analisis yang digunakan adalah metode kualitatif dan kuantitatif.

Penelitian dilakukan menggunakan teknik survei dengan menyebarkan kuesioner kepada 100 nasabah dana pihak ketiga dengan metode simple ramdom sampling, kemudian dilakukan uji validitas dan realibilitas terhadap data yang diperoleh.

Mengacu pada hasil pengolahan dan analisis data, penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan konsumen cenderung kurang baik pada item atribut produk, dan baik pada item manfaat serta nilai kepuasan produk karena mayoritas responden menjawab kurang mengetahui dan mengetahui terhadap variable yang diteliti. Selain itu, berdasarkan output regresi multiple, hasil koefisien determinasi membuktikan terdapat pengaruh sebesar 36,3% antara variable X terhadap variabel Y, kemudian melalui perhitungan koefisien regresi parsial dapat ditelusuri jenis pengetahuan yang paling berkontribusi terhadap keputusan menjadi nasabah berturut-turut yaitu pengetahuan manfaat dan nilai kepuasan produk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ABSTRACT

Fenty Rismayanti, B1C01114. “Consumer Knowledge of Sharia Banking and The Influence Toward Consumer Decision To Become Customer at Syariah Mandiri Banking Bandung”. Tutelage by Dr. Hj. Dwi Kartini, SE., Spec.Lic and Rita Komaladewi, SP., MM

Consumers’ knowledge is the amount of experience with and information about particular products or services a person has which is consist of all the information that consumer`s have about the variety of products/services, including the informations about attribute, benefits, dan the value of product`s satisfaction. It is also one of the factors on psychological that affect consumer`s decision making.

As recommended of this research, the purposes are to know the consumer`s knowledge about sharia banking and consumer decision making, to know how far the consumer`s knowledge affect a decision to be a customer of sharia banking, and to know which is the most affected kind of consumer`s knowledge to be a customer of sharia banking. Through the purposes, it classified as descriptive and verificative research, included qualitative and quantitative analysis.

This research uses survey technique with questionnaires spread out to 100 customer of saving deposits, using a method of simple random sampling, and then check the data using validity and reability test.

Based on result and data analysis, the research shows that the majority of responder’s answers are less know about product`s attribute item, and know enough on benefit also the value of product`s satisfaction item. According regression output, viewed from determination coefficient, it is proven that there is an influence for about 36,3% between X variable and Y variable. Further more, from the calculation of partial regression coefficient, it is acquired kind of knowledge that give significant contribution to responder decision making for become customer, as follows kind of benefits and product`s values satisfaction.


 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

  1. Gambaran Umum (Profil) Bank Syariah Mandiri
    1. Kronologis Perkembangan Bank Syariah Mandiri

    Krisis moneter dan ekonomi sejak Juli 1997, yang disusul dengan krisis politik nasional telah membawa dampak besar dalam perekonomian nasional. Krisis tersebut telah mengakibatkan perbankan Indonesia yang didominasi oleh bank-bank konvensional mengalami kesulitan yang sangat parah. Keadaan tersebut menyebabkan pemerintah Indonesia terpaksa mengambil tindakan untuk merestrukturisasi dan merekapitalisasi sebagian bank-bank di Indonesia.

    Lahirnya Undang-Undang No. 10 tahun 1998, tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan, pada bulan November 1998 telah memberi peluang yang sangat baik bagi tumbuhnya bank-bank syariah di Indonesia. Undang-Undang tersebut memungkinkan bank beroperasi sepenuhnya secara syariah atau dengan membuka cabang khusus syariah.

    PT. Bank Susila Bakti (PT. Bank Susila Bakti) yang dimiliki oleh Yayasan Kesejahteraan Pegawai (YKP) PT. Bank Dagang Negara dan PT. Mahkota Prestasi berupaya keluar dari krisis 1997 – 1999 dengan berbagai cara. Mulai dari langkah-langkah menuju merger sampai pada akhirnya memilih konversi menjadi bank syariah dengan suntikan modal dari pemilik.

    Dengan terjadinya merger empat bank (Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, BankExim dan Bapindo) ke dalam PT. Bank Mandiri (Persero) pada tanggal 31 Juli 1999, rencana perubahan PT. Bank Susila Bakti menjadi bank syariah (dengan nama Bank Syariah Sakinah) diambil alih oleh PT. Bank Mandiri (Persero).

    PT. Bank Mandiri (Persero) selaku pemilik baru mendukung sepenuhnya dan melanjutkan rencana perubahan PT. Bank Susila Bakti menjadi bank syariah, sejalan dengan keinginan PT. Bank Mandiri (Persero) untuk membentuk unit syariah. Langkah awal dengan merubah Anggaran Dasar tentang nama PT. Bank Susila Bakti menjadi PT. Bank Syariah Sakinah berdasarkan Akta Notaris : Ny. Machrani M.S. SH, No. 29 pada tanggal 19 Mei 1999. Kemudian melalui Akta No. 23 tanggal 8 September 1999 Notaris : Sutjipto, SH nama PT. Bank Syariah Sakinah Mandiri diubah menjadi PT. Bank Syariah Mandiri.

    Pada tanggal 25 Oktober 1999, Bank Indonesia melalui Surat Keputusan Gubernur Bank Indonesia No. 1/24/KEP. BI/1999 telah memberikan ijin perubahan kegiatan usaha konvensional menjadi kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah kepada PT. Bank Susila Bakti. Selanjutnya dengan Surat Keputusan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia No. 1/1/KEP.DGS/1999 tanggal 25 Oktober 1999, Bank Indonesia telah menyetujui perubahaan nama PT. Bank Susila Bakti menjadi PT. Bank Syariah Mandiri.

    Senin tanggal 25 Rajab 1420 H atau tanggal 1 November 1999 merupakan hari pertama beroperasinya PT. Bank Syariah Mandiri. Kelahiran Bank Syariah Mandiri merupakan buah usaha bersama dari para perintis bank syariah di PT. Bank Susila Bakti dan Manajemen PT. Bank Mandiri yang memandang pentingnya kehadiran bank syariah dilingkungan PT. Bank Mandiri (Persero).

    PT Bank Syariah Mandiri berkantor pusat di Gedung Bank Syariah Mandiri yang terletak di Jl. MH.Thamrin No.5 Jakarta 10340; Telp. (021)2300509; Fax. (021)2303747; Homepage:www.syariahmandiri.co.id. Bank Syariah Mandiri didirikan pada tanggal 25 Oktober 1999 dengan dukungan sekitar 959 karyawan. Pada saat itu terkumpul modal dasar sebesar Rp 1.000.000.000.000,00 serta modal yang disetor Rp 358.372.565.000,00.

    Bank Syariah Mandiri kini beroperasi dengan 30 buah kantor cabang, enam diantaranya berada di Jakarta serta sisanya tersebar di beberapa kota besar di tanah air, dan 4 kantor cabang pembantu. Selain itu, terdapat pula 30 kantor kas dan 1300 jaringan ATM bersama di seluruh Indonesia sebagai hasil kerjasama Bank Syariah Mandiri dengan Bank Mandiri (Persero).

    Bank Syariah Mandiri berdiri dan mulai beroperasi pada saat kondisi perekonomian dan perbankan kurang kondusif. Meskipun demikian, perusahaan tetap mampu bertahan dan melaksanakan kegiatan operasionalnya termasuk menyalurkan modal bagi para pengusaha dengan baik. Selain itu, kegiatan-kegiatan social pun kerap dilakukannya dalam bentuk kegiatan donor darah, pemberian sumbangan, sponsorship kegiatan ilmiah dan lainnya.Walaupun usianya masih tergolong muda, Bank Syariah Mandiri telah mencapai prestasi dan kinerja yang cukup membagakan. Peningkatan ini tercermin dari keberhasilan perusahaan menjadi peringkat ke-49 dari 150 bank terbaik di Indonesia berdasarkan rating majalah Infobank 2001.

    PT. Bank Syariah Mandiri hadir sebagai bank yang mengkombinasikan idealisme usaha dengan nilai-nilai rohani yang melandasi operasinya. Harmoni antara idealisme usaha dan nilai-nilai rohani inilah yang menjadi salah satu keunggulan PT. Bank Syariah Mandiri sebagai alternatif jasa perbankan di Indonesia.

  1. Visi, Misi, Prinsip, dan Budaya Perusahaan
  • Visi

        Menjadi Bank Syariah Terpercaya Pilihan Mitra Usaha

  • Misi
    • Menciptakan suasana pasar perbankan syariah agar dapat berkembang dengan mendorong terciptanya syarikat dagang yang terkoordinasi dengan baik
    • Mencapai pertumbuhan dan keuntungan yang berkesinambungan melalui sinergi dengan mitra strategis agar menjadi bank syariah terkemuka di Indonesia yang mampu meningkatkan nilai bagi para pemegang saham dan memberikan kemaslahatan bagi masyarakat luas
    • Mempekerjakan pegawai yang profesional dan sepenuhnya mengerti operasional perbankan syariah
    • Menunjukkan komitmen terhadap standar kinerja operasional perbankan dengan pemanfaatan teknologi mutakhir, serta memegang teguh prinsip keadilan, keterbukaan dan kehati-hatian
    • Mengutamakan mobilisasi pendanaan dari golongan masyarakat menengah dan ritel, memperbesar portofolio pembiayaan untuk skala menengah dan kecil, senta mendorong tenwujudnya manajemen zakat, infak dan shadaqah yang lebih efektif sebagai cerminan kepedulian sosial
    • Meningkatkan permodalan sendiri dengan mengundang perbankan lain, segenap lapisan masyarakat dan investor asing.
  • Prinsip Syariah

    Prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang sesuai dengan syariah.

    Bank Syariah adalah Bank Umum yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. (UU No. 10 tahun 1998 tentang Perubahan UU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan).

    • Prinsip Operasi Bank Syariah

Bank Syariah menganut prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Prinsip_Keadilan
    Prinsip ini tercermin dari penerapan imbalan atas dasar bagi hasil dan pengambilan margin keuntungan yang disepakati bersama antara Bank dan Nasabah.
  2. Prinsip_Kemitraan
    Bank Syariah menempatkan nasabah penyimpanan dana, nasabah pengguna dana, maupun Bank pada kedudukan yang sama dan sederajat dengan mitra usaha. Hal ini tercermin dalam hak, kewajiban, resiko dan keuntungan yang berimbang di antara nasabah penyimpan dana, nasabah pengguna dana maupun Bank. Dalam hal ini bank berfungsi sebagai intermediary institution lewat skim-skim pembiayaan yang dimilikinya.
  3. Prinsip_Keterbukaan
    Melalui laporan keuangan bank yang terbuka secara berkesinambungan, nasabah dapat mengetahui tingkat keamanan dana dan kualitas manajemen bank.
  4. Univeralitas
    Bank dalam mendukung operasionalnya tidak membeda-bedakan suku, agama, ras dan golongan agama dalam masyarakat dengan prinsip Islam sebagai rahmatan lil’alamiin.
  • Budaya Perusahaan

    Bank Syariah Mandiri sebagai bank yang beroperasi atas dasar prinsip syariah Islam menetapkan budaya perusahaan yang mengacu kepada sikap akhlaqul karimah (budi pekerti mulia), yang terangkum dalam lima pilar yang disingkat SIFAT, yaitu :

    • Siddiq
      (Integritas)
      Menjaga Martabat dengan Integritas. Awali dengan niat dan hati tulus, berpikir jernih, bicara benar, sikap terpuji dan perilaku teladan.
    • Istiqomah (Konsistensi)
      Konsisten adalah Kunci Menuju Sukses. Pegang teguh komitmen, sikap optimis, pantang menyerah, kesabaran dan percaya diri.
    • Fathanah (Profesionalisme)
      Profesional adalah Gaya Kerja Kami. Semangat belajar berkelanjutan, cerdas, inovatif, terampil dan adil.
    • Amanah (Tanggung-jawab)
      Terpercaya karena Penuh Tanggung Jawab. Menjadi terpercaya, cepat tanggap, obyektif, akurat dan disiplin
    • Tabligh (Kepemimpinan)
      Kepemimpinan Berlandaskan Kasih-Sayang. Selalu transparan, membimbing, visioner, komunikatif dan memberdayakan.

4.1.3    Tujuan dan Strategi Perusahaan

Sesuai misinya menjadi bank syariah terpercaya pilihan mitra usaha, BSM bertekad untuk memberikan kemaslahatan bagi masyarakat luas dan turut serta meningkatkan kesejahteraan di atas landasan ekonomi syariah. Tekad tersebut ditegakkan di atas empat prinsip utama (keadilan, kemitraan, keterbukaan, dan universalitas).

Adapun maksud universalitas adalah tekad pelayanan pada seluruh golongan masyarakat di Indonesia, tanpa membedakan latar belakang suku, agama, dan ras. Hal itu, lanjutnya, selaras dengan keyakinan bahwa ajaran Islam adalah pembawa rahmat kepada seluruh alam.

Strategi yang digunakan Bank Syariah Mandiri adalah Aggressive Maintenance Strategy. Dalam peningkatan volume bisnis, sepanjang tahun keempat ini, PT Bank Syari’ah Mandiri terus melakukan perburuan nasabah baru melalui penyediaan beragam produk dan pelayanan, sosialisasi proaktif, promosi terarah, kegiatan pemasaran serta pelayanan yang lebih prima.

 

  1.     Struktur Organisasi Bank Syariah Mandiri


 

Gambar 4.1 Struktur Perusahaan Bank Syariah Mandiri Bandung

Sumber : Bank Syariah Mandiri Cabang Bandung Utama

 

 

  1.     Produk dan Jasa Bank Syariah Mandiri

Produk-produk bank syariah telah sesuai dengan prinsip dan kaidah muamalah Islam (halal) antara lain; tidak ada unsur riba dan menerapkan zakat harta. Dengan demikian nasabah merasakan ketentraman lahir maupun batin. Sepanjang tahun 2002, produk dan jasa pelayanan yang telah dipasarkan meliputi produk-produk pendanaan, pembiayaan, dan jasa-jasa layanan lainnya.

  • Pendanaan, meliputi kegiatan menghimpun dana :

    Tabungan : Tabungan yang dikelola berdasarkan prinsip Mudharabah Al-Muthlaqah. Dengan prinsip ini, dana nasabah diperlakukan sebagai investasi yang selanjutnya disalurkan untuk aktivitas pembiayaan. Bank memberikan keuntungan dari pembiayaan tersebut dalam bentuk bagi hasil.

    • Tabungan BSM
    • Tabungan BSM Dollar
    • Tabungan Mabrur BSM
    • Tabungan Kurban BSM
    • BSM Investa Cendekia

    Deposito : Deposito yang dikelola berdasarkan prinsip Mudharabah Al-Muthlaqah. Dengan prinsip ini, dana nasabah diperlakukan sebagai investasi yang selanjutnya disalurkan untuk aktivitas pembiayaan. Bank memberikan keuntungan dari pembiayaan tersebut dalam bentuk bagi hasil.

    • Deposito BSM
    • Deposito BSM Valas

    Giro : Giro yang dikelola berdasarkan prinsip Wadiah yad Adh-Dhamamah, dimana dana nasabah akan diperlakukan sebagai titipan yang keamanannya dijamin sepenuhnya oleh bank dan bank dapat memanfaatkan untuk aktivitas pembiayaan. Nasabah dapat memperoleh bonus sebagai imbalan atas kemitraannya dengan bank.

    • Giro BSM
    • Giro BSM Valas
    • Giro BSM Singapore Dollar
  • Pembiayaan, meliputi pembiayaan modal kerja, investasi, konsumsi, dan pinjaman kebajikan. Konsep (akad) yang digunakan adalah :
    • Gadai Emas BSM
    • Mudharabah BSM
    • Musyarakah BSM
    • Murabahah BSM
    • Talangan Haji BSM
    • Bai Al-Istishna BSM
    • Qardh
    • Ijarah Muntahiyah Bitamlik
    • Hawalah
    • Salam
  • Jasa

    Jasa produk :

    • Kartu/ATM BSM
    • BSM B-Payer
    • BSM SMS Banking
    • Jual beli Valuta Asing
    • Bank Garansi
    • BSM Electronic Payroll
    • SKBDN (Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri)
    • BSM Letter of Credit
    • BSM SUMCH (Saudi Umrah & Haji Card)

    Jasa Operasional :

    • Setoran Kliring
    • Inkaso
    • BSM Intercity Clearing
    • BSM RTGS (Real Time Gross Settlement)
    • Transfer Dalam Kota (LLG)
    • Transfer Valas BSM
    • Pajak Online BSM
    • Pajal Import BSM
    • Referensi Bank
    • Standing Order

 

  1. Karakteristik Nasabah

            Dalam penelitian ini telah dilaksanakan penyebaran kuesioner kepada 100 orang nasabah Bank Syariah Mandiri. Penyebaran kuesioner dilakukan pada nasabah di kantor Bank Syariah Mandiri Cabang Bandung di Jalan Ir. H. Djuanda No. 74. Waktu penyebaran kuesioner berlangsung pada bulan Mei 2005.

    Dari hasilnya dapat diketahui karakteristik para konsumen agar dapat menggambarkan segmentasi dari para konsumen. Informasi ini dapat menjadi masukan bagi Bank Syariah Mandiri Cabang Bandung dalam memperkirakan kebutuhan dan keinginan yang sesuai dengan karakterisitik respondennya, karena setiap karakteristik responden secara umum memiliki kekhasan serta tuntutan/kebutuhan tersendiri.

Tabel 4.1

Pengelompokan Nasabah Berdasarkan Jenis Kelamin

 

Jenis Kelamin 

Frekuensi 

Persentase 

Pria 

56

56

Wanita 

44

44

Total 

100

100% 

     Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

    

    Tabel 4.1 memperlihatkan sebagian besar nasabah yang diteliti berjenis kelamin pria dimana perbedaan diantara keduanya hanya terpaut 12 %. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa baik pria maupun wanita memiliki kebutuhan yang relative sama terhadap lembaga keuangan. Adapun mayoritas persentase pria didapat karena pengambilan sample dilakukan dengan simple random sampling. Hal tersebut dapat terjadi juga dengan pertimbangan pria memiliki bertanggung jawab atas kesejahteraan dan masa depan keluarga. Di lain pihak, wanita memiliki kecenderungan bersikap konsumtif.

 

Tabel 4.2

Pengelompokan Nasabah Berdasarkan Usia

 

Usia

Frekuensi 

Persentase 

< 17 tahun

0

0

17-25 tahun

64

64

26-35 tahun

24

24

36-45 tahun

9

9

> 45 tahun

3

3

Total 

100

100% 

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas responden Bank Syariah Mandiri Cabang Bandung tergolong usia produktif. Memasuki usia tersebut seorang individu dituntut untuk memikirkan masa depan dan tujuan hidup dengan lebih terfokus sehingga mereka akan lebih cermat dalam mengatur alokasi keuangan.

 

Tabel 4.3

Pengelompokan Nasabah Berdasarkan Pendidikan Formal

 

Pendidikan Formal

Frekuensi 

Persentase

SD/Sederajat

0

0

SMP/Sederajat

0

0

SMU/Sederajat

36

36

Diploma/Sarjana

58

58

Magister (S2)

6

6

Doktoral (S3)

0

0

Total 

100

100% 

     Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Sebagian besar nasabah yang diteliti berlatar belakang pendidikan yang cukup tinggi. Bahkan lebih dari setengah sample yang diperoleh berpendidikan formal akhir Diploma/Sarjana. Kondisi pendidikan ini berpengaruh terhadap pola pikir dan perilaku serta pengetahuan nasabah. Pendidikan yang tinggi membuka peluang bagi responden untuk menjadi nasabah berdasarkan motivasi kesadaran akan urgensi perbankan syariah bagi kepentingan duniawi dan akhirat mereka.    

 

 

 

 

 

 

Tabel 4.4

Pengelompokan Nasabah Berdasarkan Pekerjaan

 

Pekerjaan

Frekuensi 

Persentase 

Pelajar/Mahasiswa

55

55

Wiraswasta

15

15

Pegawai Negeri/Swasta

20

20

Profesional

4

4

Pensiunan

0

0

Lain-lain

6

6

Total 

100

100% 

     Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Sebesar 55 % nasabah berprofesi sebagai mahasiswa. Dimana seorang mahasiswa biasanya telah memiliki kemandirian dan kedewasaan berpikir. Terlebih bahwa sebagian mahasiswa kota Bandung merupakan penduduk musiman yang menetap sementara di Bandung sehingga mengharuskan mereka untuk lebih bijak dalam mengatur pengeluaran. Hal ini mendorong mereka untuk menggunakan jasa perbankan sebagai solusi alternative untuk memudahkan lalu lintas pembayaran.

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 4.5

Pengelompokan Nasabah Berdasarkan Penghasilan/Bulan

 

Penghasilan/Bulan

Frekuensi 

Persentase 

< Rp 500.000

36

36

Rp 501.000 – Rp 1.000.000

25

25

Rp 1.001.000 – Rp 1.500.000

14

14

Rp 1.501.000 – Rp 2.000.000

8

8

Rp 2.001.000 – Rp 2.500.000

6

6

> Rp 2.500.000

11

11

Total 

100

100% 

     Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Rata-rata pendapatan perbulan responden berkisar < Rp 500.000 dan Rp 501.000 – Rp 1.000.000. Hal ini dapat dipandang bahwa mayoritas nasabah tergolong berpenghasilan menengah ke bawah. Informasi ini diperlukan bagi pihak bank guna merumuskan produk atau layanan perbankan yang sesuai dengan tingkat penghasilan target pasarnya.

 

Tabel 4.6

Pengelompokan Nasabah Berdasarkan Sumber Informasi

 

Sumber Informasi

Frekuensi 

Persentase 

Keluarga/Teman

27

27

Media elektronik

6

6

Brosur/Pamflet/Buku

18

18

Lain-lain

9

9

Total 

100

100% 

        Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Sebesar 27 % nasabah mendapatkan informasi mengenai keberadaan perusahaan dan produk yang ditawarkannya berasal dari keluarga atau kerabat. Hal ini menggambarkan adanya word of mouth sebagaimana salah satu karakter konsumen bahwasanya mereka kerap menerima opini dari orang lain. Dalam kaitannya dengan kategori produk berupa jasa perbankan, nasabah akan lebih berhati-hati dalam menentukan pilihannya mengingat resikonya yang cukup tinggi. Untuk menambah keyakinan atas keamanan dananya, nasabah akan mencari informasi dari pihak terpercaya yang pernah memanfaatkan atau mengetahui informasi mengenai produk perbankan syariah.

 

Tabel 4.7

Pengelompokan Nasabah Berdasarkan Lamanya Menjadi Nasabah

 

Lamanya Menjadi Nasabah

Frekuensi 

Persentase 

< 1 tahun

46

46

1-3 tahun

33

33

3-5 tahun

17

17

> 5 tahun

4

4

Total 

100

100% 

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Sebagian besar responden adalah nasabah yang baru, karena mereka baru sekitar kurang dari satu tahun (46 %) menjadi nasabah Bank Syariah Mandiri. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan Bank Syariah Mandiri mengalami kemajuan beberapa tahun terakhir ini terlebih pasca fatwa MUI yang menimbulkan banyak pro dan kontra seputar diharamkannya bunga bank. Tabel di atas juga memperlihatkan 33 % responden telah menjadi nasabah selama 1-3 tahun, dan selebihnya di atas 3 dan 5 tahun. Waktu yang cukup lama bagi konsumen perbankan untuk mempertahankan statusnya sebagai nasabah. Angka tersebut dapat menggambarkan loyalitas nasabah terhadap tingkat kepercayaan maupun kualitas pelayanan yang diberikan Bank Syariah Mandiri.

 

Tabel 4.8

Pengelompokan Nasabah Berdasarkan Statusnya

Sebagai Nasabah di Bank lain

 

 

Menjadi Nasabah

di Bank lain

Frekuensi 

Persentase 

Tidak

11

11

Ya

89

89

Total 

100

100% 

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Tabel di atas menunjukkan 89 % responden memiliki rekening tabungan di bank selain Bank Syariah Mandiri. Hal yang melatarbelakanginya antara lain karena adanya pertumbuhan sektor perbankan yang cepat disamping kemungkinan besar responden sudah terlebih dahulu menjadi nasabah bank lain. Selain itu, penyebab lainnya ialah masih terbatasnya jaringan pelayanan Bank Syariah Mandiri yang pada saat ini masih terkonsentrasi pada beberapa kota besar di Indonesia.

 

 

 

 

  1.     Pengetahuan Konsumen Mengenai Perbankan Syariah dan Keputusannya Menjadi Nasabah Bank Syariah Mandiri Cabang Bandung

 

 

Tabel 4.9

Pengetahuan Konsumen Mengenai Keragaman Produk

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

2

2

Sangat

Menentukan Keputusan

19

19

Mengetahui 

29

29

Menentukan Keputusan

32

32

Kurang Mengetahui

60

60

Kurang

Menentukan Keputusan

36

36

Tidak

Mengetahui

9

9

Tidak

Menentukan Keputusan

3

3

Sangat

Tidak Mengetahui

0

0

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

0

0

Total 

100

100

Total 

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Tabel 4.9 menunjukkan 60 % responden menyatakan “kurang mengetahui” mengenai keragaman produk dan jasa Bank Syariah Mandiri, dalam artian mereka tidak memahami secara jelas variasi produk perbankan yang meliputi produk pendanaan, pembiayaan, dan jasa perbankan disertai dengan prinsip-prinsip syariah yang menjadi landasan operasionalnya, bahkan 9 % diantaranya menyatakan “tidak mengetahui”. Namun disisi lain 29 % responden menyatakan “mengetahui” hanya 2 % responden yang tergolong “sangat mengetahui”. Hal ini sangat dimaklumi karena memang pada kenyataannya banyak sebagian masyarakat termasuk nasabah bank syariah itu sendiri yang belum paham mengenai mekanisme operasionalisasi bank syariah. Mereka hanya sebatas mengetahui dari sisi kehalalannya terbebas dari riba.

    Produk-produk yang ada di BSM seperti yang telah dijelaskan pada bagian gambaran umum Bank Syariah Mandiri mengenai produk dan jasa yang terdapat pada BSM cukup memenuhi kebutuhan nasabah. Produk yang tersedia mulai dari giro Syariah Mandiri, tabungan Syariah Mandiri, tabungan Deposito sampai dengan tabungan Haji semua tersedia dengan prinsip yang sudah ditetapkan oleh pihak Bank. Selain itu juga BSM menyediakan produk pembiayaan serta produk-produk jasa perbankan seperti transfer, kliring, pembayaran telpon.

    Berdasarkan tabel di atas, konsumen menjadikan variabel pengetahuan keragaman produk ini sebagai faktor yang “kurang menentukan” keputusannya untuk menjadi nasabah dengan persentase sebesar 36 %. 32 % lainnya menyatakan “menentukan” dan 19 % “sangat menentukan” keputusannya.

    Keragaman produk yang dimiliki Bank Syariah Mandiri akan memberikan alternatif kepada nasabah memilih variasi produk yang sesuai kebutuhan dan keinginan nasabah. Selain itu perusahaan juga dituntut untuk melakukan ekspansi dalam menciptakan inovasi produk yang bisa menyaingi produk-produk pada bank konvensional.

 

 

 

 

Tabel 4.10

Pengetahuan Konsumen Mengenai Kualitas Produk

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah 

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

3

3

Sangat

Menentukan Keputusan

25

25

Mengetahui 

27

27

Menentukan Keputusan

46

46

Kurang Mengetahui

54

54

Kurang

Menentukan Keputusan

26

26

Tidak

Mengetahui

16

16

Tidak

Menentukan Keputusan

3

3

Sangat

Tidak Mengetahui

0

0

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

0

0

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Tabel di atas memperlihatkan bahwa lebih dari setengah nasabah dari total sampel responden yakni sebesar 54 % menyatakan “kurang mengetahui”. Selain itu, 27 % “mengetahui” dan 16 % menjawab “tidak mengetahui” mengenai kualitas dari produk yang ditawarkan Bank Syariah Mandiri. Adapun kualitas tersebut dapat diukur dari keunggulan bank syariah dibanding dengan bank konvensional sebagai berikut :

Bank Syariah

  • Investasi dan penghimpunan dana yang halal saja
  • Berdasarkan prinsip bagi hasil, jual beli atau sewa
  • Profit dan falah oriented
  • Hubungan dengan nasabah dalam bentuk kemitraan
  • Penghimpunan dan penyaluran sesuai dengan fatwa Dewan Syariah Nasional (non operational) dan Dewan Pengawas Syariah (operational)
  • Bank Syariah memberi keuntungan kepada deposan dengan pendekatan LDR (Loan to Deposit Ratio) yaitu mempertimbangkan rasio antara dana pihak ketiga dengan pembiayaan yang diberikan.
  • Dalam perbankan syariah LDR bukan saja mencerminkan keseimbangan tetapi juga keadilan, karena bank benar-benar membagikan hasil riil dari dunia usaha (loan) kepada penabung (deposit).

Bank Konvensional

  • Investasi yang halal dan haram
  • Memakai perangkat bunga
  • Profit oriented
  • Hubungan dengan nasabah adalah hubungan debitor-kreditor
  • Tidak terdapat dewan sejenis
  • Semua bunga yang diberikan kepada deposan menjadi beban biaya langsung.
  • Tanpa memperhitungkan berapa pendapatan yang dapat dihasilkan dari dana yang dihimpun.
  • Konsekuensinya, bank harus menambahi bila bunga dari peminjam ternyata lebih kecil dibandingkan dengan kewajiban bunga kepada deposan. Hal ini terkenal dengan istilah negative
    spread

    
 

    Dari sisi keputusan konsumen ternyata mayoritas nasabah menjadikan variabel kualitas produk sebagai faktor yang “menentukan” keputusannya untuk menjadi nasabah yakni sebesar 46 %, disamping 26 % “kurang menentukan’ dan 25 % “sangat menentukan” keputusan. Hal ini menggambarkan bahwa walaupun nasabah mayoritas kurang mengetahui mengenai kualitas produk Bank Syariah Mandiri namun mereka menjadikan variabel ini sebagai salah satu faktor penentu keputusannya.

 

Tabel 4.11

Pengetahuan Konsumen Mengenai Kehandalan Prinsip Bagi Hasil

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah 

Frekuensi 

%

Frekuensi

%

Sangat Mengetahui 

11

11

Sangat

Menentukan Keputusan

39

39

Mengetahui 

42

42

Menentukan Keputusan

39

39

Kurang Mengetahui

33

33

Kurang

Menentukan Keputusan

22

22

Tidak

Mengetahui

13

13

Tidak

Menentukan Keputusan

0

0

Sangat

Tidak Mengetahui

1

1

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

0

0

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

 

    Tabel 4.11 menunjukkan 42 % responden “mengetahui”, dan 33 % menyatakan “kurang mengetahui” kehandalan bagi hasil. Adapun kehandalan prinsip bagi hasil dapat didefinisikan sebagai berikut :

 

Bunga 

Bagi Hasil 

  1. Penentuan bunga dibuat pada waktu akad dengan asumsi harus selalu untung

a. Penentuan besarnya rasio/ nisbah bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi

  1. Besarnya presentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan

b. Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada keuntungan yang diperoleh

  1. Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi

c. Bagi hasil bergantung pada keuntungan proyek yang dijalankan. Bila usaha merugi, kerugian ditanggung bersama oleh kedua pihak

  1. Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan berlipat atau keadaan ekonomi sedang booming

d. Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan.  

  1. Eksistensi bunga diragukan (kalau tidak dikecam) oleh semua agama termasuk Islam

e. Tidak ada yang meragukan keabsahan bagi hasil.

 

    Sistem bagi hasil merupakan suatu konsep dimana pembagian kuntungan yang akan diterima oleh nasabah sangat tergantung pada keuntungan ataupun kerugian yang diperoleh bank dan besarnya simpanan dana nasabah. Semakin besar keuntungan yang diperoleh bank syariah maka semakin besar keuntungan yang akan diterima nasabahnya. Konsep bagi hasil akan lebih menjamin keadilan antara pihak bank dengan nasabah serta adanya kemungkinan bagi nasabah memperoleh keuntungan yang lebih besar dari tingkat suku bunga bank.

    Dilihat dari sisi pengambilan keputusan terdapat komposisi yang berimbang antara nasabah yang menyatakan “sangat menentukan” dan “menentukan” keputusannya untuk menjadi nasabah Bank Syariah Mandiri dengan komposisi 39 % dari total responden. Hal ini terjadi karena bagi hasil merupakan komponen utama yang memotivasi seseorang dalam memilih jasa perbankan syariah karena dari sinilah bermuara landasan syariah dan yang membedakan secara jelas (eksplisit) dengan perbankan konvensional.

 

 

Tabel 4.12

Pengetahuan Konsumen Mengenai Ciri Khas Islami

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah 

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

21

21

Sangat

Menentukan Keputusan

70

70

Mengetahui 

61

61

Menentukan Keputusan

22

22

Kurang Mengetahui

17

17

Kurang

Menentukan Keputusan

7

7

Tidak

Mengetahui

1

1

Tidak

Menentukan Keputusan

1

1

Sangat

Tidak Mengetahui

0

0

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

0

0

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Tabel 4.12 memperlihatkan 61 % responden “mengetahui” dan 21 % “sangat mengetahui” ciri khas Islami yang melekat sebagai salah satu karakter Bank Syariah Mandiri. Nasabah dinilai mengetahui nuansa Islami yang meliputi tampilan fisik maupun tampilan non fisik sebagai salah satu bentuk layanan yang diberikan oleh pihak bank.

Bank Syariah Mandiri sebagai bank yang menjalankan operasionalnya berdasarkan prinsip syariah berusaha untuk menerapkan nuansa Islami dalam segala kegiatannya termasuk dalam tampilan fisik bank seperti interior ruangan yang bernuansa Islami (pemasangan kaligrafi), busana yang dikenakan karyawannya (karyawan wanita diharuskan memakai jilbab), tersedianya buletin keislaman sebagai bahan bacaan pengunjung, terlebih fasilitas musholla yang merupakan kebutuhan primer bagi seorang muslim. Perusahaan harus memperhatikan atribut ini mengingat mayoritas nasabah beragama Islam dan memerlukan fasilitas umum yang bersih dan nyaman untuk melaksanakan shalat lima waktu dengan baik. Ciri khas Islami lainnya dapat dilihat dari tampilan non fisik perusahaan seperti budaya yang ditanamkan Bank Syariah Mandiri, akad yang dilakukan dalam bertransaksi.

Hal ini disamping untuk menerapkan ajaran Islam secara keseluruhan dalam kehidupan sehari-hari juga untuk meyakinkan dan menanamkan kepercayaan kepada masyarakat bahwa Bank Syariah mandiri berusaha sedapat mungkin menerapkan ajaran atau syariah Islam dalam segala aktivitasnya.

Sebesar 70 % responden menyatakan variabel ini elemen yang “sangat menentukan” keputusan menjadi nasabah karena memang atmosfer perusahaan inilah yang menjadi daya tarik tersendiri jika dibandingkan dengan bank konvensional. Melihat perolehan persentase ini, Bank Syariah Mandiri dinilai telah cukup baik menanamkan image perusahaan sebagai suatu bank yang tidak hanya menjalankan operasional berdasarkan prinsip syariah tetapi juga memperlihatkannya dalam bentuk tampilan lahiriah dan penuansaan non fisik. Perusahaan juga harus terus mempertahankan aspek ini guna merebut pangsa pasar bank syariah.

 

Tabel 4.13

Pengetahuan Konsumen Mengenai Kemudahan

Prosedur Pembukaan Rekening & Proses Transaksi

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui

14

14

Sangat

Menentukan Keputusan

21

21

Mengetahui 

53

53

Menentukan Keputusan

46

46

Kurang Mengetahui

26

26

Kurang

Menentukan Keputusan

28

28

Tidak

Mengetahui

7

7

Tidak

Menentukan Keputusan

5

5

Sangat

Tidak Mengetahui

0

0

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

0

0

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Penelitian menunjukkan bahwa responden “mengetahui” prosedur pembukaan rekening dan proses transaksi sebesar 53 % khususnya transaksi yang terkait dengan nasabah pihak ketiga yakni penarikan dan penyetoran tabungan yang terbilang mudah. 14 % nasabah menyatakan “sangat mengetahui” dan 26 % “kurang mengetahui” kemudahan prosedur pembukaan rekening dan proses transaksi. Persyaratan untuk menjadi nasabah Tabungan Bank Syariah Mandiri yaitu dengan menyerahkan fotokopi KTP/SIM/Paspor atau identitas diri lainnya, mengisi dan menandatangi formulir permohonan pembukaan rekening, dan menyerahkan setoran awal sebesar Rp 50.000,00. Begitupun dengan proses transaksi berupa penyetoran dan penarikan tabungan dapat dilakukan setiap jam kerja di kantor Bank Syariah Mandiri, setiap transaksi disertai slip yang telah disediakan oleh pihak bank nasabah tinggal mengisi lembaran tersebut dan langsung menyerahkan kepada teller.     

    Pengetahuan akan kemudahan mekanisme pembukaan rekening dan proses transaksi semakin dibutuhkan karena konsumen di era modern kini terbiasa dengan segala hal yang serba instant, cepat, dan praktis. Dengan kemudahan tersebut, nasabah dapat menghemat waktu dan tenaganya untuk mengerjakan aktivitas lain. Hal ini penting mengingat mayoritas nasabah Bank Syariah Mandiri berprofesi sebagai mahasiswa dan sebagian adalah pegawai yang pada umumnya memiliki mobilitas yang tinggi.

    Penilaian keputusan konsumen menunjukkan 46 % “menentukan” dan 28 % “kurang menentukan” keputusannya menjadi nasabah. Sehingga factor kemudahan prosedur pembukaan transaksi dan proses transaksi ini harus terus diupayakan perusahaan agar tidak hanya dapat berjalan efektif namun juga efisien.

 

 

 

 

 

 

Tabel 4.14

Pengetahuan Konsumen Mengenai Ketersediaan Sarana & Prasarana

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah 

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

2

2

Sangat

Menentukan Keputusan

27

27

Mengetahui 

39

39

Menentukan Keputusan

51

51

Kurang Mengetahui

48

48

Kurang

Menentukan Keputusan

20

20

Tidak

Mengetahui

11

11

Tidak

Menentukan Keputusan

2

2

Sangat

Tidak Mengetahui

0

0

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

0

0

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    

    Tabel 4.14 memperlihatkan 48 % responden menyatakan ” kurang mengetahui” dan 39 % diantaranya “mengetahui” akan ketersediaan sarana dan prasarana Bank Syariah Mandiri. Fasilitas fisik adalah segala fasilitas yang terdapat di bank yang dapat menciptakan suatu lingkungan dan suasana yang mendukung terjadinya pembelian produk Bank Syariah Mandiri dan juga membangun citra perusahaan, meliputi lokasi bank yang mudah dijangkau, penataan ruangan, musholla, kamar kecil, tersedianya ruang tunggu termasuk tempat duduk yang memadai, fasilitas parkir, fasilitas ATM dan sebagainya.

    Melihat fakta mayoritas responden kurang mengetahui keberadaan dan atau ketersediaan sarana maupun prasarana yang ada, maka perusahaan selayaknya lebih menggencarkan publisitas guna memberikan informasi mengenai fasilitas yang tersedia. Selain itu perusahaan sebaiknya memperbanyak jaringan pelayanan dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan nasabah.

    Seiring dengan pengetahuan yang dimiliki konsumen 51 % responden mengungkapkan variable tersebut sebagai hal yang “menentukan” keputusan konsumen. Sarana dan prasana merupakan elemen yang sangat menunjang dalam operasionalisasi suatu bank. Dengan sarana dan prasarana yang memadai akan mampu meningkatkan kinerja bank dalam memberikan pelayanan kepada nasabah.

 

Tabel 4.15

Pengetahuan Konsumen Mengenai Kredibilitas/Reputasi BSM

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

12

12

Sangat

Menentukan Keputusan

41

41

Mengetahui 

52

52

Menentukan Keputusan

40

40

Kurang Mengetahui

31

31

Kurang

Menentukan Keputusan

18

18

Tidak

Mengetahui

4

4

Tidak

Menentukan Keputusan

1

1

Sangat

Tidak Mengetahui

1

1

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

0

0

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

 

Pengetahuan konsumen terhadap kredibilitas/reputasi Bank Syariah Mandiri dinilai baik dilihat dari 52 % responden menjawab “mengetahui”,12 % dan “sangat mengetahui”. Disamping itu sebesar 31 % nasabah menyatakan “kurang mengetahui” kredibilitas/reputasi perusahaan. Kredibilitas/reputasi bank syariah dapat dilihat dari performanya sebagai suatu badan usaha yang menjalankan aktivitas pada sektor jasa perbankan khususnya perbankan syariah. Selama ini Bank Syariah Mandiri tergolong ke dalam kategori bank sehat dan bank syariah dengan akselerasi pertumbuhan pangsa pasar yang pesat. Pengetahuan ini bisa jadi tidak didapatkan melalui media formal secara langsung namun sesuai dengan karakter responden bahwa sebagian besar informasi mengenai perusahaan diperoleh dari keluarga/kerabat sehingga dapat pula dikatakan bahwa kepercayaan yang dimiliki nasabah disebabkan karena faktor dorongan orang terdekat yang merekomendasikan Bank Syariah Mandiri sebagai pilihan bagi konsumen untuk menyimpan dananya.

Terlihat 41 % responden menyatakan “sangat menentukan” dan 40 % “menentukan” keputusan bagi konsumen untuk menjadi nasabah. Reputasi perusahaan merupakan faktor yang sangat penting untuk dipertimbangkan nasabah dalam mengevaluasi alternatif lembaga perbankan. Terlebih karena jasa perbankan memiliki resiko yang besar maka faktor kepercayaan sangat berperan. Reputasi bank yang baik menjadi kunci untuk memenangkan persaingan dan membentuk citra yang baik di mata konsumen.

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 4.16

Pengetahuan Konsumen Mengenai Jaminan Keamanan Dana

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

11

11

Sangat

Menentukan Keputusan

43

43

Mengetahui 

52

52

Menentukan Keputusan

39

39

Kurang Mengetahui

34

34

Kurang

Menentukan Keputusan

17

17

Tidak

Mengetahui

3

3

Tidak

Menentukan Keputusan

1

1

Sangat

Tidak Mengetahui

0

0

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

0

0

Total 

100

100

Total 

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

 

Tabel 4.16 menunjukkan 52 % responden “mengetahui” adanya jaminan keamanan yang diberikan olah pihak bank. Begitu juga dari sisi pengambilan keputusan nasabah menyatakan hal ini sebagai variabel yang “sangat menentukan” keputusannya 43 %. Hal ini logis mengingat produk perbankan mendatangkan resiko baik menyangkut keamanan diri dan dana serta kerahasiaan jaminan keamanan membuat nasabah nyaman dan bebas dari keraguan untuk bertransaksi dengan Bank Syariah Mandiri. Selain itu, nasabah juga merasakan keamanan yang lebih ketika menabung pada Bank Syariah Mandiri dikarenakan adanya struktur DPS (Dewan Pengawas Syariah) yang berfungsi mengarahkan operasional bank syariah sesuai prinsip syariah. Sehingga pengawasan terhadap bank syariah dilakukan dari dua aspek yaitu aspek operasional dan aspek syariah.

Penilaian yang diberikan responden dapat dimaknai bahwa kinerja keamanan pada tabungan dan sistem syariah yang ditawarkan Bank Syariah Mandiri baik jika kita melihat korelasi dari sisi pengetahuan konsumen dengan keputusan yang diambilnya. Hal ini bisa terjadi dikarenakan nasabah sangat percaya akan sistem syariah yang ditawarkan perusahaan. Dengan label Syariahnya, Bank Syariah Mandiri bisa menjanjikan kepada nasabahnya bahwa keamanan produk tabungan dan sistem syariah yang dijalankan dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan.

 

 

Tabel 4.17

Pengetahuan Konsumen Mengenai Ketersediaan Sarana Informasi

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah 

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

4

4

Sangat

Menentukan Keputusan

28

28

Mengetahui 

36

36

Menentukan Keputusan

44

44

Kurang Mengetahui

51

51

Kurang

Menentukan Keputusan

28

28

Tidak

Mengetahui

9

9

Tidak

Menentukan Keputusan

0

0

Sangat

Tidak Mengetahui

0

0

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

0

0

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

Hasil penelitian menunjukkan 51 % responden “kurang mengetahui” ketersediaan sarana informasi. Di sisi lain, 36 % lainnya menjawab “mengetahui” sarana informasi yang disediakan pihak bank. Sarana informasi tersebut meliputi media informasi mengenai produk, khususnya sebagai alat pendukung transaksi seperti : brosur dan buletin mengenai produk-produk Bank Syariah Mandiri, nisbah, bagi hasil, nilai tukar rupiah (kurs), serta ketersediaan formulir transaksi.

44 % nasabah menjadikan hal tersebut sebagai faktor yang “menentukan” dan komposisi yang sama yakni sebesar 28 % menyatakan “sangat menentukan” dan “kurang menentukan” keputusan menjadi nasabah. Sarana informasi merupakan faktor yang harus diperhitungkan sebagai salah satu media yang efektif untuk memberikan kejelasan khususnya mengenai produk yang ditawarkan perusahaan sekaligus sebagai berfungsi sebagai sarana edukasi bagi konsumen perbankan. Melihat mayoritas persentase di atas, dalam penyampaian informasi, Bank Syariah Mandiri diupayakan terus berusaha agar nasabahnya memperoleh kemudahan dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 4.18

Pengetahuan Bahwa Bank Syariah Turut Mewujudkan

Kesejahteraan, Kesetaraan, & Keadilan Ekonomi

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan

Menjadi Nasabah

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

22

22

Sangat

Menentukan Keputusan

35

35

Mengetahui 

47

47

Menentukan Keputusan

36

36

Kurang Mengetahui

24

24

Kurang

Menentukan Keputusan

21

21

Tidak

Mengetahui

6

6

Tidak

Menentukan Keputusan

7

7

Sangat

Tidak Mengetahui

1

1

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

1

1

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

 

    Tabel 4.18 memperlihatkan 47 % responden menjawab “mengetahui” dan 22 % “sangat mengetahui” pengetahuan akan manfaat produk bank syariah dalam mewujudkan kesejahteraan, kesetaraan, dan keadilan ekonomi. Hasil ini mengindikasikan bahwa nasabah telah merasakan adanya manfaat dari tingkat kesejahteraan yang menguntungkan, kesetaraan yang memposisikan pihak nasabah dan pihak bank sebagai hubungan kemitraan, dan keadilan ekonomi dilihat dari prinsip bagi hasil yang melandasi kegiatan perusahaan. Selain itu, 24 % responden menyatakan “kurang mengetahui”, 6 % “tidak mengetahui” dan 1 % “sangat tidak mengetahui” mengenai manfaat produk ini. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya dorongan bagi sebagian nasabah bank syariah yang menabung dengan motif religius semata.

    Dari sisi pengambilan keputusan, responden menjawab sebesar 36 % “menentukan” keputusan 35 % “sangat menentukan” keputusannya menjadi nasabah Bank Syariah Mandiri. Angka ini menunjukkan bahwa manfaat dari sisi keadilan, kesetaraan, maupun kesejahteraan ekonomi diyakini sebagai suatu aspek yang akan memberikan dampak positif bagi nasabah sehingga faktor ini turut menjadi pertimbangan dalam menentukan keputusannya menjadi nasabah pada bank syariah.

 

Tabel 4.19

Pengetahuan Bahwa Bank Syariah Terbukti Mampu

Memberdayakan Sektor Riil

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah 

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

11

11

Sangat

Menentukan Keputusan

29

29

Mengetahui 

40

40

Menentukan Keputusan

29

29

Kurang Mengetahui

33

33

Kurang

Menentukan Keputusan

29

29

Tidak

Mengetahui

14

14

Tidak

Menentukan Keputusan

12

12

Sangat

Tidak Mengetahui

2

2

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

1

1

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

 

    Tabel 4.19 memperlihatkan mayoritas responden 40 % menyatakan “mengetahui” bahwa bank syariah terbukti mampu memberdayakan sektor riil. Ini dikarenakan bank syariah khususnya Bank Syariah Mandiri dengan slogannya ‘Menjadi Bank Syariah Terpercaya Pilihan Mitra Usaha’ senantiasa berperan aktif dalam membantu laju perkembangan sektor dunia usaha dimana dalam hal ini secara konsisten menitikberatkan pada pertumbuhan Usaha Kecil Menengah yang merupakan potensi terbesar dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Disamping itu, sebesar 33 % lainnya menyatakan “kurang mengetahui”. Dari sisi pengambilan keputusan menunjukkan sebaran nilai yang sama antara bobot penilaian “sangat menentukan’ sampai dengan “kurang menentukan” keputusan menjadi nasabah yaitu sebesar 29 %.

    Keterkaitan pertumbuhan sektor riil dengan sektor perbankan dicerminkan dengan tidak terdapatnya negative spread. Dalam hal ini pendapatan bagi hasil bank akan sangat dipengaruhi oleh keadaan sektor riil.

 

 

Tabel 4.20

Pengetahuan Bahwa Bank Syariah Memberikan Return Yang Lebih Baik

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah 

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

11

11

Sangat

Menentukan Keputusan

21

21

Mengetahui 

43

43

Menentukan Keputusan

41

41

Kurang Mengetahui

34

34

Kurang

Menentukan Keputusan

30

31

Tidak

Mengetahui

11

11

Tidak

Menentukan Keputusan

8

8

Sangat

Tidak Mengetahui

1

1

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

0

0

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

 

    Tabel 4.20 menunjukkan 43 % “mengetahui” bahwa bank syariah dapat memberikan return (bagi hasil) yang lebih baik. Penekanan baik disini adalah dari segi keadilan dan kebarokahannya. Sistem bagi hasil merupakan suatu konsep dimana pembagian keuntungan yang akan diterima oleh nasabah tergantung pada keuntungan ataupun kerugian yang diperoleh bank dan besarnya simpanan dana nasabahnya. Semakin besar keuntungan yang diperoleh bank syariah maka akan semakin besar pula keuntungan yang diterima nasabah. Konsep bagi hasil ini menjamin keadilan antara pihak bank dengan nasabah serta adanya kemungkinan bagi nasabah memperoleh keuntungan yang lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku.

    Hasil penelitian di atas juga menunjukkan 41 % responden memilih variabel ini sebagai komponen yang “menentukan” keputusan menjadi nasabah. Perusahaan dituntut untuk dapat memberikan return yang lebih besar untuk memenuhi keinginan konsumen. Menjadi hal yang wajar bagi nasabah sebagai investor untuk mendapat kompensasi dari dana yang ditanamkan dan memprioritaskannya. Meskipun memilih perbankan syariah dengan motivasi untuk menghindari riba/bunga, nasabah tetap mengharapkan tingkat bagi hasil yang sama atau melebihi tingkat bunga di bank konvensional.

 

 

 

 

 

Tabel 4.21

Pengetahuan Bahwa Bank Syariah Berperan Mendorong

Pemerataan Pendapatan

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah 

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

13

13

Sangat

Menentukan Keputusan

22

22

Mengetahui 

32

32

Menentukan Keputusan

30

30

Kurang Mengetahui

39

39

Kurang

Menentukan Keputusan

32

32

Tidak

Mengetahui

13

13

Tidak

Menentukan Keputusan

13

13

Sangat

Tidak Mengetahui

3

3

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

3

3

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

    

    Hasil penelitian memperlihatkan 39 % responden menyatakan “kurang mengetahui” manfaat bank syariah yang berperan dalam mendorong pemerataan pendapatan. Dalam artian bank bukan hanya berfungsi mengumpulkan dana pihak ketiga, namun dapat mengumpulkan dana zakat, infak, dan shodaqoh. Dana ZIS dapat disalurkan melalui pembiayaan kebajikan (qordul hasan) sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pengambilan keputusan yang diambil konsumen mayoritas berada dalam bobot penilaian “kurang menentukan” keputusan menjadi nasabah sebesar 32 %, disamping 30 % menyatakan “menentukan keputusan” bahkan 22 % responden menjawab “sangat menentukan keputusan” menjadi nasabah. Hasil ini menggambarkan bahwa ternyata keputusan konsumen juga didorong oleh faktor kepentingan sosial dimana pertimbangan pemerataan pendapatan menjadi variabel yang menentukan keputusan konsumen menjadi nasabah bank syariah.

        

 

Tabel 4.22

Pengetahuan Bahwa Bank Syariah Mendorong Kegiatan Investasi & Mencegah Terjadinya Simpanan yang Tidak Produktif

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah 

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

15

15

Sangat

Menentukan Keputusan

23

23

Mengetahui 

35

35

Menentukan Keputusan

36

36

Kurang Mengetahui

34

34

Kurang

Menentukan Keputusan

28

28

Tidak

Mengetahui

14

14

Tidak

Menentukan Keputusan

12

12

Sangat

Tidak Mengetahui

2

2

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

1

1

Total

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

Tabel 4.22 menunjukkan 35 % responden menjawab “mengetahui” akan manfaat produk bank syariah dalam mendorong kegiatan investasi dan mencegah terjadinya simpanan yang tidak produktif. Hal ini dikarenakan Islam melarang tindakan spekulatif dan sistem operasional yang diterapkan bank syariah sangat membuka peluang bagi siapapun yang berniat berinvestasi selama dalam koridor kebajikan.

    Mayoritas responden yakni sebesar 36 % menyatakan “menentukan” keputusan” menjadi nasabah. Bank Syariah Mandiri dituntut untuk meningkatkan kualitas produk, pelayanan, serta keuntungan ekonomis bagi nasabah guna meningkatkan pangsa pasar khususnya sebagai alternatif bagi kebutuhan investasi.    

Tabel 4.23

Pengetahuan Nilai Kepuasan Produk Terhadap Peningkatan Kesadaran Menumbuhkan Nilai-Nilai Islam

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah 

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

38

38

Sangat

Menentukan Keputusan

56

56

Mengetahui 

47

47

Menentukan Keputusan

27

27

Kurang Mengetahui

11

11

Kurang

Menentukan Keputusan

13

13

Tidak

Mengetahui

2

2

Tidak

Menentukan Keputusan

2

2

Sangat

Tidak Mengetahui

2

2

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

2

2

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

 

    Tabel 4.23 menunjukkan 47 % responden menjawab “mengetahui” dan 38 % “sangat mengetahui” mengenai nilai kepuasan yang akan diperoleh dari penggunaan produk bank syariah. Mereka mengetahui bahwa dengan menjadi nasabah pada bank syariah akan meningkatkan kesadaran dalam menumbuhkan nilai-nilai Islam. Sebagaimana diketahui bahwa Islam sebagai agama yang menyeluruh dan universal, mengatur dengan sempurna tata cara kehidupan meliputi seluruh sendi kehidupan, termasuk aspek ekonomi Islam. Salah satu sarana dalam mengimplementasikan ekonomi berbasis syariah ini adalah melalui lembaga keuangan diantaranya perbankan syariah.

    Di sisi lain, 27 % responden menyatakan “menentukan” dan 56 % “sangat menentukan” keputusan menjadi nasabah. Hasil penelitian ini memperlihatkan ketika nilai religius diusung ternyata mayoritas responden menjadikan variabel ini sebagai faktor yang cukup dominan untuk menabung di Bank Syariah Mandiri.

 

 

Tabel 4.24

Pengetahuan Nilai Kepuasan Produk Terhadap Ketenangan Lahir & Batin yang Dirasakan Konsumen

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah 

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

49

49

Sangat

Menentukan Keputusan

63

63

Mengetahui 

40

40

Menentukan Keputusan

22

22

Kurang Mengetahui

8

8

Kurang

Menentukan Keputusan

10

10

Tidak

Mengetahui

2

2

Tidak

Menentukan Keputusan

3

3

Sangat

Tidak Mengetahui

1

1

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

2

2

Total 

100

100

 

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Hasil penelitian berdasarkan nilai kepuasan produk menunjukkan responden sebanyak 49 % menjawab “sangat mengetahui” dan 40 % “mengetahui” bahwa produk Bank Syariah Mandiri akan memberikan ketenangan lahir dan batin. Nasabah akan terhindar dari riba yang selama ini menjadi prokontra mengenai simpang siur keharaman bunga. Konsumen yang menggunakan jasa bank syariah karena pertimbangan nilai kepuasan ini biasanya termotivasi oleh faktor keyakinan (pious moslem). Konsumen menganggap bahwa dengan menggunakan jasa bank syariah dapat terhindar dari keragu-raguan tentang masalah halal-haram bunga bank dan kegiatan investasi dana yang dimiliki tidak ditempatkan pada kegiatan usaha yang non-halal dan merusak moral, dimana pada bank konvensional tidak ada jaminan akan hal tersebut.

    Dilihat dari sisi pengambilan keputusan, responden sebesar 63 % menyatakan variabel ini “sangat menentukan” keputusannya menjadi nasabah. Karena pada dasarnya unsur bunga merupakan hal yang amat dihindari nasabah sehingga logis kiranya nasabah mengutamakan faktor kehalalan dan keberkahan sebagai penentu keputusannya. Persentase ini sekaligus menjadi refleksi bahwa unsur tersebut merupakan variabel yang signifikan yang memotivasi seseorang untuk menabung di Bank Syariah Mandiri.

 

  1.         Pengaruh Pengetahuan Konsumen Terhadap Keputusan     Menjadi Nasabah Bank Syariah Mandiri Cabang Bandung

 

 

Uji Asumsi Regresi Multiple

 

  • Pengujian Normalitas

Dalam regresi linear disturbance error atau variabel gangguan (ei) berdistribusi secara normal atau acak untuk setiap nilai Xi, mengikuti distribusi normal disekitar rata-rata. Grafik tersebut menunjukkan bahwa data (titik-titik) menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal. Dengan demikian dapat disimpulkan model regresi memenuhi asumsi normalitas. Selengkapnya grafik tersebut dapat dilihat pada gambar (lihat lampiran).

  • Pengujian Heterokedastisitas

Dengan menggunakan program SPSS versi 11.5 untuk mendeteksi adanya heterokedastisitas digunakan grafik scatterplot variabel dependen, grafik tersebut dapat di lihat pada gambar (lihat lampiran). Berdasarkan gambar tersebut telihat titik-titik menyebar secara acak, tidak membentuk suatu pola tertentu, serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka nol pada sumbuh Y hal ini berarti tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi.

  • Pengujian Multikolinieritas

Cara untuk mengetahui ada tidaknya gejala multikolinieritas salah satunya dengan melihat besarnya nilai toleransi value atau VIF. Apabila nilai VIF lebih kecil dari 0,10 atau lebih besar dari 10 maka terjadi multikolinieritas, sebaliknya tidak terjadi multikolinieritas antar variable independent apabila nilai VIP berada pada kisaran 0,10 sampai 10. Hasil perhitungan menunjukkan angka VIP dari ketiga variable X bernilai 1,309, 1,458 dan 1,295 yang berarti tidak terdapat multikolinieritas.    

Setelah asumsi Regresi Multiple terpenuhi selanjutnya dapat dilakukan perhitungan dan pengujian untuk mengukur pengaruh antar variable yang diteliti.

    

Perhitungan Regresi Multiple

    Berdasarkan jawaban yang diperoleh dari 100 responden yang merupakan nasabah dana pihak ketiga Bank Syariah Mandiri, dilakukan analisis dengan menggunakan metode regresi multiple antara pengetahuan konsumen dengan keputusan menjadi nasabah. Pengolahan data dilakukan dengan bantuan SPSS for windows versi 11.5. data yang digunakan dalam analisis ini disajikan dalam lampiran dengan rangkuman sebagai berikut :

 

 

Tabel 4.29

Perhitungan dan Pengujian Koefisien Regresi Multiple

 

Model 

R 

R Square 

Adjusted

R Square 

Std. Error of the Estimate 

Change Statistics 


 


 


 


 


 

R Square Change 

F Change 

df1 

df2 

Sig. F Change 

1 

.618(a) 

.382 

.363 

7.43062 

.382 

19.787 

3 

96 

.000 

 

a Predictors: (Constant), X3, X1, X2

b Dependent Variable: Y

 

    Sesuai dengan uraian pada bab III, maka pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah dan pengaruhnya terhadap keputusan menjadi nasabah dapat diketahui dengan menghitung nilai koefisien regresi multiple. Perhitungan ini menghasilkan koefisien korelasi antara kedua variabel tersebut sebesar 0,618 atau 61,8 %. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa antara variable pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah dengan variabel keputusan konsumen menjadi nasabah terdapat hubungan yang erat dan sifatnya positif atau searah. Peningkatan atas pengetahuan konsumen secara keseluruhan akan meningkatkan pula keputusan konsumen terhadap perusahaan.

 

 

 

Pengujian Hipotesis Secara Keseluruhan

Nilai F digunakan untuk pengujian signifikansi koefisien regresi secara keseluruhan. Dengan signifikansi nilai F yang mendekati nol tersebut maka dapat dikatakan bahwa variabel independen yang terkait dengan koefisien regresi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen pengmbilan keputusan pembelian (Y) yang diteliti. Tabel Analysis of Variance tersebut diolah dengan software SPSS adalah sebagai berikut:

    

 

Tabel 4.30

ANOVA

 

 

Model 


 

Sum of Squares 

df 

Mean Square 

F 

Sig. 

1 

Regression 

3277.623 

3 

1092.541 

19.787 

.000(a) 

Residual 

5300.553

96 

55.214 


 


 


 

Total 

8578.176 

99 


 


 


 

a Predictors: (Constant), X3, X1, X2

b Dependent Variable: Y

 

 

Selanjutnya dilaksanakan uji keberartian koefisien korelasi multiple dengan hipotesis sebagai berikut :

Ho : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari variable X (Pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah) terhadap variable Y (Keputusan menjadi nasabah)

H1 : Terdapat pengaruh yang signifikan dari variable X (Pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah) terhadap variable Y (Keputusan menjadi nasabah)

 

 

Hipotesis Statistik
uji simultan :

Ho : Tidak terdapat pengaruh X1,X2,X3 terhadap Y

(Semua βi = 0)

H1 : Terdapat pengaruh X1,X2,X3 terhadap Y

(Sekurang-kurangnya ada sebuah βi ≠ 0)

Berdasarkan tabel Analysis of Variance diketahui bahwa model yang terbentuk mempunyai nilai F = 19,787 dengan signifikansi 0.000. Pengujian dengan membandingkan F tabel = 2,70 dengan a = 5 % (0,05) Dengan demikian diketahui bahwa Fhitung > Ftable. Oleh karena itu Ho ditolak. Oleh karena itu dapat disimpulkan dari uji ini bahwa secara bersama-sama (serempak) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara variabel pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah dan keputusannya menjadi nasabah.

 

Koefisien Determinasi

Berdasarkan hasil analisis regresi linear (linear regression)
yang terdapat dalam lampiran, koefisien determinasi (R2) merupakan koefisien yang dipergunakan untuk mengetahui besarnya kontribusi variabel independen terhadap perubahan variabel dependen.

    Dengan menggunakan rumus Adjusted R Square didapatkan koefisien determinasi yang telah disesuaikan antara kedua variabel tersebut sebesar 36,3 %. Artinya variabel keputusan menjadi nasabah dapat dijelaskan oleh variable pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah sebesar 36,3 % sedangkan sisanya dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diteliti. Dengan kata lain, kontribusi atau pengaruh variabel independent (pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah) terhadap variabel dependent (keputusan menjadi nasabah) adalah sebesar 36,3 % sedangkan sisanya 63,7 % dipengaruhi oleh variable lain.

    

4.5    Jenis Pengetahuan konsumen yang Paling Menentukan Keputusan Menjadi Nasabah Bank Syariah Mandiri Cabang Bandung

    

    Koefisien regresi parsial digunakan untuk menjawab rumusan masalah ketiga yaitu untuk menelusuri jenis pengetahuan konsumen yang paling berpengaruh terhadap keputusan menjadi nasabah. Perhitungan koefisien regresi parsial dan uji t untuk mengetahui keberartian pengaruh dari setiap variable dengan α 5 % dilakukan melalui aplikasi SPSS for windows versi 11.5

 

Tabel 4.31

Perhitungan dan Pengujian koefisien regresi parsial

    

Model 


 

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients 

t 

Sig. 


 


 

B 

Std. Error 

Beta 


 


 

1 

(Constant) 

30.388 

5.627 


 

5.400 

.000 


 

X1 

.110 

.175 

.058 

.628 

.531 


 

X2 

1.171 

.242 

.469 

4.838 

.000 


 

X3 

1.130 

.513 

.201 

2.204 

.030 

 

Pengujian Hipotesis Secara Individu    

Hipotesis statistik individu :

Ho : Tidak terdapat pengaruh X1 terhadapY; X2 terhadap Y; X3 terhadap Y

    (βi = 0)

 

H1 : Terdapat pengaruh X1 terhadapY; X2 terhadap Y; X3 terhadap Y

    (βi ≠ 0)

    Dari hasil uji t terhadap koefisien parsial di atas dapat disimpulkan bahwa jenis pengetahuan konsumen yang paling berpengaruh positif terhadap keputusan menjadi nasabah adalah variable X2

 

Tabel 4.32

Rangkuman Koefisien Regresi Parsial

 

Variabel Bebas

Koefisien

t

Sig.

Interpretasi

Pengaruh 

(Constant) 

30.388

5.400

0.000

 

X1 

0.110

0.628

0.531

Tidak signifikan  

X2 

1.171

4.838

0.000

Signifikan 

X3 

1.130

2.204

0.030

Signifikan

 

 

 

 

 

 

 

Komponen persamaan akhir hasil analisis multi regresi yang menyatakan hubungan antara variabel pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah terhadap variabel keputusan konsumen menjadi nasabah dinyatakan sebagai berikut:

Y=30,388 + 0,110X1 + 1,171X2 + 1,130X3

Untuk itu dari hasil perhitungan tersebut maka dapat diinterpretasikan sebagai berikut : berdasarkan persamaan tersebut terlihat bahwa paramater koefisien regresinya untuk variabel independent adalah positif, hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara pengetahuan konsumen terhadap keputusan konsumen sedemikian rupa, sehingga setiap terjadi peningkatan X akan diikuti pula oleh peningkatan Y. Dengan kata lain semakin konsumen memiliki pengetahuan yang baik atau tinggi mengenai perbankan syariah maka akan semakin mempengaruhi keputusannya menjadi nasabah dalam hal ini jumlah nasabah pada Bank Syariah Mandiri cabang Bandung akan mengalami peningkatan seiring bertambahnya consumer knowledge.

Engel, Blackwell dan Miniard (1994:60) berpendapat bahwa konsumen dapat dipengaruhi perilakunya menurut kehendak pihak yang berkepentingan. Dalam hal ini, konsumen dipengaruhi faktor internal yang menggerakkan dan mempengaruhi perilaku mereka. Salah satunya yaitu faktor pengetahuan yang sangat mungkin berbeda antar individu sehingga akan menghasilkan keputusan dan perilaku yang berbeda pula.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE PENELITIAN

BAB III

METODE PENELITIAN

 

3.1    Metode yang Digunakan

    Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif (Descriptive research) yaitu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran atau kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuannya adalah membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir. 1999:63).

    Terdapat beberapa metode dalam metode deskriptif. Dalam penelitian ini metode yang diterapkan adalah teknik survei yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengambil sampel dari suatu populasi dan mengadakan kuesioner sebagai pengumpulan data yang pokok (Singarimbun, 1995:3). Tujuannya yaitu untuk mengumpulkan data serta mempelajari gejala atau fenomena sosial dengan jalan meneliti variabel-variabel penelitian yang dilaksanakan. Metode survei yang digunakan adalah melalui penyebaran kuesioner.

    Penelitian ini juga bersifat verifikatif, yaitu metode yang bertujuan untuk menguji secara matematis dugaan mengenai adanya hubungan antar variabel dari masalah yang sedang diselidiki di dalam hipotesis. Atau dengan kata lain, penelitian untuk menguji kebenaran suatu hipotesis dimana dalam penelitian ini yang akan diuji adalah pengaruh pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah terhadap keputusan menjadi nasabah.

    Penelitian dilakukan pada PT Bank Syariah Mandiri Tbk yang berlokasi di Jalan Ir. H. Djuanda No. 74 Bandung. Dalam penelitian ini, yang menjadi unit sample adalah nasabah Dana Pihak Ketiga Bank Syariah Mandiri cabang Bandung.

Untuk menjawab masalah dan mengungkap tujuan penelitian pertama yaitu untuk mengetahui pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah serta keputusannya menjadi nasabah digunakan penelitian yang bersifat deskriptif dengan sumber data primer yang diperoleh dari penyebaran kuesioner kepada responden.

Untuk menjawab masalah dan mengungkap tujuan penelitian kedua, yaitu untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah terhadap keputusan menjadi nasabah digunakan penelitian yang bersifat verifikatif dengan mempergunakan data primer yang diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner kepada responden.

Begitu pula untuk mencapai tujuan penelitian ketiga yaitu guna mengetahui jenis pengetahuan konsumen yang paling menentukan keputusan menjadi nasabah digunakan penelitian yang bersifat verifikatif dengan mempergunakan data primer yang diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner kepada responden.

 

  1. Operasionalisasi Variabel

        Aspek yang diteliti dalam penelitian terdiri atas dua variabel yaitu pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah sebagai variabel X (dependent variable) dan keputusan menjadi nasabah pada Bank Syariah Mandiri sebagai variabel Y (independent variable).

Variabel yang telah dikemukakan akan dioperasionalisasikan sebagai berikut :

 

Tabel 3.1

Operasionalisasi Variabel

 

Var/ Sub Var 

Konsep Variabel/ Sub Variabel 

Indikator 

Satuan Ukuran 

Skala Ukur 

Kode Kuesioner 

 

Pengetahuan konsumen (Consumer knowledge)

(X)

 

Semua informasi yang dimiliki oleh konsumen mengenai berbagai macam produk dan jasa.

       

 

Pengetahuan

Atribut Produk/Jasa

(Bundle of attributes)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

Pengetahuan konsumen berdasarkan pada seperangkat karakteristik atau ciri (atribut) suatu produk

 


 

 

  • Keanekaragaman produk

 

  • Kualitas produk perbankan syariah

 

  • Kehandalan prinsip bagi hasil

 

  • Daya tarik ciri khas Islam

 

  • Prosedur pembukaan rekening tabungan dan kemudahan bertransaksi


 

 

Tk. Pengetahuan

 

 

 

Tk Pengetahuan

 

 

Tk. Pengetahuan

 

 

 

Tk..Pengetahuan

 

 

Tk. Pengetahuan

 


 

 

Ordinal

 

 

Ordinal

 

 

Ordinal

 

 

Ordinal

 

 

 

Ordinal


 

 

K II.1

 

 

K II.2

 

 

K II.3

 

 

K II.4

 

 

 

K II.5

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 3.1

Operasionalisasi Variabel

(Lanjutan)

 

Var/ Sub Var 

Konsep Variabel/ Sub Variabel

Indikator 

Satuan Ukuran 

Skala Ukur 

Kode Kuesioner 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

  • Ketersediaan sarana

dan prasarana penunjang (fasilitas)

 

  • Adanya jaminan keamanan bank atas dana yang disetorkan

 

  • Kredibilitas/reputasi Bank Syariah Mandiri

    

  • Kejelasan informasi tentang Bank Syariah Mandiri

 

 

Tk.Pengetahuan

 

 

 

 

Tk.Pengetahuan

 

 

 

 

Tk.Pengetahuan

 

 

 

 

Tk.Pengetahuan

 

 

Ordinal

 

 

 

Ordinal

 

 

 

Ordinal

 

 

 

 

Ordinal


 

 

 

K II.6

 

 

 

K II.7

 

 

 

K II.8

 

 

 

 

K II.9


 

 

Pengetahuan Manfaat Produk/Jasa

(Bundle of Benefits)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

Pengetahuan tentang manfaat yang diterima konsumen baik itu manfaat fungsional maupun manfaat psikososial pada saat atau ketika akan mengkonsumsi produk/jasa

 

 

 

 

 


 

 

  • Menciptakan kesejahteraan, kesetaraan, dan keadilan pada semua aktivitas ekonomi

 

  • Memberdayakan ekonomi rakyat/sector riil

 

  • Memberikan return yang lebih baik

 

  • Mendorong pemerataan pendapatan

 

 

Tk.Pengetahuan

 

 

 

 

 

 

Tk.Pengetahuan

 

 

 

 

Tk.Pengetahuan

 

 

 

Tk.Pengetahuan

 

Ordinal

 

 

 

 

 

 

Ordinal

 

 

 

 

Ordinal

 

 

Ordinal

 

K II.10

 

 

 

 

 

 

K II.11

 

 

 

 

K II.12

 

 

K II.13


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 3.1

Operasionalisasi Variabel

(Lanjutan)

 

Var/ Sub Var 

Konsep Variabel/ Sub Variabel 

Indikator 

Satuan Ukuran 

Skala Ukur 

Kode Kuesioner 

 

 


 

 

 


 

 

  • Mendorong kegiatan investasi dan mencegah terjadinya simpanan yang tidak produktif

 

 

Tk.Pengetahuan

 

 

 


 

 

 

Ordinal

 


 

 

 

K II.14

 

 


 

 

Pengetahuan akan Kepuasan Produk/Jasa

(Value satisfaction)

 

 

 

 


 

 

Pengetahuan tentang nilai pribadi yang dapat dipenuhi/dipuaskan oleh suatu produk/jasa


 

 

  • Meningkatkan kesadaran nilai-nilai Islam dengan menjalankan aturan syariah

     

  • Memperoleh ketenangan lahir batin

 

 

Tk. Pengetahuan

 

 

 

 

 

 

Tk. Pengetahuan


 

 

 

Ordinal

 

 

 

 

 

Ordinal

 


 

 

 

K II.15

 

 

 

 

 

K II.16

 


 

 

Proses Keputusan Konsumen

 

(Y)

 

 

 

 


 

 

Suatu keputusan yang diambil oleh konsumen menyangkut kepastian apakah akan membeli produk/jasa yang ditawarkan atau tidak

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

   

 

Keputusan Pembelian

(Purchase decision)

 
 

Merupakan tahapan dimana konsumen telah memiliki pilihan dan siap melakukan transaksi pembelian

 
 

Penilaian terhadap keputusan menjadi nasabah

 

Tk. Keyakinan

 

Ordinal 

 

K III.1

s/d

K III.16

 

 

3.3     Sumber dan Cara Penentuan Data

3.3.1    Jenis dan Sumber Data

    Jenis dan sumber data yang dibutuhkan untuk menunjang penelitian ini adalah :

  1. Data primer, pengumpulan data primer dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner pada nasabah dana pihak ketiga PT Bank Syariah Mandiri Tbk cabang Bandung yang berlokasi di Jalan Ir. H. Djuanda No. 74.
  2. Data sekunder, yaitu data yang telah ada dan tersusun secara sistematis serta merupakan hasil penelitan atau rangkuman dari dokumen-dokumen perusahaan serta literature lain seperti buku, majalah, surat kabar, makalah, dan situs web.

 

  1. Cara Penentuan Data

        Di dalam menentukan sampel dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Menentukan ukuran sampel (Sample Size)

    Penentuan ukuran sampel responden dapat dilakukan dengan menggunakan rumus Slovin (Jalaludin Rakhmat, 2000:49) :


                                


Keterangan:

n = ukuran sampel minimum

N = ukuran populasi

d 2 = tingkat presisi

Populasi dalam penelitian ini adalah nasabah Bank Syariah Mandiri cabang Bandung yang berlokasi di Jalan Ir. H. Djuanda No. 74. Informasi yang diperolah besarnya populasi nasabah Dana Pihak Ketiga berjumlah 13.963 nasabah dengan perincian sebagai berikut :

        
 

Tabel 3.2

Total Rekening Dana Pihak Ketiga per 31 Maret 2005

 

Total Tabungan 

12.937 

Total Giro 

235 

Total Deposito 

791 

Total 

13.963 

 

= 99,2889 => 100 nasabah

 

  1. Menentukan teknik pengambilan sampel

Dalam penelitian ini, metode penarikan sampel yang digunakan adalah metode pengambilan sampel acak sederhana (simple random sampling) yaitu suatu sampel yang diambil sedemikian rupa sehingga setiap unit memiliki peluang yang sama untuk dipilih sebagai sampel (Singarimbun, 1995:155)

Teknik penarikan sampel random sederhana ini adalah sebagai berikut :

a.     Menentukan populasi penelitian yaitu banyaknya Nasabah Dana Pihak Ketiga dan mendapatkan unit pemilihan sampel dengan cara memperoleh informasi data jumlah nasabah Dana Pihak Ketiga pada Bank Syariah Mandiri cabang Bandung di Jalan Ir. H. Djuanda No. 74

b.     Menentukan besar sampel yang dikehendaki dengan menggunakan rumus Slovin

 

c.    Mengambil sampel secara acak dari unit pemilihan sampel sampai dengan jumlah sampel sama dengan besar sampel yang dikehendaki

(Davis & Cosenza, 1993:227-231)

 

3.4     Teknik Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data mengenai objek penelitian digunakan metode pengumpulan data sebagai berikut:

  • Field Research (Penelitian Lapangan)

    Untuk memperoleh data secara akurat baik melalui survei langsung kepada nasabah atau terjun ke perusahaan yang menjadi objek penelitian, terdiri dari:

  1. Kuesioner yang disebarkan kepada para responden yang menjadi anggota sampel penelitian yaitu nasabah Dana Pihak Ketiga pada PT Bank Syariah Mandiri Tbk cabang Bandung di Jalan Ir. H. Djuanda No. 74.
  2. Observasi yang dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung terhadap kegiatan perusahaan khususnya yang terkait dengan penelitian
  1. Library Research (Penelitian Kepustakaan)

    Mencari data sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber, baik dari literatur, artikel, data perusahaan, dan lain-lain yang dianggap relevan dengan penelitian. Tujuan penelitian kepustakaan ini adalah untuk memperoleh data teoritis untuk membangun landasan teori yang kuat guna mendukung penelitian ini.

 

 

  1. Rancangan Analisis dan Pengujian Hipotesis

    Analisis data yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah yaitu pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah dan pengaruhnya terhadap keputusan menjadi nasabah pada PT Bank Syariah Mandiri Cabang Bandung adalah metode kualitatif dan kuantitatif dimana :

  • Metode kualitatif, mengemukakan data-data yang didapat dengan mengelompokkan, mentabulasi, dan memberikan penjelasan.

    Proses analisa didasarkan pada analisis deskripif berdasarkan kuesioner. Pelaksanaan meliputi pengumpulan data, penyusunan data, interpretasi tentang makna data tersebut.

  • Metode kuantitatif, dilakukan dengan alat bantu statistic yaitu menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solutions) versi 11.5.

 

    Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut :

  1. Mengelompokkan dan mentabulasikan setiap jawaban dari kuesioner yang telah disebar, kemudian menghitung frekuensi dan persentasinya.

 

  1. Memberikan pembobotan untuk setiap jawaban dari pertanyaan tertutup yang berskala ordinal. Pertanyaan positif atau mendukung penelitian akan diberi skor 5-4-3-2-1 dan pertanyaan negatif atau pertanyaan yang tidak mendukung penelitian diberi skor 1-2-3-4-5 (menggunakan skala likert).
  2. Peningkatan Skala Pengukuran

    Data pengamatan memiliki skala ordinal, sehingga agar dapat menggunakan analisis regresi linier dilakukan proses transformasi data dari skala pengukuran ordinal ke skala pengukuran interval melalui suatu metode yang dikenal sebagai Method of Successive Interval (MSI), yang pada hakekatnya adalah suatu prosedur untuk menempatkan setiap objek ke dalam interval.

     

        Langkah-langkahnya sebagai berikut :

    1. Perhatikan setiap butir pertanyaan.
    2. Untuk setiap butir tersebut tentukan berapa orang yang mendapat skor 1,2,3,4 dan 5 yang disebut frekuensi.
    3. Untuk setiap frekuensi dibagi dengan banyaknya respoden dan hasilnya disebut proporsi.
    4. Tentukan proporsi kumulatif dengan menjumlahkan proporsi secara berurutan.
    5. Dengan menggunakan tabel distribusi normal, tentukan nilai Z untuk masing-masing proporsi kumulatif
    6. Tentukan nilai densitas untuk nilai Z yang diperoleh dengan menggunakan table densitas
    7. Tentukan nilai skala dengan menggunaan rumus :

      SV = Density of Lower Limit – Density of Upper Limit

           Area under Upper Limit – Area under Lower Limit

      Dimana:

  • Density at Lower limit    = Kepadatan batas bawah
  • Density at Upper Limit    = Kepadatan batas atas
  • Area Under Upper Limit    = Daerah dibawah batas atas
  • Area Under Lower Limit    = Daerah dibawah batas bawah

    8. Hitung skor (nilai hasil transformasi) untuk setiap pilihan jawaban dengan persamaan berikut :    Score = Scale Value + Scale Value Minimum + 1

     

  1. Melakukan Uji Validitas dan Reliabilitas

    Sebelum menganalisis bagaimana pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah dan pengaruhnya terhadap keputusan menjadi nasabah, terlebih dahulu dilakukan pengujian atas data kuesioner yang telah diperoleh. Pengujian atas data kuesioner tentang pengetahuan konsumen yang mencakup pengetahuan mengenai atribut produk, manfaat, dan nilai kepuasan yang diterima konsumen terhadap keputusan menjadi nasabah pada Bank Syariah Mandiri cabang Bandung mencakup uji validitas dan reliabilitas. Pengujian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah data yang dihasilkan dari alat ukur tersebut dapat menjamin mutu dari penelitian sehingga kesimpulan ataupun alasan-alasan yang dikemukakan terhadap hubungan antar variabel dapat dipercaya, akurat, dan dapat diandalkan agar pada akhirnya hasil penelitian bisa diterima. Selain itu, penulis juga tidak mengambil kesimpulan yang keliru mengenai gambaran keadaan yang sebenarnya terjadi. Pengujian validitas dan reliabilitas ini dilakukan dengan menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solutions) versi 11.5

     

     

     

    Uji Validitas

    Uji validitas dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu alat ukur mengukur apa yang ingin kita teliti atau sejauh mana dapat mengenai sasaran. Semakin tinggi validitas suatu alat test, maka alat tersebut semakin menunjukkan apa yang seharusnya diukur. Dalam penelitian ini uji validitas dilakukan untuk mengetahui apakah pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner yang telah disiapkan dapat mengukur variabel yang diinginkan. Untuk menguji validitas kuesioner dalam penelitian ini digunakan analisis item/butir dengan menguji karakteristik masing-masing item yang menjadi bagian tes yang bersangkutan. Item-item yang tidak memenuhi persyaratan tidak boleh diikutkan menjadi bagian tes. Pengujian ini dilakukan dengan mengkorelasikan skor item dengan skor total sehingga menghasilkan item-item korelasi.

        Koefisien korelasi yang dihasilkan kemudian dilihat nilainya. Item-item yang memiliki korelasi negatif atau lebih kecil dari nilai pada tabel maka harus dibuang atau direvisi karena memiliki tingkat validitas yang rendah (Singgih Santoso, 2000:264). Pengujian validitas ini menggunakan alat bantu SPSS 11.5 for window. Koefisien korelasi tiap item akan dibandingkan dengan r tabel dengan taraf signifikansi 5%. Jika nilai korelasi suatu item/pertanyaan lebih kecil dari r tabel
    maka pertanyaan tersebut tidak valid dan harus dikeluarkan dari pengujian yang dilakukan.

    Berdasarkan jumlah sampel penelitian sebesar 100 orang
    dan α = 0,05 maka nilai r tabel
    adalah sebesar 0,195. Item kuisioner yang memiliki nilai koefisien korelasi lebih kecil dari nilai kritisnya akan dibuang dan tidak diikutsertakan dalam pengujian selanjutnya. Setelah melalui uji validitas dengan menggunakan bantuan program SPSS 11.5 for
    windows. Dalam perhitungannya, seluruh item pertanyaan pada Variabel X yaitu pengetahuan konsumen, baik pengetahuan mengenai atribut produk, manfaat, maupun nilai kepuasan yang diperoleh konsumen dan item pertanyaan pada Variabel Y yakni keputusan konsumen dinilai valid karena memiliki nilai koefisien korelasi lebih besar dari 0,195. Koefisien korelasi tiap item pernyataan terhadap skor totalnya disajikan pada tabel di bawah ini.

     

Tabel 3.3

Koefisien Validitas Variabel X

 

Item 

Koefisien Korelasi

Validitas 

Pengetahuan Atribut Produk (X1)

0,566

Valid 

0,692

Valid 

0,672

Valid 

0,641

Valid 

0,558

Valid 

0,516 

Valid 

0,542 

Valid 

0,522 

Valid 

0,640 

Valid 

Pengetahuan Manfaat Produk (X2)

10

0,730

Valid 

11

0,879

Valid

12

0,799

Valid 

13

0,790

Valid 

14

0,838

Valid 

Pengetahuan Nilai Kepuasan (X3)

15

0.937

Valid 

16

0,935

Valid 

     Sumber: Hasil Pengolahan Data

 

Tabel 3.4

Koefisien Validitas Variabel Y

 

Item 

Koefisien Korelasi 

Validitas 

Keputusan Menjadi Nasabah

0,587 

Valid 

0,672 

Valid 

0,758 

Valid 

0,573 

Valid 

0,511 

Valid 

0,636 

Valid 

0,582 

Valid 

0,669 

Valid 

0,691 

Valid 

10 

0,732 

Valid 

11 

0,737 

Valid 

12 

0,677 

Valid 

13 

0,701 

Valid 

14 

0,711 

Valid 

15 

0,550 

Valid 

16 

0,541 

Valid 

Sumber: Hasil Pengolahan Data

 

    Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas bertujuan untuk menunjukkan sejauh mana suatu hasil pengukuran relatif konsisten apabila pengukuran diulangi dua kali atau lebih. Dengan kata lain, bahwa reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan, bila alat pengukur tersebut digunakan dua kali atau lebih untuk mengukur gejala yang sama dan hasil pengukuran yang diperoleh relatif konsisten.

Untuk menguji reliabilitas data, dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode belah dua (split half method). Metode belah dua adalah metode yang dilakukan dengan cara mengkorelasikan antara total skor pada item pertanyaan yang ganjil dengan total skor pertanyaan yang genap. Kemudian dilanjutkan dengan pengujian menggunakan rumus Spearman-Brown (Syahri Alhusin MS, 2002:342) :


Keterangan:

r1/21/2     =     korelasi antara skor-skor belahan tes

r11     =    koefisien reliabilitas yang sudah disesuaikan

    Koefisien reliabilitas yang dihasilkan kemudian dilihat nilainya. Variabel yang memiliki koefisien reliabilitas negatif atau lebih kecil dari nilai pada tabel perlu direvisi karena memiliki tingkat reliabilitas yang rendah (Singgih Santoso 2000:264). Pengujian reliabilitas ini menggunakan alat bantu SPSS 11.5 for windows.

Berdasarkan jumlah sampel penelitian sebesar 100 orang
dan α = 0,05 maka nilai r tabel
adalah sebesar 0,195. Variabel yang memiliki nilai koefisien reliabilitas lebih kecil dari nilai kritisnya akan direvisi sebelum tahap pengujian pengujian selanjutnya.

Setelah melalui uji reliabilitas dengan menggunakan bantuan program SPSS 11.5 for windows dan berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus Spearman Brown terlihat bahwa seluruh variable reliabel karena memiliki nilai koefisien reliabilitas lebih besar dari 0,195. Koefisien reliabilitas disajikan pada tabel di bawah ini:

Tabel 3.5

Koefisien Reliabilitas Variabel X

 

Variabel 

Koefisien Reliabilitas 

Reliabilitas 

Pengetahuan Atribut Produk

0,838

Reliabel 

Pengetahuan Manfaat Produk 

0,899 

Reliabel 

Pengetahuan Nilai Kepuasan 

0,857 

Reliabel 

Sumber: Hasil Pengolahan Data

 

Tabel 3.6

Koefisien Reliabilitas Variabel Y

 

Variabel 

Koefisien Reliabilitas 

Reliabilitas 

Keputusan Menjadi Nasabah 

0,943

Reliabel 

Sumber: Hasil Pengolahan Data

 

5.     Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh sebuah variabel terhadap variabel yang lain dilakukan analisis regresi linier berganda.

Dalam analisis regresi dikemukakan asumsi-asumsi yang harus dipenuhi agar penaksiran parameter dan koefisien-koefisien regresi tidak bias dan mendekati keadaan yang sesungguhnya. Sehubungan dengan itu, sebelum dilakukan analisis data dan pengujian hipotesis maka terlebih dahulu akan dilakukan pengujian terhadap asumsi-asumsi dalam analisis regresi tersebut. Sesuai dengan data yang digunakan dalam penelitian ini maka asumsi regresi yang akan diuji adalah normalitas, heterokedastisitas, dan multikolinieritas.

 

Pengujian Normalitas

Dalam regresi linear disturbance error atau variabel gangguan (ei) berdistribusi secara normal atau acak untuk setiap nilai Xi, mengikuti distribusi normal disekitar rata-rata. Pengujian dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu menggunakan pendekatan statistic dan grafik. Dalam hal ini data diuji dengan pendekatan grafik. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

 

Pengujian Heteroskedastisitas

Syarat klasik ini dalam Analisis Regresi adalah harus tidak terjadi gejala heteroskedastisitas yang berarti, varian residual harus sama. Kebanyakan data cross-section mengandung situasi heteroskedastis karena data tersebut menghimpun data yang mewakili berbagai ukuran. Situasi heteroskedastis akan menyebabkan penaksiran koefisien-koefisien regresi menjadi tidak efisien dan hasil taksiran dapat menjadi tidak stabil. Dengan demikian, agar koefisien-koefisien regresi tidak menyesatkan, maka situasi heteroskedastis tersebut harus dihilangkan dari model regresi.

 

Pengujian Multikolinieritas

Multikolinieritas merupakan suatu situasi dimana beberapa atau semua variabel berkorelasi tinggi. Jika terdapat korelasi yang mendekati sempurna di antara sesama variabel independen, maka konsekuensinya adalah:

1. Koefisien-koefisien regresi menjadi tidak dapat ditaksir.

2. Nilai standar error setiap koefisien regresi menjadi tidak terhingga.

Dengan demikian berarti semakin besar korelasi diantara sesama variabel independen, maka koefisien-koefisien regresi semakin besar kesalahannya dan standar errornya semakin besar pula. Cara yang digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya multikoliniearitas adalah dengan: menggunakan Variance Inflation Factors (VIF),

dimana Ri2 adalah koefisien determinasi yang diperoleh dengan meregresikan salah satu variabel bebas Xi terhadap variabel bebas lainnya. Jika nilai VIF nya kurang atau sama dengan 10 (Myers, 1990 :369) maka dalam data tidak terdapat Multikolinieritas.

 

6.    Setelah asumsi penting dalam regresi di atas dapat dipenuhi,maka selanjutnya dapat dilakukan perhitungan koefisien regresi. Hubungan fungsional tersebut secara linier dijabarkan sebagai berikut :

 

    Analisis Regresi Multiple Linier

        Digunakan untuk mengestimasikan suatu hubungan antara satu variable dependen dengan lebih dari satu variable independent. Formulasi yang digunakan adalah :

 

            Y = ao + β1X1 + β2X2 + β3X3 + ε    

    
 

                Sumber : Anto Dajan (1994:325)

    Keterangan :

    Y = Keputusan menjadi nasabah (variable dependen)

    ao = Koefisien intercept

    β1 s/d β3 = Koefisien regresi parsial

    X1 = Pengetahuan atribut produk

    X2 = Pengetahuan manfaat produk

    X3 = Pengetahuan nilai/kepuasan yang diterima

    ε = Faktor lain yang mempengaruhi variable dependen (error)

 

 

 

    Penetapan Tingkat Signifikansi

    
Tingkat signifikansi yang dipilih dalam penelitian ini adalah 5% (α = 0,05) karena dinilai cukup ketat untuk mewakili hubungan antar variable dan merupakan tingkat signifikansi yang umum digunakan dalam ilmu social.

 

Pengujian Hipotesis

Hipotesis :

Ho : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari variable X (Pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah) terhadap variable Y (Keputusan menjadi nasabah)

H1 : Terdapat pengaruh yang signifikan dari variable X (Pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah) terhadap variable Y (Keputusan menjadi nasabah)

 

Pengujian koefisien regresi secara simultan

Hipotesis Statistik :

    Ho : Tidak terdapat pengaruh X1,X2,X3 terhadap Y

        (Semua βi = 0)

    H1 : Terdapat pengaruh X1,X2,X3 terhadap Y

        (Sekurang-kurangnya ada sebuah βi ≠ 0)

Statistik uji yang digunakan adalah statistic uji F dengan prosedur perhitungan sebagai berikut :

JK sisa =

JK total =

JK regresi = JK total – JK sisa

RJK = JK/db

F-hitung = RJKregresi / RJK sisa ….(*)

Keterangan:

JK= Jumlah kuadrat,

RJK = Rata-rata jumlah kuadrat,

k= jumlah variable bebas

n = jumlah sampel.

Sehingga diperoleh tabel “Anova” sebagai berikut :

Sumber Varians 

derajat bebas (db) 

JK 

RJK 

Fhitung 

Regresi 

JK regresi 

RJK regresi 

(*) 

Residu  

n –k -1 

JK sisa 

RJK sisa 

 

Total 

N –1 

JK total 

RJK total 

 

 

    Ketentuan adalah jika: signifikasi<a, maka Ho ditolak dan H1 diterima, dan jika signifikansi > a, maka Ho diterima dan H1 ditolak. Selain itu juga dengan membandingkan Fhitung dengan F tabel dimana: jika: Fhitung > Ftabel, maka Ho ditolak dan H1 diterima, jika Fhitung < Ftabel, maka Ho diterima dan H1 ditolak.

 

Pengujian koefisien regresi secara individual

    Langkah selanjutnya yang dilakukan adalah menguji keberartian koefisien model regresi secara individual.

 

Hipotesis statistik :

Ho : Tidak terdapat pengaruh X1 terhadapY; X2 terhadap Y; X3 terhadap Y

    (βi = 0)

H1 : Terdapat pengaruh X1 terhadapY; X2 terhadap Y; X3 terhadap Y

    (βi ≠ 0)

Statistik uji yang digunakan adalah sebagai berikut :

t = (bi – βi) / Sbi

Ketentuan adalah jika: signifikasi<a, maka Ho ditolak dan H1 diterima, dan jika signifikansi > a, maka Ho diterima dan H1 ditolak. Selain itu juga dengan membandingkan Thitung dengan Ttabel dimana: jika: Thitung > Ttabel, maka Ho ditolak dan H1 diterima, jika Thitung < Ttabel, maka Ho diterima dan H1 ditolak.

Uji koefisien regresi parsial ini digunakan untuk mengidentifikasi rumusan masalah keempat yaitu untuk mengetahui jenis pengetahuan konsumen yang paling menentukan (signifikan) keputusan menjadi nasabah.

 

Koefisien Determinasi Multiple

    Koefisien determinasi multiple dihitung untuk menentukan besar pengaruh variable independent secara bersama-sama terhadap variable dependen. Pada intinya untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan model persamaan dalam menerangkan variasi variabel dependen. Metode ini digunakan untuk menjawab rumusan masalah kedua yakni guna mengetahui seberapa jauh pengetahuan konsumen berpengaruh terhadap keputusan menjadi nasabah. Dengan kata lain mengukur kontribusi variable X terhadap variableY.

        Koefisien determinasi multiple diperoleh dengan menggunakan Adjusted R Square :

Adjusted R2 = 1 – (1 – R2) (n -1 / n – k -1)

    Dalam pengolahan data penulis memanfaatkan software aplikasi yaitu program SPSS 11.5 for windows, excel, dan software pengolahan data lainnya.

 

 

HIPOTESIS

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

 

2.1    Kajian Pustaka

2.1.1         Perilaku Konsumen

Schiffman dan Kanuk (2004:8) menerangkan tentang definisi perilaku konsumen sebagai berikut :

The behavior that consumers display in searching for purchasing, using, evaluating, and disposing of products, services, and ideas which they expect to satisfy their needs“(“Perilaku yang ditunjukkan oleh konsumen dalam pencariannya untuk membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan membuang produk, jasa dan ide yang mereka kira dapat memenuhi kebutuhan mereka”).

 

Sedangkan Engel, Blackwell dan Miniard (1995:4) mengartikannya sebagai

“Consumer behavior as those activities directly involved in obtaining, consuming, and disposing of products and services, including the decision processes that precede and follow these action” (“Perilaku konsumen sebagai tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan ini”).

 

Variasi definisi lainnya seperti yang dikutip oleh Ujang Sumarwan sebagai berikut : “Perilaku yang ditujukan oleh orang-orang dalam merencanakan, membeli, dan menggunakan barang-barang ekonomi dan jasa” (Winardi:1991). “Perilaku yang dikaitkan dengan preferences dan possibilities” (Deaton dan Muellbawer:1986). “Perilaku konsumen merupakan pengkajian dan perilaku manusia sehari-hari” (Mullen dan Johnson:1990).

Schiffman dan Kanuk (2004:8) mengemukakan bahwa “Studi perilaku konsumen adalah suatu studi mengenai bagaimana seorang individu membuat keputusan untuk mengalokasikan sumber daya yang tersedia (waktu, uang, usaha, dan energi).” Secara sederhana, studi perilaku konsumen meliputi hal-hal sebagai berikut, Apa yang dibeli konsumen? (What they buy?), Mengapa konsumen membelinya? (Why they buy it?), Kapan mereka membelinya? (When they buy it?), Dimana mereka membelinya? (Where they but it?), Berapa sering mereka membelinya? (How often they buy it?), Berapa sering mereka menggunakannya? (How often they use it?).

Dengan kata lain perilaku konsumen meliputi aktivitas bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli, memakai, dan membuang barang, jasa, dan gagasan atau pengalaman dalam rangka memuaskan kebutuhan dan hasrat mereka. Memahami perilaku konsumen dan mengenal pelanggan bukan hal yang sederhana. Pelanggan mungkin menyatakan kebutuhan dan keinginan mereka namun dapat bertindak sebaliknya. Mereka mungkin menanggapi pengaruh yang merubah mereka pada menit-menit terakhir. Karenanya pemasar harus mempelajari keinginan, persepsi, preferensi serta perilaku belanja dan pembelian pelanggan sasaran mereka.

 

2.1.1.1     Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pembelian Konsumen

Engel, Blackwell dan Miniard (1994:60) berpendapat bahwa konsumen dapat dipengaruhi perilakunya menurut kehendak pihak yang berkepentingan. Selanjutnya Engel juga menyebutkan sedikitnya ada 3 faktor yang menjadi deteminan variasi penentu keputusan konsumen. 3 faktor ini yang menjadi pengaruh yang mendasari pada perilaku konsumen. Faktor-faktor tersebut adalah :

  1. Pengaruh Lingkungan.

        Konsumen hidup dalam lingkungan yang kompleks dimana keputusan mereka dipengaruhi oleh 1. Budaya, 2. Kelas Sosial, 3. Pengaruh Pribadi, 4. Keluarga, dan 5. Situasi.

  2. Perbedaan dan Pengaruh Individual.

        Konsumen juga dipengaruhi faktor internal yang menggerak dan mempengaruhi perilaku mereka. Faktor internal ini sangat mungkin berbeda antar individu sehingga akan menghasilkan keputusan dan perilaku yang berbeda pula. Faktor-faktor tersebut adalah 1. Sumber daya konsumen, 2. motivasi dan Keterlibatan, 3. Pengetahuan, 4. Sikap, dan, 5. Kepribadian, gaya hidup, dan demografi.

  3. Proses Psikologis.

        Proses psikologis dari konsumen akan membawa mereka pada proses berikut yaitu : 1. Pengolahan Informasi, 2. Pembelajaran dan, 3. Perubahan Sikap/Perilaku, yang kesemuanya akan memberikan dampak pada penentuan keputusan mereka.

    Senada dengan Engel, Philip Kotler (2001:197) menyebutkan setidaknya ada 4 faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen yaitu : faktor budaya, sosial, kepribadian, dan kejiwaan. Masing-masing dari faktor-faktor tersebut memiliki subfaktor yang menjadi elemen pembentuknya.

 

 

Sumber: Prinsip-Prinsip Pemasaran, Philip Kotler (2001:197)

 

Gambar 2.1

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pembelian konsumen

    

    Penelitian pada faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen ini akan dapat menghasilkan petunjuk bagaimana meraih dan melayani konsumen secara lebih efektif.

 

2.1.1.2 Proses Keputusan Pembelian Konsumen

    Salah satu keputusan yang penting diambil konsumen dan harus mendapat perhatian yang besar dari para pemasar adalah keputusan pembelian konsumen. Keputusan menurut Schiffman dan Kanuk (2004:547) adalah: “..selection of an option from two or more alternative choices..”

    Menurut Kotler (2000:192) untuk sampai kepada keputusan pembelian konsumen akan melewati 5 tahap yaitu :

 

 

  1. Problem Recognition

    Merupakan tahap dimana pembeli mengenali masalah atau kebutuhannya. Pembeli merasakan perbedaan antara keadaan aktualnya dengan keadaan yang diinginkannya. Kebutuhan tersebut dapat dipicu oleh rangsangan internal seperti lapar dan haus yang bila mencapai titik tertentu akan menjadi sebuah dorongan dan rangsangan eksternal. Misalnya ketika melewati toko kue yang meragsang rasa laparnya.

  2. Information Search

    Setelah tergerak oleh stimuli konsumen berusaha mencari informasi lebih banyak tentang hal yang dikenalinya sebagai kebutuhannya. Konsumen memperoleh info dari sumber pribadi (keluarga, teman, tetangga, dan kenalan), komersial (iklan, tenaga penjual, perantara, kemasan), publik (media massa, organisasi pembuat peringkat), dan sumber pengalaman (pengkajian, pemakaian produk)

  3. Alternative Evaluation

    Merupakan tahapan dimana konsumen memperoleh informasi tentang suatu objek dan membuat penilaian akhir. Pada tahap ini konsumen menyempitkan pilihan hingga alternatif yang dipilih berdasarkan besarnya kesesuaian antara manfaat yang diinginkan dengan yang bisa diberikan oleh pilihan produk yang tersedia.

     

     

     

  4. Purchase Decision.

    Merupakan tahapan dimana konsumen telah memiliki pilihan dan siap melakukan transaksi pembelian atau pertukaran antara uang atau janji untuk membayar dengan hak kepemilikan atau penggunaan suatu benda.

  5. Post-purchase Behaior

    Merupakan tahapan dimana konsumen akan mengalami dua kemungkinan yaitu kepuasan dan ketidakpuasan terhadap pilihan yang diambilnya.

     

2.1.2     Pengetahuan Konsumen (Consumer knowledge)

2.1.2.1     Pengertian Pengetahuan Konsumen (Consumer knowledge)

    Mowen and Minor (1998:106) mendefinisikannya sebagai “The amount of experience with and information about particular produts or services a person has”.

        Sedangkan Engel, Blackwell and Miniard (1995:337) :

        “at a general level, knowledge can be defined as the information stored     within memory. The subset of total information relevant to consumers     functioning in the marketplace is called consumer knowledge”.

 

        Berdasarkan kepada dua definisi tersebut dapat diartikan bahwa pengetahuan konsumen adalah semua informasi yang dimilki konsumen mengenai berbagai macam produk dan jasa, serta pengetahuan lainnya yang terkait dengan produk dan jasa tersebut dan informasi yang berhubungan dengan fungsinya sebagai konsumen.

 

 

  1. Jenis Pengetahuan konsumen

    Para ahli psikologi kognitif membagi pengetahuan ke dalam pengetahuan deklaratif (Declarative knowledge) dan pengetahuan prosedur (Procedural knowledge). Pengetahuan deklaratif adalah fakta subjektif yang diketahui oleh seseorang. Arti subjektif disini adalah pengetahuan orang tersebut mungkin tidak selalu harus sesuai dengan realitas yang sebenarnya. Sedangkan pengetahuan prosedur adalah pengetahuan mengenai bagaimana fakta-fakta tersebut digunakan. Pengetahuan deklaratif terbagi menjadi dua kategori : episodic dan semantic. Pengetahuan episodic (Episodic knowledge) melibatkan pengetahuan yang dibatasi dengan lintasan waktu. Pengetahuan ini digunakan untuk menjawab pertanyaan seputar waktu penggunaan suatu produk. Sebaliknya, pengetahuan semantic (Semantic knowledge) mengandung pengetahuan yang digeneralisasikan yang memberikan arti bagi dunia seseorang.

Mowen dan Minor (1998:106) membagi pengetahuan konsumen menjadi tiga kategori : (1). Pengetahuan Objektif (Objective knowledge), (2). Pengetahuan Subjektif (Subjective knowledge), dan (3). Informasi mengenai pengetahuan lainnya. Pengetahuan objektif adalah informasi yang benar mengenai kelas produk yang disimpan di dalam memori jangka panjang konsumen. Pengetahuan subjektif adalah persepsi konsumen mengenai apa dan berapa banyak yang dia ketahui mengenai kelas produk. Konsumen mungkin juga memiliki informasi mengenai pengetahuan berbagai hal lainnya.

Engel , Blackwell dan Miniard (1994:317) membagi pengetahuan konsumen ke dalam tiga jenis pengetahuan : (1). Pengetahuan Produk, (2). Pengetahuan Pembelian, dan (3). Pengetahuan Pemakaian.

  • Pengetahuan Produk

Pengetahuan produk sendiri merupakan konglomerat dari banyak jenis informasi yang berbeda. Pengetahuan produk meliputi :

a). Kesadaran akan kategori dan merek produk di dalam kategori produk

b). Terminologi produk

c). Atribut atau ciri produk

d). Kepercayaan tentang kategori produk secara umum dan mengenai merek spesifik

Analisis Kesadaran

Merek yang akrab dengan konsumen merupakan perangkat kesadaran (awareness set). Jelaslah, sulit untuk menjual produk yang “tidak dikenal.” Sebagai akibatnya, sasaran pemasaran yang penting adalah memindahkan merek ke dalam perangkat kesadaran.

Analisis Citra

Pemasar juga berkepentingan dengan kepercayaan yang dianut oleh konsumen dan menentukan suatu citra merek. Dengan memeriksa kepercayaan konsumen mengenai kemampuan merek adalah mungkin untuk menentukan apakah suatu produk telah mencapai posisi yang diingnkan di dalam benak konsumen. Pemeriksaan pengetahuan konsumen mengenai sifat objek dikenal sebagai analisis citra (Image analysis).

Kesalahan Persepsi Terhadap Produk

Pemasar harus siaga terhadap ketidakakuratan di dalam pengetahuan konsumen. Sangat lazim untuk mendapatkan bahwa konsumen memiliki kepercayaan keliru yang menimbulkan penghalang yang berarti bagi keberhasilan.

Pengetahuan Harga

Salah satu aspek pengetahuan produk yang patut dikhususkan adalah aspek yang melibatkan harga produk. Pemeriksaan atas apa yang konsumen ketahui mengenai harga absolut dan harga relatif dapat memberikan informasi penting untuk membimbing tindakan pemasaran. Keputusan penetapan harga oleh eksekutif pemasaran mungkin pula bergantung kepada persepsi mereka mengenai berapa baik konsumen mendapatkan informasi mengenai harga. Pemasar akan lebih dimotivasi untuk menekan harga dan berespon terhadap potongan harga kompetitif bila mereka percaya konsumen banyak mengetahui tentang harga yang ditetapkan di pasar. Sebaliknya, tingkat pengetahuan yang rendah mengenai harga memungkinkan pemasar kurang memperhatikan tentang perbedaan harga yang berarti sehubungan dengan pesaing. Bila konsumen sebagian besar tidak mengetahui tentang perbedaan harga relatif, pemasar dapat mengeksploitasi ketidaktahuan ini melalui harga yang lebih tinggi.

 

  • Pengetahuan Pembelian

Pengetahuan Pembelian (Purchase knowledge) mencakupi bermacam potongan informasi yang dimiliki konsumen yang berhubungan erat dengan perolehan produk. Dimensi dasar dari pengetahuan pembelian melibatkan informasi berkenaan dengan keputusan tentang dimana produk tersebut harus dibeli dan kapan pembelian harus terjadi.

Dimana Membeli

Masalah mendasar yang harus diselesaikan oleh konsumen selama pengambilan keputusan adalah dimana mereka harus membeli suatu produk. Banyak produk dapat diperolah melalui saluran yang sangat berbeda. Karena saluran yang ada mungkin terdiri dari banyak pesaing, konsumen harus memutuskan lebih jauh mana saluran yang harus dikunjungi. Keputusan dimana membeli ditentukan sebagian besar oleh pengetahuan pembelian. Pengetahuan pembelian mencakup informasi yang dimiliki konsumen mengenai lokasi produk dimana pengetahuan ini dapat mempengaruhi perilaku pembelian. Bila konsumen tidak akrab dengan sebuah toko, mereka harus lebih mengandalkan informasi di dalam toko dan peraga untuk mengidentifikasi lokasi produk. Pengolahan stimulus dalam toko yang meningkat mungkin mengaktifkan kebutuhan atau keinginan yang sebelumnya tidak dikenali, sehingga menghasilkan pembelian yang tidak direncanakan.

Kapan Membeli

Kepercayaan konsumen mengenai kapan membeli adalah satu lagi komponen yang relevan dari pengetahuan pembelian. Konsumen yang mengetahui bahwa suatu produk secara tradisional dijual selama waktu tertentu mungkin menunda pembelian hingga waktu seperti ini tiba. Pengetahuan mengenai kapan harus membeli dapat menjadi faktor penentu yang sangat penting dari perilaku pembelian untuk inovasi baru. Banyak konsumen tidak akan langsung membeli produk baru karena mereka percaya bahwa harga mungkin turun dengan berlalunya waktu.

 

  • Pengetahuan Pemakaian

Pengetahuan pemakaian (Usage knowledge) mencakup informasi yang tersedia di dalam ingatan mengenai bagaimana suatu produk dapat digunakan dan apa yang diperlukan untuk menggunakan produk tersebut. Pengetahuan pemakaian konsumen penting karena beberapa alasan. Pertama, konsumen tentu saja lebih kecil kemungkinannya membeli suatu produk bila mereka tidak memiliki informasi yang cukup mengenai bagaimana mengguanakan produk tersebut. Upaya pemasaran yang dirancang untuk mendidik konsumen tentang bagaimana menggunakan produk pun dibutuhkan. Penghalang serupa bagi pembelian terjadi bila konsumen memiliki informasi yang tidak lengkap mengenai cara-cara yang berbeda atau situasi dimana suatu produk dapat digunakan. Walaupun pengetahuan pemakaian yang tidak memadai tidak mencegah terjadinya pembelian produk, hal ini tetap saja memiliki efek yang merugikan pada kepuasan konsumen. Produk yang digunakan secara salah mungkin tidak bekerja dengan benar sehingga menyebabkan pelanggan merasa tidak puas.

Peter dan Olson (1996:86) juga membagi pengatahuan menjadi tiga jenis pengetahuan produk yaitu : (1). Pengetahuan tentang karakteristik atau atribut produk. (2). Pengetahuan tentang manfaat produk, dan (3). Pengetahuan tentang kepuasan yang diberikan oleh produk/jasa bagi konsumen. Secara rinci, diuraikan sebagai berikut :

  • Produk Sebagai Perangkat Ciri (Products as Bundles of Attributes)

Keputusan tentang ciri produk adalah elemen penting dalam strategi pemasaran. Seorang konsumen akan melihat suatu produk berdasarkan kepada karakteristik/ciri atau atribut dari produk tersebut. Bagi seorang konsumen, maka mobil memiliki atribut warna, model, tahun pembuatan, jumlah cc, merek, manual atau otomatis, dan sebagainya.

Seorang konsumen yang memilih sebuah produk juice sari buah mungkin akan mempertimbangkan atribut berikut rasa manis, rasa sari buah, harga, merek, atau kemasan. Televisi memiliki atribut ukuran (14, 20,29, atau 32 inchi), jenis layar (datar atau biasa), stereo, merek dan lain-lain. Seorang konsumen mungkin memiliki kemampuan yang berbeda dalam menyebutkan karakteristik atau atribut dari suatu produk. Hal ini disebabkan konsumen memiliki pengetahuan yang berada mengenai produk tersebut. Sebagian konsumen mungkin memiliki informasi yang lengkap mengenai produk mobil, sehingga dia mampu mendeskripsikan secara rinci berbagai atribut dari mobil tersebut. Para pemasar perlu memahami apa yang diketahui oleh konsumen, atribut apa saja yang dikenal dari suatu produk, atribut mana yang dianggap paling penting oleh konsumen. Pengetahuan mengenai atribut produk akan mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen. Pengetahuan yang lebih banyak mengenai atribut suatu produk akan memudahkan konsumen untuk memilih produk yang akan dibelinya. Strategi pemasaran terutama dalam komunikasi sering diarahkan untuk menyampaiakan informasi mengenai atribut-atribut baru yang dimiliki oleh suatu produk, dengan harapan bahwa atribut tersebut memberikan nilai tambah di mata konsumen.

Peter dan Olson (1996:84) menyebutkan bahwa konsumen memiliki tingkat pengetahuan produk yang berbeda. Pengetahuan ini meliputi kelas produk (Product class), bentuk produk (Product form), merek (brand), model/fitur (model/features).

Dari sudut pandang pemroses kognitif, kita dapat mempertanyakan apakah konsumen memang memilki pengetahuan tentang semua ciri tersebut dalam ingatannya dan apakah konsumen memang mengaktifkan serta menggunakan pengetahuan tersebut ketika berpikir tentang suatu produk atau merek. Pemasar perlu mengetahui ciri produk mana yang paling penting bagi konsumen, apa arti ciri tersebut bagi konsumen, dan bagaimana menggunakan pengetahuan tersebut dalam proses kognitif seperti pemahaman dan pengambilan keputusan.

Konsumen memiliki berbagai tingkatan pengetahuan tentang ciri produk. Pengetahuan tentang ciri abstrak (Abstract attributes) mewakili karakteristik subjektif tak nyata dari suatu produk. seperti kualitas kehangatan sebuah selimut atau gaya dan kenyamanan sebuah mobil. Pengetahuan tentang ciri konkrit (Concrete attributes) mewakili karakteristik nyata suatu produk seperti jenis serat selimut atau ruang kaki kursi depan sebuah mobil. Disamping itu, pengetahuan ciri konsumen juga berisikan evaluasi afeksi dari setiap ciri (saya tidak suka rasa gatal selimut wool; saya suka es krim remah kue).

 

  • Produk Sebagai Perangkat Manfaat (Products as Bundles of Benefits)

Jenis pengetahuan produk yang kedua adalah pengetahuan tentang manfaat produk. Konsumen mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan karena mengetahui manfaat produk tersebut bagi kesehatan tubuhnya. Manfaat yang dirasakan konsumen setelah mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan adalah memperlancar proses metabolisme tubuh. Inilah yang disebut sebagai pengetahuan tentang manfaat produk. Konsumen seringkali berpikir mengenai manfaat yang ia akan rasakan jika mengkonsumsi atau membeli suatu produk, bukan karena atributnya. Konsumen mungkin tidak tertarik untuk mengetahui berbagai kandungan zat gizi (atribut) dari buah mengkudu, ia lebih tertarik untuk mengetahui apa manfaat buah mengkudu tersebut guna mengobati sakitnya. Pengetahuan ini penting bagi konsumen karena pengetahuan ini akan mempengaruhi keputusan pembeliannya.

Di sisi lain, pemasar juga menyadari bahwa konsumen sering berpikir tentang produk dan merek dalam konteks konsekuensinya, bukan ciri-cirinya. Konsekuensi adalah apa yang terjadi pada konsumen ketika suatu poduk dibeli dan digunakan atau dikonsumsi. Konsumen dapat memiliki pengetahuan tentang dua jenis konsekuensi produk yaitu konsekuensi fungsional dan konsekuensi psikososial. Konsekuensi fungsional (Functional consequences) adalah dampak tak nyata dari penggunaaan suatu produk yang dialami konsumen. Konsekuensi psikososial (Psychosocial consequences) mengacu pada dampak psikologis dan sosial dari penggunaan suatu produk konsumen. Psikologis penggunaan produk adalah dampak internal pribadi seperti bagaimana suatu produk membuat anda merasakannya.

 

  • Produk Sebagai Pemuas Nilai (Products as Values Satisfiers)

Konsumen juga memiliki pengetahuan tentang nilai pribadi dan simbolis yang dapat dipenuhi atau dipuaskan oleh suatu produk atau merek. Nilai (values) adalah sasaran hidup yang luas dari masyarakat (saya ingin berhasil; saya perlu kemana). Nilai juga melibatkan afeksi sehubungan dengan kebutuhan atau tujuan tesebut (perasaan dan emosi yang menyertai keberhasilan). Menyadari bahwa nilai telah terpuaskan atau tujuan utama hidup telah tercapai cenderung tidak nyata dan subjektif (saya merasa aman; saya dihormati oleh orang lain; saya berhasil). Sebaliknya konsekuensi fungsional dan psikososial lebih nyata dan lebih jelas ketika terjadi.

Ada beberapa cara untuk mengklasifikasikan nilai, yaitu dengan mengidentifikasi dua tipe atau level nilai : instrumental dan terminal. Nilai instrumental (Instrumental values) adalah pola perilaku atau cara bertindak yang diinginkan (bersenang-senang, bertindak independent, menunjukkan kepercayaan diri). Nilai terminal (Terminal values) adalah status keberadaan yang diinginkan, status psikologis yang luas (bahagia, damai, berhasil). Nilai instrumental dan terminal (tujuan atau kebutuhan) mewakili konsekuensi terluas dan paling personal yang ingin dicapai seseorang dalam hidupnya.

 

 

2.1.2.3 Pengertian Bank Syariah

Menurut Undang-undang No. 10 tahun 1998 Bank Syariah adalah Bank umum yang melaksanakan usaha berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dengan pihak lain untuk penyimpanan dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha atau kegiatan lainnya yang sesuai dengan syariah.

 

2.1.2.4 Prinsip Bank Syariah

Prinsip yang dijalankan dalam melaksanakan operasional bank syariah adalah :

  • Prinsip Keadilan, tercermin dari penerapan imbalan atas dasar bagi hasil dan pengambilan margin keuntungan yang telah disepakati oleh bank dan nasabah.
  • Prinsip Kesederajatan, bank syariah menempatkan nasabah penyimpan dana, nasabah pengguana dana, maupun bank pada kedudukan yang sama dan sederajat. Hal ini tercermin dalam hak, kewajiban, resiko, dan keuntungan yang berimbang di antara nasabah penyimpan dana, nasabah pengguna dana, maupun pihak bank.
  • Prinsip Ketenteraman, produk-produk bank syariah telah sesuai dengan prinsip dan kaidah muamalah Islam, antara lain : tidak ada unsur riba dan menerapkan zakat harta. Dengan demikian nasabah merasakan ketenteraman lahir dan batin.    

 

  1. Pengelolaan Bank Syariah dan Bank Konvensional

Pengelolaan bank syariah dan bank konvensional secara umum dapat dibedakan atas beberapa kriteria.

Bank syariah pada hakekatnya dikelola berdasarkan konsep berikut ini :

  1. Islam memandang harta sebagai titipan atau amanah Allah SWT sehingga cara memperoleh, mengelola, dan memanfaatkannya harus sesuai dengan ajaran Islam
  2. Bank syariah mendorong nasabah untuk mengelola hartanya sesuai ajaran Islam
  3. Bank syariah menempatkan akhlaqul karimah baik nasabah maupun pengelola bank sebagai sikap yang mendasari hubungan antara nasabah dan bank
  4. Adanya kesamaan ikatan emosional yang kuat didasarkan prinsip keadilan, prinsip kesederajatan, dan prinsip ketenteraman antara pemegang saham, pengelola bank, dan nasabah atas jalannya usaha bank syariah
  5. Prinsip bagi hasil :
  • Penentuan besarnya resiko, bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung dan rugi
  • Besarnya nisbah bagi hasil berdasarkan jumlah keuntungan yang diperoleh
  • Jumlah bagi hasil meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan
  • Tidak ada yang meragukan keuntungan bagi hasil
  • Bagi hasil tergantung pada keuntungan proyek yang dijalankan. Jika proyek itu tidak mendatangkan keuntungan, maka kerugian itu akan ditanggung bersama oleh kedua belah pihak.

    Sedangkan dibandingkan dengan bank syariah, pengelolaan bank konvensional didasari oleh konsep sebagai berikut :

  • Pada bank konvensional terjadi konflik kepentingan diantara tiga pihak, yaitu pihak yang menginginkan bunga yang tinggi, serta kepentingan pemegang saham yaitu mengoptimalkan interest difference. Sementara itu, kepentingan debitor adalah memperoleh tingkat bunga yang rendah. Dalam hal ini bank konvensional berfungsi sebagai perantara saja.
  • Tidak adanya ikatan emosional antara pemegang saham, pengelola bank, dan nasabah karena masing-masing pihak memiliki keinginan yang bertolak belakang.
    • Sistem bunga :
    • Penentuan suku bunga dibuat pada waktu akad dengan menekankan pada keuntungan pihak bank
    • Besarnya persentase berdasarkan pada jumlah modal yang dipinjamkan
    • Jumlah pembayaran bunga tetap
    • Eksistensi bunga diragukan kehalalannya

     

2.1.2.6 Prinsip Dasar Produk Bank Syariah

Prinsip-prinsip dasar produk bank syariah yang diaplikasikan dalam kegiatan menghimpun dana (Produk pendanaan), antara lain :

  • Wadiah (Depository)

Titipan dari satu pihak kepada pihak lain, baik individu maupun badan hukum, yang harus dijaga dan dikembalikan setiap saat bila pemilik menghendaki.

  • Mudharabah Muthlaqah (General Investment)

Kerjasama antara dua pihak dimana pihak pertama menyediakan modal dan memberikan kewenangan penuh kepada pihak kedua dalam menentukan jenis dan tempat investasi, sedangkan keuntungan dan kerugian dibagi menurut kesepakatan bersama.

 

  • Mudharabah Muqayyadah

Kerjasama antara dua pihak dimana pihak pertama menyediakan modal dan memberikan kewenangan terbatas kepada pihak kedua dalam menentukan jenis dan tempat investasi, sedangkan keuntungan dan kerugian dibagi menurut kesepakatan dimuka.

 

Prinsip-prinsip dasar produk syariah yang diaplikasikan dalam kegiatan penyaluran dana atau produk pembiayaan :

  • Murabahah
    (Deferred Payment Sale)

Suatu perjanjian yang disepakati antar bank syariah dengan nasabah dimana bank menyediakan pembiayaan untuk pembelian bahan baku/modal kerja lainnya yang dibutuhkan nasabah yang akan dibayar kembali oleh nasabah sebesar harga jual (harga beli bank + margin keuntungan) pada waktu yang telah ditentukan.

 

  • Mudharabah
    (Trust Financing, Trust Investment)

Kerjasama antara dua pihak dimana pihak pertama menyediakan modal sedangkan pihak kedua mengelola dana dimana keuntungan dan kerugian dibagi bersama menurut kesepakatan dimuka.

 

  • Musyarakah
    (Partnership, Project Financing Participation)

Perjanjian pembiayaan antara bank syariah dengan nasabah yang membutuhkan pembiayaan, dimana bank dan nasabah secara bersama membiayai suatu usaha/proyek yang juga dikelola secara bersama atas prinsip bagi hasil sesuai dengan penyertaan dimana keuntungan dan kerugian dibagi sesuai kesepakatan dimuka.

 

  • Salam
    (In-front Payment Sale)

Pembiayaan jual beli dimana pembeli memberikan uang terlebih dahulu terhadap barang yang dibeli yang telah disebutkan spesifikasinya dengan pengantaran kemudian.

 

  • Istishna (Purchase by Order or Manufacture)

    Pembiayaan jual beli yang dilakukan bank dan nasabah dimana penjual (pihak bank) membuat barang yang dipesan oleh nasabah.

  • Ijarah (Operational Lease)

Perjanjian sewa yang memberikan kepada penyewa untuk memanfaatkan barang yang akan disewa dengan imbalan uang sewa sesuai dengan persetujuan dan setelah masa sewanya berakhir maka barang dikembalikan kepada pemilik, namun penyewa juga dapat memiliki barang yang disewa dengan pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain.

 

Adapun prinsip produk-produk syariah dalam penyelenggaraan jasa-jasa perbankan :

  • Kafalah (Guaranty)

Akad pemberian garansi/jaminan oleh pihak bank kepada nasabah untuk menjamin pelaksanaan proyek dan pemenuhan kewajiban tertentu oleh pihak yang dijamin.

 

  • Wakalah (Deputyship)

Akad perwakilan antara kedua belah pihak (bank dan nasabah) dimana nasabah memberikan kuasa kepada bank untuk mewakili dirinya melakukan pekerjaan/jasa tertentu.

 

  • Hawalah (Transfer Service)

Akad pemindahan piutang nasabah kepada bank untuk membantu nasabah mendapatkan modal tunai agar dapat melanjutkan produksinya dan bank mendapat imbalan atas jasa pemindahan piutang tersebut.

 

 

 

 

  • Ar-Rahn (Mortgage)

Menahan salah satu harta milik nasabah yang memiliki nilai ekonomis sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya.

  • Al-Qardh (Soft and Benevolent Loan)

Pemberian harta kepada nasabah yang dapat ditagih atau diminta kembali atau dengan kata lain meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan.

 

  1. Kerangka Pemikiran

Dalam perkembangan konsep pemasaran dewasa ini, konsumen ditempatkan sebagai sentral perhatian. Para praktisi maupun akademisi berusaha mengkaji aspek-aspek konsumen dalam rangka mengembangkan strategi pemasaran yang diharapkan mampu meraih pangsa pasar yang tersedia. Setidaknya ada dua alasan mengapa perilaku konsumen perlu dipahami. Pertama, dengan memahami konsumen akan menuntun pemasar pada kebijakan pemasaran yang tepat dan efisien. Kedua, diharapkan dengan berorientasi kepada konsumen, pemasar dapat melakukan strategi yang jitu dalam mensiasati kelebihan penawaran daripada permintaan di dunia bisnis. Dengan demikian, perilaku atau tindakan konsumen di masa mendatang akan dapat diprediksi.

Semakin meningkatnya persaingan bisnis mendorong produsen untuk lebih berorientasi pada konsumen atau pelanggan. Untuk mendukung upaya tersebut diperlukan pengetahuan mengenai konsumen terutama mengenai perilakunya. Tidak terkecuali halnya pada industri perbankan nasional. Tahun 1998, saat terjadi puncak krisis ekonomi di Indonesia, umat Islam mendapatkan ‘kado’ istimewa berupa UU Nomor 10 tahun 1998 tentang Perbankan. UU itu memberikan legitimasi bagi bank syariah untuk beroperasi di Indonesia. UU tersebut menegaskan bahwa sistem perbankan di Indonesia menganut dual banking system, yakni sistem konvensional dan syariah.
Lembaga keuangan syariah memiliki peranan yang sangat strategis dalam perekonomian nasional. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa sistem bunga bertentangan dengan syariah Islam dan melahirkan ketidakadilan akibat penyerahan resiko usaha hanya kepada salah satu pihak. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim dan mencermati kegagalan sistem perbankan berdasarkan bunga, optimalisasi peranan dan keberadaan bank syariah merupakan suatu keharusan. Seiring dengan diberlakukannya UU No. 10 tahun 1998, terlihat perkembangan dari industri lembaga keuangan syariah yang cukup signifikan.

Menurut Antonio dan Perwataatmadja (1997 : 1), Bank Syariah (Bank Islam) adalah (1) Bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam; (2) Bank yang tata cara beroperasinya mengacu pada ketentuan-ketentuan Al-Qur’an dan Hadits; Sementara bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip syariah Islam adalah bank yang beroperasinya itu mengikuti ketentuan-ketentuan syariah Islam, khususnya yang menyangkut tata cara bermuamalat secara Islam.

Schiffman dan Kanuk (2004:8) mengemukakan bahwa “Studi perilaku konsumen adalah suatu studi mengenai bagaimana seorang individu membuat keputusan untuk mengalokasikan sumber daya yang tersedia (waktu, uang, usaha, dan energi).”

 

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah :

  1. Faktor Budaya, yaitu meliputi budaya (penentu keinginan dan perilaku yang mendasar),sub-budaya (bangsa, agama, suku, daerah),dan kelas sosial.
  2. Faktor Sosial, perilaku seorang konsumen dipengaruhi faktor-faktor sosial seperti kelompok acuan, keluarga, peran dan status.
  3. Faktor Pribadi, merupakan faktor pribadi (usia, tahap siklus hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, gaya hidup, kepribadian dan konsep-diri pembeli).
  4. Faktor Psikologis, faktor psikologi utama yaitu motivasi, persepsi, pengetahuan, serta keyakinan dan pendirian.

(James F. Engel,1994:60)

    Setiap bagian dari faktor-faktor tersebut memiliki keterkaitan yang dapat mempengaruhi seseorang di dalam bersikap untuk memenuhi kebutuhannya, khususnya dalam pengambilan keputusan pembelian.

Perilaku konsumen pada hakekatnya untuk memahami “why do consumer do what they do”. Dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen adalah semua kegiatan, tindakan, serta proses psikologis yang mendorong tindakan tersebut pada saat sebelum membeli, ketika membeli, menggunakan, menghabiskan produk dan jasa setelah melakukan hal-hal tersebut atau kegiatan mengevaluasi.

Selain itu Schiffman dan Kanuk (2004:8) mengemukakan perilaku konsumen sebagai perilaku yang diperlihatkan konsumen dalam pencarian, pembelian, penggunaan, evaluasi dan pengaturan dari produk, jasa dan gagasan yang diharapkan akan memuaskan kebutuhannya. Perilaku merupakan tindakan-tindakan yang dilakukan seseorang dalam rangka bereaksi terhadap rangsangan atau stimulus yang mungkin datang dari dalam maupun luar dirinya.

Faktor psikologis akan mempengaruhi proses pengambilan keputusan konsumen, yaitu mengenai apa yang dibutuhkan atau diinginkan, perhatian terhadap berbagai pilihan produk, pencarian informasi, dan evaluasi mereka diantara berbagai alternatif yang tersedia.

Pengetahuan konsumen tentang informasi perbankan syariah akan memberi dampak terhadap perilaku konsumen. Perilaku konsumen meliputi aktivitas bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli, memakai, dan membuang barang, jasa, gagasan atau pengalaman dalam rangka memuaskan kebutuhan dan hasrat mereka, jadi perilaku konsumen merupakan rangkaian keputusan-keputusan yang diambil konsumen terhadap suatu produk.

Menurut Berman dan Evans (1998:216) keputusan konsumen meliputi keputusan untuk menentukan apakah akan membeli, apa yang dibeli, dimana, kapan, dari siapa, dan seberapa sering membeli barang atau jasa. Perilaku pembelian konsumen dibentuk karakteristik individu yang terdiri dari budaya, sosial, pribadi dan psikologis. Dalam hal ini unsur pengetahuan termasuk kedalam faktor psikologis.

Dengan mengetahui pentingnya pengetahuan konsumen tentang perbankan syariah, Bank Syariah Mandiri diharapkan dapat mengetahui dengan cara apa perusahaan dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan nasabah.

    Proses pengambilan keputusan konsumen dapat dilihat melalui tiga bagian yang saling berkaitan, yaitu tahap input, tahap proses, dan tahap output melalui model pengambilan keputusan konsumen pada gambar sebagai berikut:

     External Influence

Input    

    
Consumer Decision Making

 


Postdecision Behavior

 

        

        Sumber : Kanuk, 2000, Consumer Behavior, hal 554

 

                    Gambar 2.2

        Model Pengambilan Keputusan Pembelian Konsumen

 

 

Proses keputusan konsumen dalam membeli dan mengkonsumsi produk dan jasa akan dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu : (a). Kegiatan pemasaran yang dilakukan perusahaan; (b). Faktor perbedaan individu konsumen; (c). Faktor lingkungan konsumen (Howard and Sheth Model:1969, dikutip oleh Ujang Sumarwan).

    Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah faktor psikologis yang termasuk di dalamnya yaitu faktor pengetahuan konsumen. Mowen and Minor (1998:106) mendefinisikannya sebagai “The amount of experience with and information about particular produts or services a person has”.

Mowen dan Minor (1998:106) membagi pengetahuan konsumen menjadi tiga kategori : (1). Pengetahuan Objektif (Objective knowledge), (2). Pengetahuan Subjektif (Subjective knowledge), dan (3). Informasi mengenai pengetahuan lainnya.

Peter dan Olson (1996 : 86) juga membagi pengatahuan menjadi tiga jenis pengetahuan produk yaitu : (1). Pengetahuan tentang karakteristik atau atribut produk (Products as Bundles of Attributes) (2). Pengetahuan tentang manfaat produk (Products as Bundles of Benefits) dan (3). Pengetahuan tentang nilai/kepuasan yang diberikan oleh produk/jasa bagi konsumen (Products as Values Satisfiers).

Sumber : Peter and Olson, 1996

Gambar 2.3

A Means-End Chain of Consumers’ Product Knowledge

Pengetahuan konsumen terdiri dari informasi yang disimpan di dalam ingatan. Pemasar khususnya tertarik untuk mengetahui pengetahuan konsumen. Informasi yang dipegang oleh konsumen mengenai produk akan sangat mempengaruhi pola konsumsi. Analisis kesadaran dan citra sangat berguna untuk menjajaki sifat pengetahuan produk. Pemasar juga harus mempertimbangkan pengetahuan pembelian berkenaan dengan kepercayaan yang dipegang oleh konsumen mengenai di mana dan kapan pembelian harus terjadi. Pengetahuan konsumen adalah bidang lain yang patut dipertimbangkan. Perluasan pengetahuan seperti ini dapat menjadi jalan yang berarti untuk meningkatkan penjualan (James F. Engel).

    Para pemasar berkewajiban untuk memahami konsumen, mengetahui apa yang dibutuhkannya, apa seleranya, dan bagaimana ia mengambil keputusan. Sehingga pemasar dapat memproduksi barang dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Pemahaman yang mendalam mengenai konsumen akan memungkinkan pemasar dapat mempengaruhi keputusan konsumen, sehingga mau membeli apa yang ditawarkan pemasar.

    Menurut kotler (2000:192), keputusan pembelian konsumen akan melewati 5 tahap yaitu :

 

Sumber: Philip Kotler, 2000

         Gambar 2.4

Lima Tahap Proses Pembelian Konsumen

 

 

Jadi, pengetahuan konsumen akan mempengaruhi keputusan pembelian. Ketika konsumen memiliki pengetahuan yang lebih banyak, maka ia akan lebih baik dalam mengambil keputusan. Ia akan lebih efisien dan lebih tepat dalam mengolah informasi serta mampu merecall informasi dengan lebih baik.

Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang bank syariah menjadi isu strategis dalam pengembangan bank syariah di masa yang akan datang. Semakin baik pengetahuan tentang bank syariah semakin tinggi kemungkinan untuk mengadopsi bank syariah. Sebagian besar masyarakat yang mengadopsi bank syariah masih dominan dipengaruhi oleh emosi keagamaan belum berdasarkan pada pemahaman rasional yang baik.

Dengan demikian, bank-bank syariah mempunyai pekerjaan rumah yang besar untuk mengubah persepsi yang kurang tepat dalam benak masyarakat. Dan cara yang paling jitu adalah dengan membuktikan di lapangan apa sebenarnya bank syariah, bukan sekadar adu konsep di atas kertas.

Uraian diatas dapat dituangkan kedalam paradigma penelitian pada gambar dibawah ini


 

Gambar 2.5

Paradigma Penelitian

 

Keterangan :

Variabel yang diteliti

 

 

  1. Hipotesis

Berdasarkan uraian identifikasi masalah dan kerangka pemikiran yang telah dikemukakan, maka penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut    “Pengetahun konsumen mengenai perbankan syariah memiliki pengaruh positif terhadap keputusan menjadi nasabah pada PT Bank Syariah Mandiri Tbk”