HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

  1. Gambaran Umum (Profil) Bank Syariah Mandiri
    1. Kronologis Perkembangan Bank Syariah Mandiri

    Krisis moneter dan ekonomi sejak Juli 1997, yang disusul dengan krisis politik nasional telah membawa dampak besar dalam perekonomian nasional. Krisis tersebut telah mengakibatkan perbankan Indonesia yang didominasi oleh bank-bank konvensional mengalami kesulitan yang sangat parah. Keadaan tersebut menyebabkan pemerintah Indonesia terpaksa mengambil tindakan untuk merestrukturisasi dan merekapitalisasi sebagian bank-bank di Indonesia.

    Lahirnya Undang-Undang No. 10 tahun 1998, tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan, pada bulan November 1998 telah memberi peluang yang sangat baik bagi tumbuhnya bank-bank syariah di Indonesia. Undang-Undang tersebut memungkinkan bank beroperasi sepenuhnya secara syariah atau dengan membuka cabang khusus syariah.

    PT. Bank Susila Bakti (PT. Bank Susila Bakti) yang dimiliki oleh Yayasan Kesejahteraan Pegawai (YKP) PT. Bank Dagang Negara dan PT. Mahkota Prestasi berupaya keluar dari krisis 1997 – 1999 dengan berbagai cara. Mulai dari langkah-langkah menuju merger sampai pada akhirnya memilih konversi menjadi bank syariah dengan suntikan modal dari pemilik.

    Dengan terjadinya merger empat bank (Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, BankExim dan Bapindo) ke dalam PT. Bank Mandiri (Persero) pada tanggal 31 Juli 1999, rencana perubahan PT. Bank Susila Bakti menjadi bank syariah (dengan nama Bank Syariah Sakinah) diambil alih oleh PT. Bank Mandiri (Persero).

    PT. Bank Mandiri (Persero) selaku pemilik baru mendukung sepenuhnya dan melanjutkan rencana perubahan PT. Bank Susila Bakti menjadi bank syariah, sejalan dengan keinginan PT. Bank Mandiri (Persero) untuk membentuk unit syariah. Langkah awal dengan merubah Anggaran Dasar tentang nama PT. Bank Susila Bakti menjadi PT. Bank Syariah Sakinah berdasarkan Akta Notaris : Ny. Machrani M.S. SH, No. 29 pada tanggal 19 Mei 1999. Kemudian melalui Akta No. 23 tanggal 8 September 1999 Notaris : Sutjipto, SH nama PT. Bank Syariah Sakinah Mandiri diubah menjadi PT. Bank Syariah Mandiri.

    Pada tanggal 25 Oktober 1999, Bank Indonesia melalui Surat Keputusan Gubernur Bank Indonesia No. 1/24/KEP. BI/1999 telah memberikan ijin perubahan kegiatan usaha konvensional menjadi kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah kepada PT. Bank Susila Bakti. Selanjutnya dengan Surat Keputusan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia No. 1/1/KEP.DGS/1999 tanggal 25 Oktober 1999, Bank Indonesia telah menyetujui perubahaan nama PT. Bank Susila Bakti menjadi PT. Bank Syariah Mandiri.

    Senin tanggal 25 Rajab 1420 H atau tanggal 1 November 1999 merupakan hari pertama beroperasinya PT. Bank Syariah Mandiri. Kelahiran Bank Syariah Mandiri merupakan buah usaha bersama dari para perintis bank syariah di PT. Bank Susila Bakti dan Manajemen PT. Bank Mandiri yang memandang pentingnya kehadiran bank syariah dilingkungan PT. Bank Mandiri (Persero).

    PT Bank Syariah Mandiri berkantor pusat di Gedung Bank Syariah Mandiri yang terletak di Jl. MH.Thamrin No.5 Jakarta 10340; Telp. (021)2300509; Fax. (021)2303747; Homepage:www.syariahmandiri.co.id. Bank Syariah Mandiri didirikan pada tanggal 25 Oktober 1999 dengan dukungan sekitar 959 karyawan. Pada saat itu terkumpul modal dasar sebesar Rp 1.000.000.000.000,00 serta modal yang disetor Rp 358.372.565.000,00.

    Bank Syariah Mandiri kini beroperasi dengan 30 buah kantor cabang, enam diantaranya berada di Jakarta serta sisanya tersebar di beberapa kota besar di tanah air, dan 4 kantor cabang pembantu. Selain itu, terdapat pula 30 kantor kas dan 1300 jaringan ATM bersama di seluruh Indonesia sebagai hasil kerjasama Bank Syariah Mandiri dengan Bank Mandiri (Persero).

    Bank Syariah Mandiri berdiri dan mulai beroperasi pada saat kondisi perekonomian dan perbankan kurang kondusif. Meskipun demikian, perusahaan tetap mampu bertahan dan melaksanakan kegiatan operasionalnya termasuk menyalurkan modal bagi para pengusaha dengan baik. Selain itu, kegiatan-kegiatan social pun kerap dilakukannya dalam bentuk kegiatan donor darah, pemberian sumbangan, sponsorship kegiatan ilmiah dan lainnya.Walaupun usianya masih tergolong muda, Bank Syariah Mandiri telah mencapai prestasi dan kinerja yang cukup membagakan. Peningkatan ini tercermin dari keberhasilan perusahaan menjadi peringkat ke-49 dari 150 bank terbaik di Indonesia berdasarkan rating majalah Infobank 2001.

    PT. Bank Syariah Mandiri hadir sebagai bank yang mengkombinasikan idealisme usaha dengan nilai-nilai rohani yang melandasi operasinya. Harmoni antara idealisme usaha dan nilai-nilai rohani inilah yang menjadi salah satu keunggulan PT. Bank Syariah Mandiri sebagai alternatif jasa perbankan di Indonesia.

  1. Visi, Misi, Prinsip, dan Budaya Perusahaan
  • Visi

        Menjadi Bank Syariah Terpercaya Pilihan Mitra Usaha

  • Misi
    • Menciptakan suasana pasar perbankan syariah agar dapat berkembang dengan mendorong terciptanya syarikat dagang yang terkoordinasi dengan baik
    • Mencapai pertumbuhan dan keuntungan yang berkesinambungan melalui sinergi dengan mitra strategis agar menjadi bank syariah terkemuka di Indonesia yang mampu meningkatkan nilai bagi para pemegang saham dan memberikan kemaslahatan bagi masyarakat luas
    • Mempekerjakan pegawai yang profesional dan sepenuhnya mengerti operasional perbankan syariah
    • Menunjukkan komitmen terhadap standar kinerja operasional perbankan dengan pemanfaatan teknologi mutakhir, serta memegang teguh prinsip keadilan, keterbukaan dan kehati-hatian
    • Mengutamakan mobilisasi pendanaan dari golongan masyarakat menengah dan ritel, memperbesar portofolio pembiayaan untuk skala menengah dan kecil, senta mendorong tenwujudnya manajemen zakat, infak dan shadaqah yang lebih efektif sebagai cerminan kepedulian sosial
    • Meningkatkan permodalan sendiri dengan mengundang perbankan lain, segenap lapisan masyarakat dan investor asing.
  • Prinsip Syariah

    Prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang sesuai dengan syariah.

    Bank Syariah adalah Bank Umum yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. (UU No. 10 tahun 1998 tentang Perubahan UU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan).

    • Prinsip Operasi Bank Syariah

Bank Syariah menganut prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Prinsip_Keadilan
    Prinsip ini tercermin dari penerapan imbalan atas dasar bagi hasil dan pengambilan margin keuntungan yang disepakati bersama antara Bank dan Nasabah.
  2. Prinsip_Kemitraan
    Bank Syariah menempatkan nasabah penyimpanan dana, nasabah pengguna dana, maupun Bank pada kedudukan yang sama dan sederajat dengan mitra usaha. Hal ini tercermin dalam hak, kewajiban, resiko dan keuntungan yang berimbang di antara nasabah penyimpan dana, nasabah pengguna dana maupun Bank. Dalam hal ini bank berfungsi sebagai intermediary institution lewat skim-skim pembiayaan yang dimilikinya.
  3. Prinsip_Keterbukaan
    Melalui laporan keuangan bank yang terbuka secara berkesinambungan, nasabah dapat mengetahui tingkat keamanan dana dan kualitas manajemen bank.
  4. Univeralitas
    Bank dalam mendukung operasionalnya tidak membeda-bedakan suku, agama, ras dan golongan agama dalam masyarakat dengan prinsip Islam sebagai rahmatan lil’alamiin.
  • Budaya Perusahaan

    Bank Syariah Mandiri sebagai bank yang beroperasi atas dasar prinsip syariah Islam menetapkan budaya perusahaan yang mengacu kepada sikap akhlaqul karimah (budi pekerti mulia), yang terangkum dalam lima pilar yang disingkat SIFAT, yaitu :

    • Siddiq
      (Integritas)
      Menjaga Martabat dengan Integritas. Awali dengan niat dan hati tulus, berpikir jernih, bicara benar, sikap terpuji dan perilaku teladan.
    • Istiqomah (Konsistensi)
      Konsisten adalah Kunci Menuju Sukses. Pegang teguh komitmen, sikap optimis, pantang menyerah, kesabaran dan percaya diri.
    • Fathanah (Profesionalisme)
      Profesional adalah Gaya Kerja Kami. Semangat belajar berkelanjutan, cerdas, inovatif, terampil dan adil.
    • Amanah (Tanggung-jawab)
      Terpercaya karena Penuh Tanggung Jawab. Menjadi terpercaya, cepat tanggap, obyektif, akurat dan disiplin
    • Tabligh (Kepemimpinan)
      Kepemimpinan Berlandaskan Kasih-Sayang. Selalu transparan, membimbing, visioner, komunikatif dan memberdayakan.

4.1.3    Tujuan dan Strategi Perusahaan

Sesuai misinya menjadi bank syariah terpercaya pilihan mitra usaha, BSM bertekad untuk memberikan kemaslahatan bagi masyarakat luas dan turut serta meningkatkan kesejahteraan di atas landasan ekonomi syariah. Tekad tersebut ditegakkan di atas empat prinsip utama (keadilan, kemitraan, keterbukaan, dan universalitas).

Adapun maksud universalitas adalah tekad pelayanan pada seluruh golongan masyarakat di Indonesia, tanpa membedakan latar belakang suku, agama, dan ras. Hal itu, lanjutnya, selaras dengan keyakinan bahwa ajaran Islam adalah pembawa rahmat kepada seluruh alam.

Strategi yang digunakan Bank Syariah Mandiri adalah Aggressive Maintenance Strategy. Dalam peningkatan volume bisnis, sepanjang tahun keempat ini, PT Bank Syari’ah Mandiri terus melakukan perburuan nasabah baru melalui penyediaan beragam produk dan pelayanan, sosialisasi proaktif, promosi terarah, kegiatan pemasaran serta pelayanan yang lebih prima.

 

  1.     Struktur Organisasi Bank Syariah Mandiri


 

Gambar 4.1 Struktur Perusahaan Bank Syariah Mandiri Bandung

Sumber : Bank Syariah Mandiri Cabang Bandung Utama

 

 

  1.     Produk dan Jasa Bank Syariah Mandiri

Produk-produk bank syariah telah sesuai dengan prinsip dan kaidah muamalah Islam (halal) antara lain; tidak ada unsur riba dan menerapkan zakat harta. Dengan demikian nasabah merasakan ketentraman lahir maupun batin. Sepanjang tahun 2002, produk dan jasa pelayanan yang telah dipasarkan meliputi produk-produk pendanaan, pembiayaan, dan jasa-jasa layanan lainnya.

  • Pendanaan, meliputi kegiatan menghimpun dana :

    Tabungan : Tabungan yang dikelola berdasarkan prinsip Mudharabah Al-Muthlaqah. Dengan prinsip ini, dana nasabah diperlakukan sebagai investasi yang selanjutnya disalurkan untuk aktivitas pembiayaan. Bank memberikan keuntungan dari pembiayaan tersebut dalam bentuk bagi hasil.

    • Tabungan BSM
    • Tabungan BSM Dollar
    • Tabungan Mabrur BSM
    • Tabungan Kurban BSM
    • BSM Investa Cendekia

    Deposito : Deposito yang dikelola berdasarkan prinsip Mudharabah Al-Muthlaqah. Dengan prinsip ini, dana nasabah diperlakukan sebagai investasi yang selanjutnya disalurkan untuk aktivitas pembiayaan. Bank memberikan keuntungan dari pembiayaan tersebut dalam bentuk bagi hasil.

    • Deposito BSM
    • Deposito BSM Valas

    Giro : Giro yang dikelola berdasarkan prinsip Wadiah yad Adh-Dhamamah, dimana dana nasabah akan diperlakukan sebagai titipan yang keamanannya dijamin sepenuhnya oleh bank dan bank dapat memanfaatkan untuk aktivitas pembiayaan. Nasabah dapat memperoleh bonus sebagai imbalan atas kemitraannya dengan bank.

    • Giro BSM
    • Giro BSM Valas
    • Giro BSM Singapore Dollar
  • Pembiayaan, meliputi pembiayaan modal kerja, investasi, konsumsi, dan pinjaman kebajikan. Konsep (akad) yang digunakan adalah :
    • Gadai Emas BSM
    • Mudharabah BSM
    • Musyarakah BSM
    • Murabahah BSM
    • Talangan Haji BSM
    • Bai Al-Istishna BSM
    • Qardh
    • Ijarah Muntahiyah Bitamlik
    • Hawalah
    • Salam
  • Jasa

    Jasa produk :

    • Kartu/ATM BSM
    • BSM B-Payer
    • BSM SMS Banking
    • Jual beli Valuta Asing
    • Bank Garansi
    • BSM Electronic Payroll
    • SKBDN (Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri)
    • BSM Letter of Credit
    • BSM SUMCH (Saudi Umrah & Haji Card)

    Jasa Operasional :

    • Setoran Kliring
    • Inkaso
    • BSM Intercity Clearing
    • BSM RTGS (Real Time Gross Settlement)
    • Transfer Dalam Kota (LLG)
    • Transfer Valas BSM
    • Pajak Online BSM
    • Pajal Import BSM
    • Referensi Bank
    • Standing Order

 

  1. Karakteristik Nasabah

            Dalam penelitian ini telah dilaksanakan penyebaran kuesioner kepada 100 orang nasabah Bank Syariah Mandiri. Penyebaran kuesioner dilakukan pada nasabah di kantor Bank Syariah Mandiri Cabang Bandung di Jalan Ir. H. Djuanda No. 74. Waktu penyebaran kuesioner berlangsung pada bulan Mei 2005.

    Dari hasilnya dapat diketahui karakteristik para konsumen agar dapat menggambarkan segmentasi dari para konsumen. Informasi ini dapat menjadi masukan bagi Bank Syariah Mandiri Cabang Bandung dalam memperkirakan kebutuhan dan keinginan yang sesuai dengan karakterisitik respondennya, karena setiap karakteristik responden secara umum memiliki kekhasan serta tuntutan/kebutuhan tersendiri.

Tabel 4.1

Pengelompokan Nasabah Berdasarkan Jenis Kelamin

 

Jenis Kelamin 

Frekuensi 

Persentase 

Pria 

56

56

Wanita 

44

44

Total 

100

100% 

     Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

    

    Tabel 4.1 memperlihatkan sebagian besar nasabah yang diteliti berjenis kelamin pria dimana perbedaan diantara keduanya hanya terpaut 12 %. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa baik pria maupun wanita memiliki kebutuhan yang relative sama terhadap lembaga keuangan. Adapun mayoritas persentase pria didapat karena pengambilan sample dilakukan dengan simple random sampling. Hal tersebut dapat terjadi juga dengan pertimbangan pria memiliki bertanggung jawab atas kesejahteraan dan masa depan keluarga. Di lain pihak, wanita memiliki kecenderungan bersikap konsumtif.

 

Tabel 4.2

Pengelompokan Nasabah Berdasarkan Usia

 

Usia

Frekuensi 

Persentase 

< 17 tahun

0

0

17-25 tahun

64

64

26-35 tahun

24

24

36-45 tahun

9

9

> 45 tahun

3

3

Total 

100

100% 

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas responden Bank Syariah Mandiri Cabang Bandung tergolong usia produktif. Memasuki usia tersebut seorang individu dituntut untuk memikirkan masa depan dan tujuan hidup dengan lebih terfokus sehingga mereka akan lebih cermat dalam mengatur alokasi keuangan.

 

Tabel 4.3

Pengelompokan Nasabah Berdasarkan Pendidikan Formal

 

Pendidikan Formal

Frekuensi 

Persentase

SD/Sederajat

0

0

SMP/Sederajat

0

0

SMU/Sederajat

36

36

Diploma/Sarjana

58

58

Magister (S2)

6

6

Doktoral (S3)

0

0

Total 

100

100% 

     Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Sebagian besar nasabah yang diteliti berlatar belakang pendidikan yang cukup tinggi. Bahkan lebih dari setengah sample yang diperoleh berpendidikan formal akhir Diploma/Sarjana. Kondisi pendidikan ini berpengaruh terhadap pola pikir dan perilaku serta pengetahuan nasabah. Pendidikan yang tinggi membuka peluang bagi responden untuk menjadi nasabah berdasarkan motivasi kesadaran akan urgensi perbankan syariah bagi kepentingan duniawi dan akhirat mereka.    

 

 

 

 

 

 

Tabel 4.4

Pengelompokan Nasabah Berdasarkan Pekerjaan

 

Pekerjaan

Frekuensi 

Persentase 

Pelajar/Mahasiswa

55

55

Wiraswasta

15

15

Pegawai Negeri/Swasta

20

20

Profesional

4

4

Pensiunan

0

0

Lain-lain

6

6

Total 

100

100% 

     Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Sebesar 55 % nasabah berprofesi sebagai mahasiswa. Dimana seorang mahasiswa biasanya telah memiliki kemandirian dan kedewasaan berpikir. Terlebih bahwa sebagian mahasiswa kota Bandung merupakan penduduk musiman yang menetap sementara di Bandung sehingga mengharuskan mereka untuk lebih bijak dalam mengatur pengeluaran. Hal ini mendorong mereka untuk menggunakan jasa perbankan sebagai solusi alternative untuk memudahkan lalu lintas pembayaran.

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 4.5

Pengelompokan Nasabah Berdasarkan Penghasilan/Bulan

 

Penghasilan/Bulan

Frekuensi 

Persentase 

< Rp 500.000

36

36

Rp 501.000 – Rp 1.000.000

25

25

Rp 1.001.000 – Rp 1.500.000

14

14

Rp 1.501.000 – Rp 2.000.000

8

8

Rp 2.001.000 – Rp 2.500.000

6

6

> Rp 2.500.000

11

11

Total 

100

100% 

     Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Rata-rata pendapatan perbulan responden berkisar < Rp 500.000 dan Rp 501.000 – Rp 1.000.000. Hal ini dapat dipandang bahwa mayoritas nasabah tergolong berpenghasilan menengah ke bawah. Informasi ini diperlukan bagi pihak bank guna merumuskan produk atau layanan perbankan yang sesuai dengan tingkat penghasilan target pasarnya.

 

Tabel 4.6

Pengelompokan Nasabah Berdasarkan Sumber Informasi

 

Sumber Informasi

Frekuensi 

Persentase 

Keluarga/Teman

27

27

Media elektronik

6

6

Brosur/Pamflet/Buku

18

18

Lain-lain

9

9

Total 

100

100% 

        Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Sebesar 27 % nasabah mendapatkan informasi mengenai keberadaan perusahaan dan produk yang ditawarkannya berasal dari keluarga atau kerabat. Hal ini menggambarkan adanya word of mouth sebagaimana salah satu karakter konsumen bahwasanya mereka kerap menerima opini dari orang lain. Dalam kaitannya dengan kategori produk berupa jasa perbankan, nasabah akan lebih berhati-hati dalam menentukan pilihannya mengingat resikonya yang cukup tinggi. Untuk menambah keyakinan atas keamanan dananya, nasabah akan mencari informasi dari pihak terpercaya yang pernah memanfaatkan atau mengetahui informasi mengenai produk perbankan syariah.

 

Tabel 4.7

Pengelompokan Nasabah Berdasarkan Lamanya Menjadi Nasabah

 

Lamanya Menjadi Nasabah

Frekuensi 

Persentase 

< 1 tahun

46

46

1-3 tahun

33

33

3-5 tahun

17

17

> 5 tahun

4

4

Total 

100

100% 

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Sebagian besar responden adalah nasabah yang baru, karena mereka baru sekitar kurang dari satu tahun (46 %) menjadi nasabah Bank Syariah Mandiri. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan Bank Syariah Mandiri mengalami kemajuan beberapa tahun terakhir ini terlebih pasca fatwa MUI yang menimbulkan banyak pro dan kontra seputar diharamkannya bunga bank. Tabel di atas juga memperlihatkan 33 % responden telah menjadi nasabah selama 1-3 tahun, dan selebihnya di atas 3 dan 5 tahun. Waktu yang cukup lama bagi konsumen perbankan untuk mempertahankan statusnya sebagai nasabah. Angka tersebut dapat menggambarkan loyalitas nasabah terhadap tingkat kepercayaan maupun kualitas pelayanan yang diberikan Bank Syariah Mandiri.

 

Tabel 4.8

Pengelompokan Nasabah Berdasarkan Statusnya

Sebagai Nasabah di Bank lain

 

 

Menjadi Nasabah

di Bank lain

Frekuensi 

Persentase 

Tidak

11

11

Ya

89

89

Total 

100

100% 

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Tabel di atas menunjukkan 89 % responden memiliki rekening tabungan di bank selain Bank Syariah Mandiri. Hal yang melatarbelakanginya antara lain karena adanya pertumbuhan sektor perbankan yang cepat disamping kemungkinan besar responden sudah terlebih dahulu menjadi nasabah bank lain. Selain itu, penyebab lainnya ialah masih terbatasnya jaringan pelayanan Bank Syariah Mandiri yang pada saat ini masih terkonsentrasi pada beberapa kota besar di Indonesia.

 

 

 

 

  1.     Pengetahuan Konsumen Mengenai Perbankan Syariah dan Keputusannya Menjadi Nasabah Bank Syariah Mandiri Cabang Bandung

 

 

Tabel 4.9

Pengetahuan Konsumen Mengenai Keragaman Produk

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

2

2

Sangat

Menentukan Keputusan

19

19

Mengetahui 

29

29

Menentukan Keputusan

32

32

Kurang Mengetahui

60

60

Kurang

Menentukan Keputusan

36

36

Tidak

Mengetahui

9

9

Tidak

Menentukan Keputusan

3

3

Sangat

Tidak Mengetahui

0

0

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

0

0

Total 

100

100

Total 

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Tabel 4.9 menunjukkan 60 % responden menyatakan “kurang mengetahui” mengenai keragaman produk dan jasa Bank Syariah Mandiri, dalam artian mereka tidak memahami secara jelas variasi produk perbankan yang meliputi produk pendanaan, pembiayaan, dan jasa perbankan disertai dengan prinsip-prinsip syariah yang menjadi landasan operasionalnya, bahkan 9 % diantaranya menyatakan “tidak mengetahui”. Namun disisi lain 29 % responden menyatakan “mengetahui” hanya 2 % responden yang tergolong “sangat mengetahui”. Hal ini sangat dimaklumi karena memang pada kenyataannya banyak sebagian masyarakat termasuk nasabah bank syariah itu sendiri yang belum paham mengenai mekanisme operasionalisasi bank syariah. Mereka hanya sebatas mengetahui dari sisi kehalalannya terbebas dari riba.

    Produk-produk yang ada di BSM seperti yang telah dijelaskan pada bagian gambaran umum Bank Syariah Mandiri mengenai produk dan jasa yang terdapat pada BSM cukup memenuhi kebutuhan nasabah. Produk yang tersedia mulai dari giro Syariah Mandiri, tabungan Syariah Mandiri, tabungan Deposito sampai dengan tabungan Haji semua tersedia dengan prinsip yang sudah ditetapkan oleh pihak Bank. Selain itu juga BSM menyediakan produk pembiayaan serta produk-produk jasa perbankan seperti transfer, kliring, pembayaran telpon.

    Berdasarkan tabel di atas, konsumen menjadikan variabel pengetahuan keragaman produk ini sebagai faktor yang “kurang menentukan” keputusannya untuk menjadi nasabah dengan persentase sebesar 36 %. 32 % lainnya menyatakan “menentukan” dan 19 % “sangat menentukan” keputusannya.

    Keragaman produk yang dimiliki Bank Syariah Mandiri akan memberikan alternatif kepada nasabah memilih variasi produk yang sesuai kebutuhan dan keinginan nasabah. Selain itu perusahaan juga dituntut untuk melakukan ekspansi dalam menciptakan inovasi produk yang bisa menyaingi produk-produk pada bank konvensional.

 

 

 

 

Tabel 4.10

Pengetahuan Konsumen Mengenai Kualitas Produk

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah 

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

3

3

Sangat

Menentukan Keputusan

25

25

Mengetahui 

27

27

Menentukan Keputusan

46

46

Kurang Mengetahui

54

54

Kurang

Menentukan Keputusan

26

26

Tidak

Mengetahui

16

16

Tidak

Menentukan Keputusan

3

3

Sangat

Tidak Mengetahui

0

0

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

0

0

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Tabel di atas memperlihatkan bahwa lebih dari setengah nasabah dari total sampel responden yakni sebesar 54 % menyatakan “kurang mengetahui”. Selain itu, 27 % “mengetahui” dan 16 % menjawab “tidak mengetahui” mengenai kualitas dari produk yang ditawarkan Bank Syariah Mandiri. Adapun kualitas tersebut dapat diukur dari keunggulan bank syariah dibanding dengan bank konvensional sebagai berikut :

Bank Syariah

  • Investasi dan penghimpunan dana yang halal saja
  • Berdasarkan prinsip bagi hasil, jual beli atau sewa
  • Profit dan falah oriented
  • Hubungan dengan nasabah dalam bentuk kemitraan
  • Penghimpunan dan penyaluran sesuai dengan fatwa Dewan Syariah Nasional (non operational) dan Dewan Pengawas Syariah (operational)
  • Bank Syariah memberi keuntungan kepada deposan dengan pendekatan LDR (Loan to Deposit Ratio) yaitu mempertimbangkan rasio antara dana pihak ketiga dengan pembiayaan yang diberikan.
  • Dalam perbankan syariah LDR bukan saja mencerminkan keseimbangan tetapi juga keadilan, karena bank benar-benar membagikan hasil riil dari dunia usaha (loan) kepada penabung (deposit).

Bank Konvensional

  • Investasi yang halal dan haram
  • Memakai perangkat bunga
  • Profit oriented
  • Hubungan dengan nasabah adalah hubungan debitor-kreditor
  • Tidak terdapat dewan sejenis
  • Semua bunga yang diberikan kepada deposan menjadi beban biaya langsung.
  • Tanpa memperhitungkan berapa pendapatan yang dapat dihasilkan dari dana yang dihimpun.
  • Konsekuensinya, bank harus menambahi bila bunga dari peminjam ternyata lebih kecil dibandingkan dengan kewajiban bunga kepada deposan. Hal ini terkenal dengan istilah negative
    spread

    
 

    Dari sisi keputusan konsumen ternyata mayoritas nasabah menjadikan variabel kualitas produk sebagai faktor yang “menentukan” keputusannya untuk menjadi nasabah yakni sebesar 46 %, disamping 26 % “kurang menentukan’ dan 25 % “sangat menentukan” keputusan. Hal ini menggambarkan bahwa walaupun nasabah mayoritas kurang mengetahui mengenai kualitas produk Bank Syariah Mandiri namun mereka menjadikan variabel ini sebagai salah satu faktor penentu keputusannya.

 

Tabel 4.11

Pengetahuan Konsumen Mengenai Kehandalan Prinsip Bagi Hasil

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah 

Frekuensi 

%

Frekuensi

%

Sangat Mengetahui 

11

11

Sangat

Menentukan Keputusan

39

39

Mengetahui 

42

42

Menentukan Keputusan

39

39

Kurang Mengetahui

33

33

Kurang

Menentukan Keputusan

22

22

Tidak

Mengetahui

13

13

Tidak

Menentukan Keputusan

0

0

Sangat

Tidak Mengetahui

1

1

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

0

0

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

 

    Tabel 4.11 menunjukkan 42 % responden “mengetahui”, dan 33 % menyatakan “kurang mengetahui” kehandalan bagi hasil. Adapun kehandalan prinsip bagi hasil dapat didefinisikan sebagai berikut :

 

Bunga 

Bagi Hasil 

  1. Penentuan bunga dibuat pada waktu akad dengan asumsi harus selalu untung

a. Penentuan besarnya rasio/ nisbah bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi

  1. Besarnya presentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan

b. Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada keuntungan yang diperoleh

  1. Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi

c. Bagi hasil bergantung pada keuntungan proyek yang dijalankan. Bila usaha merugi, kerugian ditanggung bersama oleh kedua pihak

  1. Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan berlipat atau keadaan ekonomi sedang booming

d. Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan.  

  1. Eksistensi bunga diragukan (kalau tidak dikecam) oleh semua agama termasuk Islam

e. Tidak ada yang meragukan keabsahan bagi hasil.

 

    Sistem bagi hasil merupakan suatu konsep dimana pembagian kuntungan yang akan diterima oleh nasabah sangat tergantung pada keuntungan ataupun kerugian yang diperoleh bank dan besarnya simpanan dana nasabah. Semakin besar keuntungan yang diperoleh bank syariah maka semakin besar keuntungan yang akan diterima nasabahnya. Konsep bagi hasil akan lebih menjamin keadilan antara pihak bank dengan nasabah serta adanya kemungkinan bagi nasabah memperoleh keuntungan yang lebih besar dari tingkat suku bunga bank.

    Dilihat dari sisi pengambilan keputusan terdapat komposisi yang berimbang antara nasabah yang menyatakan “sangat menentukan” dan “menentukan” keputusannya untuk menjadi nasabah Bank Syariah Mandiri dengan komposisi 39 % dari total responden. Hal ini terjadi karena bagi hasil merupakan komponen utama yang memotivasi seseorang dalam memilih jasa perbankan syariah karena dari sinilah bermuara landasan syariah dan yang membedakan secara jelas (eksplisit) dengan perbankan konvensional.

 

 

Tabel 4.12

Pengetahuan Konsumen Mengenai Ciri Khas Islami

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah 

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

21

21

Sangat

Menentukan Keputusan

70

70

Mengetahui 

61

61

Menentukan Keputusan

22

22

Kurang Mengetahui

17

17

Kurang

Menentukan Keputusan

7

7

Tidak

Mengetahui

1

1

Tidak

Menentukan Keputusan

1

1

Sangat

Tidak Mengetahui

0

0

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

0

0

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Tabel 4.12 memperlihatkan 61 % responden “mengetahui” dan 21 % “sangat mengetahui” ciri khas Islami yang melekat sebagai salah satu karakter Bank Syariah Mandiri. Nasabah dinilai mengetahui nuansa Islami yang meliputi tampilan fisik maupun tampilan non fisik sebagai salah satu bentuk layanan yang diberikan oleh pihak bank.

Bank Syariah Mandiri sebagai bank yang menjalankan operasionalnya berdasarkan prinsip syariah berusaha untuk menerapkan nuansa Islami dalam segala kegiatannya termasuk dalam tampilan fisik bank seperti interior ruangan yang bernuansa Islami (pemasangan kaligrafi), busana yang dikenakan karyawannya (karyawan wanita diharuskan memakai jilbab), tersedianya buletin keislaman sebagai bahan bacaan pengunjung, terlebih fasilitas musholla yang merupakan kebutuhan primer bagi seorang muslim. Perusahaan harus memperhatikan atribut ini mengingat mayoritas nasabah beragama Islam dan memerlukan fasilitas umum yang bersih dan nyaman untuk melaksanakan shalat lima waktu dengan baik. Ciri khas Islami lainnya dapat dilihat dari tampilan non fisik perusahaan seperti budaya yang ditanamkan Bank Syariah Mandiri, akad yang dilakukan dalam bertransaksi.

Hal ini disamping untuk menerapkan ajaran Islam secara keseluruhan dalam kehidupan sehari-hari juga untuk meyakinkan dan menanamkan kepercayaan kepada masyarakat bahwa Bank Syariah mandiri berusaha sedapat mungkin menerapkan ajaran atau syariah Islam dalam segala aktivitasnya.

Sebesar 70 % responden menyatakan variabel ini elemen yang “sangat menentukan” keputusan menjadi nasabah karena memang atmosfer perusahaan inilah yang menjadi daya tarik tersendiri jika dibandingkan dengan bank konvensional. Melihat perolehan persentase ini, Bank Syariah Mandiri dinilai telah cukup baik menanamkan image perusahaan sebagai suatu bank yang tidak hanya menjalankan operasional berdasarkan prinsip syariah tetapi juga memperlihatkannya dalam bentuk tampilan lahiriah dan penuansaan non fisik. Perusahaan juga harus terus mempertahankan aspek ini guna merebut pangsa pasar bank syariah.

 

Tabel 4.13

Pengetahuan Konsumen Mengenai Kemudahan

Prosedur Pembukaan Rekening & Proses Transaksi

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui

14

14

Sangat

Menentukan Keputusan

21

21

Mengetahui 

53

53

Menentukan Keputusan

46

46

Kurang Mengetahui

26

26

Kurang

Menentukan Keputusan

28

28

Tidak

Mengetahui

7

7

Tidak

Menentukan Keputusan

5

5

Sangat

Tidak Mengetahui

0

0

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

0

0

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Penelitian menunjukkan bahwa responden “mengetahui” prosedur pembukaan rekening dan proses transaksi sebesar 53 % khususnya transaksi yang terkait dengan nasabah pihak ketiga yakni penarikan dan penyetoran tabungan yang terbilang mudah. 14 % nasabah menyatakan “sangat mengetahui” dan 26 % “kurang mengetahui” kemudahan prosedur pembukaan rekening dan proses transaksi. Persyaratan untuk menjadi nasabah Tabungan Bank Syariah Mandiri yaitu dengan menyerahkan fotokopi KTP/SIM/Paspor atau identitas diri lainnya, mengisi dan menandatangi formulir permohonan pembukaan rekening, dan menyerahkan setoran awal sebesar Rp 50.000,00. Begitupun dengan proses transaksi berupa penyetoran dan penarikan tabungan dapat dilakukan setiap jam kerja di kantor Bank Syariah Mandiri, setiap transaksi disertai slip yang telah disediakan oleh pihak bank nasabah tinggal mengisi lembaran tersebut dan langsung menyerahkan kepada teller.     

    Pengetahuan akan kemudahan mekanisme pembukaan rekening dan proses transaksi semakin dibutuhkan karena konsumen di era modern kini terbiasa dengan segala hal yang serba instant, cepat, dan praktis. Dengan kemudahan tersebut, nasabah dapat menghemat waktu dan tenaganya untuk mengerjakan aktivitas lain. Hal ini penting mengingat mayoritas nasabah Bank Syariah Mandiri berprofesi sebagai mahasiswa dan sebagian adalah pegawai yang pada umumnya memiliki mobilitas yang tinggi.

    Penilaian keputusan konsumen menunjukkan 46 % “menentukan” dan 28 % “kurang menentukan” keputusannya menjadi nasabah. Sehingga factor kemudahan prosedur pembukaan transaksi dan proses transaksi ini harus terus diupayakan perusahaan agar tidak hanya dapat berjalan efektif namun juga efisien.

 

 

 

 

 

 

Tabel 4.14

Pengetahuan Konsumen Mengenai Ketersediaan Sarana & Prasarana

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah 

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

2

2

Sangat

Menentukan Keputusan

27

27

Mengetahui 

39

39

Menentukan Keputusan

51

51

Kurang Mengetahui

48

48

Kurang

Menentukan Keputusan

20

20

Tidak

Mengetahui

11

11

Tidak

Menentukan Keputusan

2

2

Sangat

Tidak Mengetahui

0

0

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

0

0

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    

    Tabel 4.14 memperlihatkan 48 % responden menyatakan ” kurang mengetahui” dan 39 % diantaranya “mengetahui” akan ketersediaan sarana dan prasarana Bank Syariah Mandiri. Fasilitas fisik adalah segala fasilitas yang terdapat di bank yang dapat menciptakan suatu lingkungan dan suasana yang mendukung terjadinya pembelian produk Bank Syariah Mandiri dan juga membangun citra perusahaan, meliputi lokasi bank yang mudah dijangkau, penataan ruangan, musholla, kamar kecil, tersedianya ruang tunggu termasuk tempat duduk yang memadai, fasilitas parkir, fasilitas ATM dan sebagainya.

    Melihat fakta mayoritas responden kurang mengetahui keberadaan dan atau ketersediaan sarana maupun prasarana yang ada, maka perusahaan selayaknya lebih menggencarkan publisitas guna memberikan informasi mengenai fasilitas yang tersedia. Selain itu perusahaan sebaiknya memperbanyak jaringan pelayanan dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan nasabah.

    Seiring dengan pengetahuan yang dimiliki konsumen 51 % responden mengungkapkan variable tersebut sebagai hal yang “menentukan” keputusan konsumen. Sarana dan prasana merupakan elemen yang sangat menunjang dalam operasionalisasi suatu bank. Dengan sarana dan prasarana yang memadai akan mampu meningkatkan kinerja bank dalam memberikan pelayanan kepada nasabah.

 

Tabel 4.15

Pengetahuan Konsumen Mengenai Kredibilitas/Reputasi BSM

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

12

12

Sangat

Menentukan Keputusan

41

41

Mengetahui 

52

52

Menentukan Keputusan

40

40

Kurang Mengetahui

31

31

Kurang

Menentukan Keputusan

18

18

Tidak

Mengetahui

4

4

Tidak

Menentukan Keputusan

1

1

Sangat

Tidak Mengetahui

1

1

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

0

0

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

 

Pengetahuan konsumen terhadap kredibilitas/reputasi Bank Syariah Mandiri dinilai baik dilihat dari 52 % responden menjawab “mengetahui”,12 % dan “sangat mengetahui”. Disamping itu sebesar 31 % nasabah menyatakan “kurang mengetahui” kredibilitas/reputasi perusahaan. Kredibilitas/reputasi bank syariah dapat dilihat dari performanya sebagai suatu badan usaha yang menjalankan aktivitas pada sektor jasa perbankan khususnya perbankan syariah. Selama ini Bank Syariah Mandiri tergolong ke dalam kategori bank sehat dan bank syariah dengan akselerasi pertumbuhan pangsa pasar yang pesat. Pengetahuan ini bisa jadi tidak didapatkan melalui media formal secara langsung namun sesuai dengan karakter responden bahwa sebagian besar informasi mengenai perusahaan diperoleh dari keluarga/kerabat sehingga dapat pula dikatakan bahwa kepercayaan yang dimiliki nasabah disebabkan karena faktor dorongan orang terdekat yang merekomendasikan Bank Syariah Mandiri sebagai pilihan bagi konsumen untuk menyimpan dananya.

Terlihat 41 % responden menyatakan “sangat menentukan” dan 40 % “menentukan” keputusan bagi konsumen untuk menjadi nasabah. Reputasi perusahaan merupakan faktor yang sangat penting untuk dipertimbangkan nasabah dalam mengevaluasi alternatif lembaga perbankan. Terlebih karena jasa perbankan memiliki resiko yang besar maka faktor kepercayaan sangat berperan. Reputasi bank yang baik menjadi kunci untuk memenangkan persaingan dan membentuk citra yang baik di mata konsumen.

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 4.16

Pengetahuan Konsumen Mengenai Jaminan Keamanan Dana

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

11

11

Sangat

Menentukan Keputusan

43

43

Mengetahui 

52

52

Menentukan Keputusan

39

39

Kurang Mengetahui

34

34

Kurang

Menentukan Keputusan

17

17

Tidak

Mengetahui

3

3

Tidak

Menentukan Keputusan

1

1

Sangat

Tidak Mengetahui

0

0

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

0

0

Total 

100

100

Total 

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

 

Tabel 4.16 menunjukkan 52 % responden “mengetahui” adanya jaminan keamanan yang diberikan olah pihak bank. Begitu juga dari sisi pengambilan keputusan nasabah menyatakan hal ini sebagai variabel yang “sangat menentukan” keputusannya 43 %. Hal ini logis mengingat produk perbankan mendatangkan resiko baik menyangkut keamanan diri dan dana serta kerahasiaan jaminan keamanan membuat nasabah nyaman dan bebas dari keraguan untuk bertransaksi dengan Bank Syariah Mandiri. Selain itu, nasabah juga merasakan keamanan yang lebih ketika menabung pada Bank Syariah Mandiri dikarenakan adanya struktur DPS (Dewan Pengawas Syariah) yang berfungsi mengarahkan operasional bank syariah sesuai prinsip syariah. Sehingga pengawasan terhadap bank syariah dilakukan dari dua aspek yaitu aspek operasional dan aspek syariah.

Penilaian yang diberikan responden dapat dimaknai bahwa kinerja keamanan pada tabungan dan sistem syariah yang ditawarkan Bank Syariah Mandiri baik jika kita melihat korelasi dari sisi pengetahuan konsumen dengan keputusan yang diambilnya. Hal ini bisa terjadi dikarenakan nasabah sangat percaya akan sistem syariah yang ditawarkan perusahaan. Dengan label Syariahnya, Bank Syariah Mandiri bisa menjanjikan kepada nasabahnya bahwa keamanan produk tabungan dan sistem syariah yang dijalankan dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan.

 

 

Tabel 4.17

Pengetahuan Konsumen Mengenai Ketersediaan Sarana Informasi

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah 

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

4

4

Sangat

Menentukan Keputusan

28

28

Mengetahui 

36

36

Menentukan Keputusan

44

44

Kurang Mengetahui

51

51

Kurang

Menentukan Keputusan

28

28

Tidak

Mengetahui

9

9

Tidak

Menentukan Keputusan

0

0

Sangat

Tidak Mengetahui

0

0

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

0

0

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

Hasil penelitian menunjukkan 51 % responden “kurang mengetahui” ketersediaan sarana informasi. Di sisi lain, 36 % lainnya menjawab “mengetahui” sarana informasi yang disediakan pihak bank. Sarana informasi tersebut meliputi media informasi mengenai produk, khususnya sebagai alat pendukung transaksi seperti : brosur dan buletin mengenai produk-produk Bank Syariah Mandiri, nisbah, bagi hasil, nilai tukar rupiah (kurs), serta ketersediaan formulir transaksi.

44 % nasabah menjadikan hal tersebut sebagai faktor yang “menentukan” dan komposisi yang sama yakni sebesar 28 % menyatakan “sangat menentukan” dan “kurang menentukan” keputusan menjadi nasabah. Sarana informasi merupakan faktor yang harus diperhitungkan sebagai salah satu media yang efektif untuk memberikan kejelasan khususnya mengenai produk yang ditawarkan perusahaan sekaligus sebagai berfungsi sebagai sarana edukasi bagi konsumen perbankan. Melihat mayoritas persentase di atas, dalam penyampaian informasi, Bank Syariah Mandiri diupayakan terus berusaha agar nasabahnya memperoleh kemudahan dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 4.18

Pengetahuan Bahwa Bank Syariah Turut Mewujudkan

Kesejahteraan, Kesetaraan, & Keadilan Ekonomi

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan

Menjadi Nasabah

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

22

22

Sangat

Menentukan Keputusan

35

35

Mengetahui 

47

47

Menentukan Keputusan

36

36

Kurang Mengetahui

24

24

Kurang

Menentukan Keputusan

21

21

Tidak

Mengetahui

6

6

Tidak

Menentukan Keputusan

7

7

Sangat

Tidak Mengetahui

1

1

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

1

1

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

 

    Tabel 4.18 memperlihatkan 47 % responden menjawab “mengetahui” dan 22 % “sangat mengetahui” pengetahuan akan manfaat produk bank syariah dalam mewujudkan kesejahteraan, kesetaraan, dan keadilan ekonomi. Hasil ini mengindikasikan bahwa nasabah telah merasakan adanya manfaat dari tingkat kesejahteraan yang menguntungkan, kesetaraan yang memposisikan pihak nasabah dan pihak bank sebagai hubungan kemitraan, dan keadilan ekonomi dilihat dari prinsip bagi hasil yang melandasi kegiatan perusahaan. Selain itu, 24 % responden menyatakan “kurang mengetahui”, 6 % “tidak mengetahui” dan 1 % “sangat tidak mengetahui” mengenai manfaat produk ini. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya dorongan bagi sebagian nasabah bank syariah yang menabung dengan motif religius semata.

    Dari sisi pengambilan keputusan, responden menjawab sebesar 36 % “menentukan” keputusan 35 % “sangat menentukan” keputusannya menjadi nasabah Bank Syariah Mandiri. Angka ini menunjukkan bahwa manfaat dari sisi keadilan, kesetaraan, maupun kesejahteraan ekonomi diyakini sebagai suatu aspek yang akan memberikan dampak positif bagi nasabah sehingga faktor ini turut menjadi pertimbangan dalam menentukan keputusannya menjadi nasabah pada bank syariah.

 

Tabel 4.19

Pengetahuan Bahwa Bank Syariah Terbukti Mampu

Memberdayakan Sektor Riil

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah 

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

11

11

Sangat

Menentukan Keputusan

29

29

Mengetahui 

40

40

Menentukan Keputusan

29

29

Kurang Mengetahui

33

33

Kurang

Menentukan Keputusan

29

29

Tidak

Mengetahui

14

14

Tidak

Menentukan Keputusan

12

12

Sangat

Tidak Mengetahui

2

2

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

1

1

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

 

    Tabel 4.19 memperlihatkan mayoritas responden 40 % menyatakan “mengetahui” bahwa bank syariah terbukti mampu memberdayakan sektor riil. Ini dikarenakan bank syariah khususnya Bank Syariah Mandiri dengan slogannya ‘Menjadi Bank Syariah Terpercaya Pilihan Mitra Usaha’ senantiasa berperan aktif dalam membantu laju perkembangan sektor dunia usaha dimana dalam hal ini secara konsisten menitikberatkan pada pertumbuhan Usaha Kecil Menengah yang merupakan potensi terbesar dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Disamping itu, sebesar 33 % lainnya menyatakan “kurang mengetahui”. Dari sisi pengambilan keputusan menunjukkan sebaran nilai yang sama antara bobot penilaian “sangat menentukan’ sampai dengan “kurang menentukan” keputusan menjadi nasabah yaitu sebesar 29 %.

    Keterkaitan pertumbuhan sektor riil dengan sektor perbankan dicerminkan dengan tidak terdapatnya negative spread. Dalam hal ini pendapatan bagi hasil bank akan sangat dipengaruhi oleh keadaan sektor riil.

 

 

Tabel 4.20

Pengetahuan Bahwa Bank Syariah Memberikan Return Yang Lebih Baik

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah 

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

11

11

Sangat

Menentukan Keputusan

21

21

Mengetahui 

43

43

Menentukan Keputusan

41

41

Kurang Mengetahui

34

34

Kurang

Menentukan Keputusan

30

31

Tidak

Mengetahui

11

11

Tidak

Menentukan Keputusan

8

8

Sangat

Tidak Mengetahui

1

1

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

0

0

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

 

    Tabel 4.20 menunjukkan 43 % “mengetahui” bahwa bank syariah dapat memberikan return (bagi hasil) yang lebih baik. Penekanan baik disini adalah dari segi keadilan dan kebarokahannya. Sistem bagi hasil merupakan suatu konsep dimana pembagian keuntungan yang akan diterima oleh nasabah tergantung pada keuntungan ataupun kerugian yang diperoleh bank dan besarnya simpanan dana nasabahnya. Semakin besar keuntungan yang diperoleh bank syariah maka akan semakin besar pula keuntungan yang diterima nasabah. Konsep bagi hasil ini menjamin keadilan antara pihak bank dengan nasabah serta adanya kemungkinan bagi nasabah memperoleh keuntungan yang lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku.

    Hasil penelitian di atas juga menunjukkan 41 % responden memilih variabel ini sebagai komponen yang “menentukan” keputusan menjadi nasabah. Perusahaan dituntut untuk dapat memberikan return yang lebih besar untuk memenuhi keinginan konsumen. Menjadi hal yang wajar bagi nasabah sebagai investor untuk mendapat kompensasi dari dana yang ditanamkan dan memprioritaskannya. Meskipun memilih perbankan syariah dengan motivasi untuk menghindari riba/bunga, nasabah tetap mengharapkan tingkat bagi hasil yang sama atau melebihi tingkat bunga di bank konvensional.

 

 

 

 

 

Tabel 4.21

Pengetahuan Bahwa Bank Syariah Berperan Mendorong

Pemerataan Pendapatan

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah 

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

13

13

Sangat

Menentukan Keputusan

22

22

Mengetahui 

32

32

Menentukan Keputusan

30

30

Kurang Mengetahui

39

39

Kurang

Menentukan Keputusan

32

32

Tidak

Mengetahui

13

13

Tidak

Menentukan Keputusan

13

13

Sangat

Tidak Mengetahui

3

3

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

3

3

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

    

    Hasil penelitian memperlihatkan 39 % responden menyatakan “kurang mengetahui” manfaat bank syariah yang berperan dalam mendorong pemerataan pendapatan. Dalam artian bank bukan hanya berfungsi mengumpulkan dana pihak ketiga, namun dapat mengumpulkan dana zakat, infak, dan shodaqoh. Dana ZIS dapat disalurkan melalui pembiayaan kebajikan (qordul hasan) sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pengambilan keputusan yang diambil konsumen mayoritas berada dalam bobot penilaian “kurang menentukan” keputusan menjadi nasabah sebesar 32 %, disamping 30 % menyatakan “menentukan keputusan” bahkan 22 % responden menjawab “sangat menentukan keputusan” menjadi nasabah. Hasil ini menggambarkan bahwa ternyata keputusan konsumen juga didorong oleh faktor kepentingan sosial dimana pertimbangan pemerataan pendapatan menjadi variabel yang menentukan keputusan konsumen menjadi nasabah bank syariah.

        

 

Tabel 4.22

Pengetahuan Bahwa Bank Syariah Mendorong Kegiatan Investasi & Mencegah Terjadinya Simpanan yang Tidak Produktif

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah 

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

15

15

Sangat

Menentukan Keputusan

23

23

Mengetahui 

35

35

Menentukan Keputusan

36

36

Kurang Mengetahui

34

34

Kurang

Menentukan Keputusan

28

28

Tidak

Mengetahui

14

14

Tidak

Menentukan Keputusan

12

12

Sangat

Tidak Mengetahui

2

2

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

1

1

Total

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

Tabel 4.22 menunjukkan 35 % responden menjawab “mengetahui” akan manfaat produk bank syariah dalam mendorong kegiatan investasi dan mencegah terjadinya simpanan yang tidak produktif. Hal ini dikarenakan Islam melarang tindakan spekulatif dan sistem operasional yang diterapkan bank syariah sangat membuka peluang bagi siapapun yang berniat berinvestasi selama dalam koridor kebajikan.

    Mayoritas responden yakni sebesar 36 % menyatakan “menentukan” keputusan” menjadi nasabah. Bank Syariah Mandiri dituntut untuk meningkatkan kualitas produk, pelayanan, serta keuntungan ekonomis bagi nasabah guna meningkatkan pangsa pasar khususnya sebagai alternatif bagi kebutuhan investasi.    

Tabel 4.23

Pengetahuan Nilai Kepuasan Produk Terhadap Peningkatan Kesadaran Menumbuhkan Nilai-Nilai Islam

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah 

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

38

38

Sangat

Menentukan Keputusan

56

56

Mengetahui 

47

47

Menentukan Keputusan

27

27

Kurang Mengetahui

11

11

Kurang

Menentukan Keputusan

13

13

Tidak

Mengetahui

2

2

Tidak

Menentukan Keputusan

2

2

Sangat

Tidak Mengetahui

2

2

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

2

2

Total 

100

100

Total

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

 

    Tabel 4.23 menunjukkan 47 % responden menjawab “mengetahui” dan 38 % “sangat mengetahui” mengenai nilai kepuasan yang akan diperoleh dari penggunaan produk bank syariah. Mereka mengetahui bahwa dengan menjadi nasabah pada bank syariah akan meningkatkan kesadaran dalam menumbuhkan nilai-nilai Islam. Sebagaimana diketahui bahwa Islam sebagai agama yang menyeluruh dan universal, mengatur dengan sempurna tata cara kehidupan meliputi seluruh sendi kehidupan, termasuk aspek ekonomi Islam. Salah satu sarana dalam mengimplementasikan ekonomi berbasis syariah ini adalah melalui lembaga keuangan diantaranya perbankan syariah.

    Di sisi lain, 27 % responden menyatakan “menentukan” dan 56 % “sangat menentukan” keputusan menjadi nasabah. Hasil penelitian ini memperlihatkan ketika nilai religius diusung ternyata mayoritas responden menjadikan variabel ini sebagai faktor yang cukup dominan untuk menabung di Bank Syariah Mandiri.

 

 

Tabel 4.24

Pengetahuan Nilai Kepuasan Produk Terhadap Ketenangan Lahir & Batin yang Dirasakan Konsumen

dan Keputusannya Menjadi Nasabah

 

Bobot Penilaian

Pengetahuan

Konsumen 

Bobot

Penilaian

Keputusan Menjadi Nasabah 

Frekuensi 

%

Frekuensi 

%

Sangat Mengetahui 

49

49

Sangat

Menentukan Keputusan

63

63

Mengetahui 

40

40

Menentukan Keputusan

22

22

Kurang Mengetahui

8

8

Kurang

Menentukan Keputusan

10

10

Tidak

Mengetahui

2

2

Tidak

Menentukan Keputusan

3

3

Sangat

Tidak Mengetahui

1

1

Sangat Tidak Menentukan Keputusan

2

2

Total 

100

100

 

100

100

Sumber : Data kuesioner yang telah diolah

 

    Hasil penelitian berdasarkan nilai kepuasan produk menunjukkan responden sebanyak 49 % menjawab “sangat mengetahui” dan 40 % “mengetahui” bahwa produk Bank Syariah Mandiri akan memberikan ketenangan lahir dan batin. Nasabah akan terhindar dari riba yang selama ini menjadi prokontra mengenai simpang siur keharaman bunga. Konsumen yang menggunakan jasa bank syariah karena pertimbangan nilai kepuasan ini biasanya termotivasi oleh faktor keyakinan (pious moslem). Konsumen menganggap bahwa dengan menggunakan jasa bank syariah dapat terhindar dari keragu-raguan tentang masalah halal-haram bunga bank dan kegiatan investasi dana yang dimiliki tidak ditempatkan pada kegiatan usaha yang non-halal dan merusak moral, dimana pada bank konvensional tidak ada jaminan akan hal tersebut.

    Dilihat dari sisi pengambilan keputusan, responden sebesar 63 % menyatakan variabel ini “sangat menentukan” keputusannya menjadi nasabah. Karena pada dasarnya unsur bunga merupakan hal yang amat dihindari nasabah sehingga logis kiranya nasabah mengutamakan faktor kehalalan dan keberkahan sebagai penentu keputusannya. Persentase ini sekaligus menjadi refleksi bahwa unsur tersebut merupakan variabel yang signifikan yang memotivasi seseorang untuk menabung di Bank Syariah Mandiri.

 

  1.         Pengaruh Pengetahuan Konsumen Terhadap Keputusan     Menjadi Nasabah Bank Syariah Mandiri Cabang Bandung

 

 

Uji Asumsi Regresi Multiple

 

  • Pengujian Normalitas

Dalam regresi linear disturbance error atau variabel gangguan (ei) berdistribusi secara normal atau acak untuk setiap nilai Xi, mengikuti distribusi normal disekitar rata-rata. Grafik tersebut menunjukkan bahwa data (titik-titik) menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal. Dengan demikian dapat disimpulkan model regresi memenuhi asumsi normalitas. Selengkapnya grafik tersebut dapat dilihat pada gambar (lihat lampiran).

  • Pengujian Heterokedastisitas

Dengan menggunakan program SPSS versi 11.5 untuk mendeteksi adanya heterokedastisitas digunakan grafik scatterplot variabel dependen, grafik tersebut dapat di lihat pada gambar (lihat lampiran). Berdasarkan gambar tersebut telihat titik-titik menyebar secara acak, tidak membentuk suatu pola tertentu, serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka nol pada sumbuh Y hal ini berarti tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi.

  • Pengujian Multikolinieritas

Cara untuk mengetahui ada tidaknya gejala multikolinieritas salah satunya dengan melihat besarnya nilai toleransi value atau VIF. Apabila nilai VIF lebih kecil dari 0,10 atau lebih besar dari 10 maka terjadi multikolinieritas, sebaliknya tidak terjadi multikolinieritas antar variable independent apabila nilai VIP berada pada kisaran 0,10 sampai 10. Hasil perhitungan menunjukkan angka VIP dari ketiga variable X bernilai 1,309, 1,458 dan 1,295 yang berarti tidak terdapat multikolinieritas.    

Setelah asumsi Regresi Multiple terpenuhi selanjutnya dapat dilakukan perhitungan dan pengujian untuk mengukur pengaruh antar variable yang diteliti.

    

Perhitungan Regresi Multiple

    Berdasarkan jawaban yang diperoleh dari 100 responden yang merupakan nasabah dana pihak ketiga Bank Syariah Mandiri, dilakukan analisis dengan menggunakan metode regresi multiple antara pengetahuan konsumen dengan keputusan menjadi nasabah. Pengolahan data dilakukan dengan bantuan SPSS for windows versi 11.5. data yang digunakan dalam analisis ini disajikan dalam lampiran dengan rangkuman sebagai berikut :

 

 

Tabel 4.29

Perhitungan dan Pengujian Koefisien Regresi Multiple

 

Model 

R 

R Square 

Adjusted

R Square 

Std. Error of the Estimate 

Change Statistics 


 


 


 


 


 

R Square Change 

F Change 

df1 

df2 

Sig. F Change 

1 

.618(a) 

.382 

.363 

7.43062 

.382 

19.787 

3 

96 

.000 

 

a Predictors: (Constant), X3, X1, X2

b Dependent Variable: Y

 

    Sesuai dengan uraian pada bab III, maka pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah dan pengaruhnya terhadap keputusan menjadi nasabah dapat diketahui dengan menghitung nilai koefisien regresi multiple. Perhitungan ini menghasilkan koefisien korelasi antara kedua variabel tersebut sebesar 0,618 atau 61,8 %. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa antara variable pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah dengan variabel keputusan konsumen menjadi nasabah terdapat hubungan yang erat dan sifatnya positif atau searah. Peningkatan atas pengetahuan konsumen secara keseluruhan akan meningkatkan pula keputusan konsumen terhadap perusahaan.

 

 

 

Pengujian Hipotesis Secara Keseluruhan

Nilai F digunakan untuk pengujian signifikansi koefisien regresi secara keseluruhan. Dengan signifikansi nilai F yang mendekati nol tersebut maka dapat dikatakan bahwa variabel independen yang terkait dengan koefisien regresi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen pengmbilan keputusan pembelian (Y) yang diteliti. Tabel Analysis of Variance tersebut diolah dengan software SPSS adalah sebagai berikut:

    

 

Tabel 4.30

ANOVA

 

 

Model 


 

Sum of Squares 

df 

Mean Square 

F 

Sig. 

1 

Regression 

3277.623 

3 

1092.541 

19.787 

.000(a) 

Residual 

5300.553

96 

55.214 


 


 


 

Total 

8578.176 

99 


 


 


 

a Predictors: (Constant), X3, X1, X2

b Dependent Variable: Y

 

 

Selanjutnya dilaksanakan uji keberartian koefisien korelasi multiple dengan hipotesis sebagai berikut :

Ho : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari variable X (Pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah) terhadap variable Y (Keputusan menjadi nasabah)

H1 : Terdapat pengaruh yang signifikan dari variable X (Pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah) terhadap variable Y (Keputusan menjadi nasabah)

 

 

Hipotesis Statistik
uji simultan :

Ho : Tidak terdapat pengaruh X1,X2,X3 terhadap Y

(Semua βi = 0)

H1 : Terdapat pengaruh X1,X2,X3 terhadap Y

(Sekurang-kurangnya ada sebuah βi ≠ 0)

Berdasarkan tabel Analysis of Variance diketahui bahwa model yang terbentuk mempunyai nilai F = 19,787 dengan signifikansi 0.000. Pengujian dengan membandingkan F tabel = 2,70 dengan a = 5 % (0,05) Dengan demikian diketahui bahwa Fhitung > Ftable. Oleh karena itu Ho ditolak. Oleh karena itu dapat disimpulkan dari uji ini bahwa secara bersama-sama (serempak) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara variabel pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah dan keputusannya menjadi nasabah.

 

Koefisien Determinasi

Berdasarkan hasil analisis regresi linear (linear regression)
yang terdapat dalam lampiran, koefisien determinasi (R2) merupakan koefisien yang dipergunakan untuk mengetahui besarnya kontribusi variabel independen terhadap perubahan variabel dependen.

    Dengan menggunakan rumus Adjusted R Square didapatkan koefisien determinasi yang telah disesuaikan antara kedua variabel tersebut sebesar 36,3 %. Artinya variabel keputusan menjadi nasabah dapat dijelaskan oleh variable pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah sebesar 36,3 % sedangkan sisanya dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diteliti. Dengan kata lain, kontribusi atau pengaruh variabel independent (pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah) terhadap variabel dependent (keputusan menjadi nasabah) adalah sebesar 36,3 % sedangkan sisanya 63,7 % dipengaruhi oleh variable lain.

    

4.5    Jenis Pengetahuan konsumen yang Paling Menentukan Keputusan Menjadi Nasabah Bank Syariah Mandiri Cabang Bandung

    

    Koefisien regresi parsial digunakan untuk menjawab rumusan masalah ketiga yaitu untuk menelusuri jenis pengetahuan konsumen yang paling berpengaruh terhadap keputusan menjadi nasabah. Perhitungan koefisien regresi parsial dan uji t untuk mengetahui keberartian pengaruh dari setiap variable dengan α 5 % dilakukan melalui aplikasi SPSS for windows versi 11.5

 

Tabel 4.31

Perhitungan dan Pengujian koefisien regresi parsial

    

Model 


 

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients 

t 

Sig. 


 


 

B 

Std. Error 

Beta 


 


 

1 

(Constant) 

30.388 

5.627 


 

5.400 

.000 


 

X1 

.110 

.175 

.058 

.628 

.531 


 

X2 

1.171 

.242 

.469 

4.838 

.000 


 

X3 

1.130 

.513 

.201 

2.204 

.030 

 

Pengujian Hipotesis Secara Individu    

Hipotesis statistik individu :

Ho : Tidak terdapat pengaruh X1 terhadapY; X2 terhadap Y; X3 terhadap Y

    (βi = 0)

 

H1 : Terdapat pengaruh X1 terhadapY; X2 terhadap Y; X3 terhadap Y

    (βi ≠ 0)

    Dari hasil uji t terhadap koefisien parsial di atas dapat disimpulkan bahwa jenis pengetahuan konsumen yang paling berpengaruh positif terhadap keputusan menjadi nasabah adalah variable X2

 

Tabel 4.32

Rangkuman Koefisien Regresi Parsial

 

Variabel Bebas

Koefisien

t

Sig.

Interpretasi

Pengaruh 

(Constant) 

30.388

5.400

0.000

 

X1 

0.110

0.628

0.531

Tidak signifikan  

X2 

1.171

4.838

0.000

Signifikan 

X3 

1.130

2.204

0.030

Signifikan

 

 

 

 

 

 

 

Komponen persamaan akhir hasil analisis multi regresi yang menyatakan hubungan antara variabel pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah terhadap variabel keputusan konsumen menjadi nasabah dinyatakan sebagai berikut:

Y=30,388 + 0,110X1 + 1,171X2 + 1,130X3

Untuk itu dari hasil perhitungan tersebut maka dapat diinterpretasikan sebagai berikut : berdasarkan persamaan tersebut terlihat bahwa paramater koefisien regresinya untuk variabel independent adalah positif, hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara pengetahuan konsumen terhadap keputusan konsumen sedemikian rupa, sehingga setiap terjadi peningkatan X akan diikuti pula oleh peningkatan Y. Dengan kata lain semakin konsumen memiliki pengetahuan yang baik atau tinggi mengenai perbankan syariah maka akan semakin mempengaruhi keputusannya menjadi nasabah dalam hal ini jumlah nasabah pada Bank Syariah Mandiri cabang Bandung akan mengalami peningkatan seiring bertambahnya consumer knowledge.

Engel, Blackwell dan Miniard (1994:60) berpendapat bahwa konsumen dapat dipengaruhi perilakunya menurut kehendak pihak yang berkepentingan. Dalam hal ini, konsumen dipengaruhi faktor internal yang menggerakkan dan mempengaruhi perilaku mereka. Salah satunya yaitu faktor pengetahuan yang sangat mungkin berbeda antar individu sehingga akan menghasilkan keputusan dan perilaku yang berbeda pula.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s